JPO di Jakarta Butuh Atap

JPO di Jakarta Butuh Atap
Pejalan kaki melintas di jembatan penyeberangan orang (JPO) yang tidak beratap di jalan Sudirman, Jakarta, Rabu (6/11/2019). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membongkar atap JPO tersebut bertujuan agar pejalan kaki dapat melihat pemandangan sisi lain dari Jakarta. ( Foto: ANTARA FOTO / M Risyal Hidayat )
Bhakti Hariani / BW Kamis, 14 November 2019 | 13:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Joga menuturkan, standar jembatan penyeberangan orang (JPO) harus mempunyai konstruksi yang kokoh, aman, dan ramah bagi semua pejalan kaki.

"Masalah terbuka atau tertutup atap JPO, untuk Jakarta yang panas dan tropis tentu dibutuhkan atap sebagai peneduh JPO. Tidak bisa terbuka semua, tetapi sedikit terbuka masih tidak apa, yang utama penyeberang tidak kepanasan atau kehujanan saat melintas di JPO," ujar Nirwono, Kamis (14/11/2019).

Menurut Nirwono, sebaiknya JPO memang ada atapnya untuk menyesuaikan musim dan cuaca di Jakarta. Kalau untuk melihat pemandangan kota, menurut Nirwono, tidak harus dari JPO. Dari trotoar pun bisa dilakukan.

Dia menyarankan agar Dinas Bina Marga DKI Jakarta menyampaikan berapa jumlah JPO di Jakarta, bagaimana kondisinya apakah masuk zona merah atau sudah rusak, hampir roboh dan mendesak diperbaiki. Atau masuk zona kuning di mana dinilai masih cukup baik atau masih bisa diperbaiki dan dipakai. Kemudian apakah masuk zona hijau di mana JPO masih dinilai akan dan layak pakai.

"Dengan keterbatasan anggaran maka daripada merevitalisasi JPO yang masih layak pakai maka lebih baik diutamakan anggaran tersebut untuk memperbaiki JPO yang sudah masuk kategori merah. Demi keselamatan pejalan kaki," tegas Nirwono.

Nirwono menegaskan, JPO memiliki fungsi utama untuk menyeberang jalan dan bukan untuk berswafoto. Apalagi sebentar lagi musim penghujan. Jika JPO tanpa penutup, maka diyakini tidak akan ada yang mau menyeberang di JPO terbuka. Demikian pun di saat kemarau, jika JPO tanpa penutup maka pengguna JPO akan kepanasan saat menyeberang.

"Sangat tidak logis menurut saya. Sejauh ini saya melihat, para pejabat Dinas Bina Marga juga tidak pernah menggunakan JPO sehingga tidak merasakan kepanasan atau kehujanan saat melintas di JPO," tutur Nirwono.

Pengamat tata kota Institut Teknologi Bandung (ITB) Jehansyah Siregar menuturkan, JPO terbuka atau tertutup sejatinya tidak perlu menjadi perdebatan. Kedua desain JPO baik terbuka atau tertutup juga ada di Jepang.

Berdasarkan pengalamannya, Jehansyah mengatakan, salah satunya terdapat di JPO Ueno di Jepang. JPO di sana terbuka dan tangganya sangat landai sehingga tidak curam untuk dinaiki. JPO nya pun lebar.

Jika sore hari, banyak orang menaiki JPO ini untuk menikmati pemandangan dari atas JPO terlebih dengan suhu angin semilir yang sejuk sehingga membuat nyaman para pengguna JPO.

Sedangkan di Indonesia, menurut Jehansyah, baik JPO terbuka atau tertutup kesemuanya harus ada. "Yang terbuka tanpa atap ada dan yang tertutup dengan atap juga ada. Ini tidak salah. Jangan jadi kontroversi. Itu masih masuk dalam site planning kok," ungkap Jehansyah.



Sumber: Suara Pembaruan