Penumpang LRT Berharap Sistem Tiket Lebih Praktis

Penumpang LRT Berharap Sistem Tiket Lebih Praktis
Suasana penumpang LRT Jakarta mencoba kartu uang elektronik untuk menggunakan transportasi LRT Jakarta di Stasiun Boulevard Utara, Kelapa Gading, Kota Jakarta Utara pada Minggu (1/12/2019) sore kemarin. (Foto: Suara Pembaruan / Carlos Roy Fajarta)
Carlos Roy Fajarta / FMB Senin, 2 Desember 2019 | 10:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sejak resmi beroperasi komersial Minggu, (1/12/2019) setiap penumpang moda transportasi Light Rail Transit (LRT) Jakarta dikenakan biaya tiket pemotongan saldo sebesar Rp 5.000 untuk satu kali perjalanan mulai dari Stasiun Depo Pegangsaan Dua hingga Stasiun Velodrome.

Sejumlah masukan dari pengguna dan penumpang LRT Jakarta disampaikan kepada reporter Beritasatu.com yang memantau langsung kondisi salah satu stasiun LRT Jakarta di Stasiun Boulevard Utara yang terpantau cukup ramai karena berada di samping salah satu pusat perbelanjaan.

Putri (35) warga Pulogadung, Jakarta Timur mengatakan dirinya sudah cukup sering mencoba LRT Jakarta untuk berpergian ke pusat perbelanjaan yang kebetulan berada di dekat salah satu stasiun LRT.

"Sistem kartunya ini masih menggunakan deposit, jadi jika kita kebetulan sedang tidak membawa uang elektronik, terpaksa membeli kartu LRT sebesar Rp 20.000 dengan isi saldo Rp 5.000, dan harus dikembalikan ke petugas tiket untuk mendapatkan refund sebesar Rp 15.000," ujar Putri kepada Beritasatu.com, Minggu (1/12) kemarin sore.

Ia berharap agar pihak LRT Jakarta membuatkan sistem kartu berlangganan layaknya kartu multi trip seperti yang sudah ditetapkan oleh KCI (PT Kereta Commuter Indonesia) untuk penumpang Kereta Rel Listrik (KRL).

Suteja (50) warga Tangerang yang hendak berkumpul bersama keluarga dan kerabatnya di pusat perbelanjaan dekat Stasiun LRT Jakarta mengaku dirinya sempat bingung ketika hendak mengecek saldo uang elektronik yang ia bawa.

"Tadi kakak saya bawa Flazz bisa dicek saldonya, tetapi ini pakai E-Money dan Brizzi kok tidak terbaca saldonya, mungkin alat pengecek saldonya yang ada di kaca loket petugas tiket perlu dicek lagi agar bisa berfungsi baik membaca semua kartu uang elektronik yang diterbitkan setiap bank," ujar Suteja.

Sementara itu, Imhar (40) warga perumahan Harapan Indah Bekasi menyebutkan dirinya terpaksa harus menunggu hampir sekitar lima menit untuk bisa melakukan refund dari 4 buah kartu STJ LRT Jakarta yang ia gunakan.

"Tidak praktis dan ribet sekali, seharusnya jika memang mau mengajak masyarakat untuk beralih ke moda transportasi ramah lingkungan sistemnya dibuat mudah praktis dan efisien. Masih perlu banyak pembenahan dari sistem dan integrasinya," tutur Imbar.

Menanggapi respon sejumlah pengguna LRT Jakarta di hari pertama komersial itu, Corporate Communication Manager, PT LRT Jakarta, Melisa Suciati mengatakan pihaknya akan menyempurnakan sistem pembayaran untuk lebih mempermudah penumpang.

"Karena masih hari pertama beroperasi komersial jadi kami harap para penumpang bisa terbiasa. Bagi pelanggan yang tidak mau repot silakan menggunakan kartu uang elektronik dan pastikan saldonya cukup," ujar Melisa, Senin (2/12/2019).

Ia menyebutkan untuk pengguna pengguna Kartu SJT sesuai sifatnya hanya untuk digunakan single trip. Pihaknya, kata Melisa sedang berproses mengeluarkan kartu multri trip yang bisa diisi ulang.

"Namun, untuk lebih mempermudah berintegrasi dengan Transjakarta sebaiknya menggunakan kartu uang elektronik yang sudah beredar di pasaran. Soal kendala beberapa kartu pelanggan tidak terbaca saldonya di alat reader kami kemungkinan permasalahan ada di kartu elektronik penumpangnya. Karena kemarin kita cek saldo untuk semua kartu elektronik bank bisa terbaca," tambah Melisa.

Terkait permintaan awak media mengenai jumlah penumpang di hari pertama beroperasi komersial pada Minggu (1/12/2019) kemarin pihak LRT Jakarta menolak permintaan data penumpang tersebut.

"Mas, maaf ya, keputusan management belum bisa merilis data karena akan dievaluasi berdasarkan jumlah hari selama 1 minggu kedepan. Akan kita rilis, berikut dengan analisanya," kata Melisa dalam pesan singkatnya. 



Sumber: Suara Pembaruan