Pelaku Persekusi Anggota Banser Ditangkap

Pelaku Persekusi Anggota Banser Ditangkap
Kapolres Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Polisi Bastoni Purnama saat konferensi pers Sat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan. ( Foto: BeritaSatu Photo / Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / YUD Kamis, 12 Desember 2019 | 21:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Polres Metro Jakarta Selatan, menangkap tersangka HA (30), pelaku persekusi terhadap anggota Banser NU berinisial ES dan W, di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Motif pelaku melakukan tindakan intimidasi lantaran emosi sepeda motornya bersenggolan dengan korban di jalan.

"Sore ini, tadi jam 3 (15.00 WIB), kita berhasil menangkap pelaku dan mengamankannya, di kawasan Depok, Sawangan. Pelaku berinisial HA," ujar Kapolres Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Polisi Bastoni Purnama, di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Kamis (12/12/2019) malam.

Dikatakan Bastoni, berdasarkan keterangan pelaku, kronologi peristiwa persekusi itu bermula ketika pelaku dan korban berpapasan dan bersenggolan motornya dengan korban, ketika melintas dari arah Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Selasa (10/12/2019). Kemudian pelaku merasa kesal, membuntuti, dan menghentikan korban di Pondok Pinang. Selanjutnya, mengintimidasi serta mengancam korban.

"Motifnya ketika pelaku sama-sama dari arah Lebak Bulus, bersamaan dengan korban, kemudian pelaku mungkin sempat kepepet atau bersenggolan. Kemudian pelaku merasa kesal dan tersingung, pelaku mengejar korban, kemudian di daerah Pondok Pinang, pelaku menghentikan korban, kemudian terjadi peristiwa persekusi tersebut," ungkapnya.

Menyoal apakah pelaku memiliki rasa tidak suka dengan Banser NU, Bastoni menyampaikan, tidak ada. Tersangka melakukan tindakan persekusi itu atas dasar emosi di jalan.

"Tidak ada. Justru pelaku waktu bersenggolan itu karena melihat (korban mengenakan pakaian) loreng dikira tentara. Jadi pelaku sempat ada rasa takut. Tapi setelah dilihat ternyata bukan, makanya pelaku berani dan melakukan persekusi tersebut. Tidak ada motivasi lain," katanya.

Menurut Bastoni, pelaku tidak ada kaitannya dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) atau kelompok lainnya.

"Semata-mata pelaku melakukan itu karena sendiri, pribadi, tidak ada unusr yang lainnya. Pelaku melakukan sendiri, merekam sendiri menggunakan handphone," jelasnya.

Ihwal kenapa pelaku merekam peristiwa itu, Bastoni mengatakan, hanya ingin menunjukan kekesalannya. Kemudian, dishare ke grup WhatsApp sehingga viral di media sosial.

"Alasanya pelaku hanya ingin menunjukan saja kekesalannya kepada korban. Sempat di-share ke grupnya sendiri. Pelaku sempat ditegur sama anggota grupnya, dari grup makanya viral di medsos," katanya.

Bastoni menuturkan, pelaku dijerat Pasal 45A ayat 2 Juncto Pasal 28 dan atau Pasal 45 ayat 3 Juncto Pasal 27 ayat 3 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE, dan atau Pasal 335 KUHP, Pasal 310 KUHP, Pasal 311 KUHP. "Ancaman hukumannya 6 tahun penjara," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com