Merayakan Natal Inklusif di Ibu Kota

Merayakan Natal Inklusif di Ibu Kota
Jakarta Christmas Festival yang diisi dengan banyak kegiatan hiburan dan bakti sosial dilaksanakan di Lapangan Banteng Jakarta. (Foto: Beritasatu Photo / Erwin C Sihombing)
Erwin C Sihombing / RSAT Kamis, 12 Desember 2019 | 10:34 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Puluhan penari berbaris lurus dari bibir panggung hingga ke pagar pembatas penonton. Mereka memperagakan koreografi dengan menyibak kostum seolah-olah bersayap. Di tengah guyuran hujan, para penari yang berasal dari kalangan remaja itu, terus bergerak mengikuti irama yang dipandu pemimpin pujian dari atas panggung.

Di sisi paling selatan Lapangan Banteng, ratusan masyarakat dari kalangan bawah mengantre menukar kupon sembako. Sebelum hujan turun, banyak dari mereka mengikuti pemeriksaan mata, dan mendapatkan kaca mata secara gratis.

Tidak sedikit pula pengunjung yang memenuhi "booth" makanan, minuman atau pakaian murah dari UMKM DKI.

Penggalan-penggalan peristiwa tersebut merupakan bagian kegiatan Jakarta Christmas Festival yang digelar di Lapangan Banteng, Jakpus, Kamis (12/12/2019).

Inisiatif mengadakan perayaan Natal untuk kali pertama di tempat terbuka di Jakarta datang dari semangat menebar damai Natal secara inklusif. Menjadikan Natal sebagai momentum untuk mempererat solidaritas terhadap sesama.

"Jakarta ini merupakan kota yang plural. Kami mau menunjukan bahwa Jakarta bisa damai. Karena itu kami mengangkat tema Festival Natal ini dengan cinta warga, cinta kota, dan pemerintah," kata ketua panitia, Pdt Yohanes Stefanus Tompodung.

Jakarta Chrismas Festival tidak hanya diisi dengan hiburan, tetapi juga dengan kegiatan bakti sosial. Sekitar 1.200 peserta, yang berasal dari berbagai kalangan, memeriahkan acara yang dimulai pukul 09.00 - 22.00 itu.

Pdt. Yohanes mengakui ingin menebar kasih Natal agar turut dirasakan banyak warga yang tidak merayakan. Konsep awalnya berupa kampung Natal. Belakangan menjadi festival budaya karena selain menyuguhkan nyanyian puji-pujian, terdapat pula hiburan tari, angklung, pertunjukan wushu, hingga vokal grup yang didatangkan langsung dari Papua.

"Kami datangkan langsung sekitar 10 orang dari Papua untuk menyanyikan "Indonesia Raya". Di Lapangan Banteng ada monumen pembebasan Irian Barat, aneh rasanya jika tidak ada unsur Papua yang terlibat. Sekaligus kami mau menunjukan bahwa kita semua di Jakarta bersaudara," ujarnya.

Jakarta Chrismas Festival diadakan atas kerja sama banyak pihak. Dari Bimas Kristen Kementerian Agama, gereja-gereja, dan Pemprov DKI. Pembentukan panitia yang kebanyakan relawan gereja dimulai sejak 11 November ketika izin dari DKI telah diterima.

Pdt. Yohanes tidak menyangka bahwa festival Natal yang diadakan mendapat banyak dukungan. Dia sendiri tidak bisa berekspektasi berapa dana yang terkucur untuk mendukung kegiatan itu karena semuanya berasal dari sumbangan.

"Kami hanya modal iman saja dalam mengadakan kegiatan ini. Panggung misalnya, ada yang menyumbang. Kami banyak mendapat dukungan moril," tuturnya.

Natal kali ini, lanjut Pdt. Yohanes, diharapkan bisa menghidupkan kasih terhadap sesama, "Kami tidak mau Natal hanya dirasakan umat Kristen karena kami mau mengajak kaum marjinal beribadah, bersuka cita bersama-sama," kata Pdt Yohanes.



Sumber: Suara Pembaruan