Banjir Landa 86% Kecamatan di Jakarta

Banjir Landa 86% Kecamatan di Jakarta
Petugas pemadam kebakaran mengevakuasi warga yang menjadi korban banjir di Jalan Samanhudi, Sawah Besar, Jakarta, Kamis 2 Januari 2020. (Foto: Antara)
Herman / Maria Fatima Bona / Lenny Tristia Tambun / Bhakti Hariani / Siprianus Edi Hardum / AB Kamis, 2 Januari 2020 | 16:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Hujan yang turun sejak Selasa (31/12/2019) hingga Rabu (1/1/2020) mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Banjir besar membuat puluhan ribu orang mengungsi dan sedikitnya 16 orang meninggal dunia.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI mencatat banjir melanda Jakarta di 158 kelurahan di 38 kecamatan atau sekitar 86 persen dari total 44 kecamatan di DKI Jakarta.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Ridwan mengatakan total pengungsi per 1 Januari 2020 mencapai 31.232 orang yang berada di 269 lokasi pengungsian.

“Sekarang pengungsinya sudah mencapai 31 ribuan lebih. Mereka sudah ditempatkan di lokasi pengungsian yang telah kami siapkan,” kata Ridwan di Jakarta, Kamis (2/1/2020).

Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta bersama jajaran pemerintah kota administrasi telah mendistribusikan bantuan makanan siap saji, karpet, selimut, popok, pembalut wanita, hingga makanan pokok, seperti beras, telur, minyak goreng, sarden, dan kecap. Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan posko penerimaan bantuan banjir DKI Jakarta di lima wilayah kota administrasi, sehingga masyarakat dapat turut menyumbangkan bantuan melalui posko tersebut.

Ekstrem
Curah hujan ekstrem sebesar 150 milimeter (mm) per hari yang turun cukup merata di wilayah DKI Jakarta sejak Selasa (31/12/2019) hingga Rabu (1/1), menjadi memicu banjir besar. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan 377 mm/hari di wilayah Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, merupakan rekor baru curah hujan tertinggi sepanjang ada pencatatan hujan di Jakarta dan sekitarnya sejak pengukuran pertama kali dilakukan pada 1866.

Deputi Bidang Klimatologi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Herizal, melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi, menyatakan berdasarkan pengkajian data historis curah hujan harian BMKG selama 150 tahun (1866 – 2015), terdapat kesesuaian tren antara semakin seringnya kejadian banjir signifikan di Jakarta dengan peningkatan intensitas curah hujan ekstrem tahunan sebagaimana terjadi pada Rabu (1/1/2020).

“Curah hujan ekstrem awal tahun 2020 ini merupakan salah satu kejadian hujan paling ekstrem selama ada pengukuran dan pencatatan curah hujan di Jakarta dan sekitarnya,” katanya.

Berdasarkan data 43 tahun terakhir, curah hujan harian tertinggi per tahun menunjukkan tren meningkat sekitar 10 mm sampai 20 mm per 10 tahun.

"Penyebab banjir di Jakarta sejatinya bukan hanya masalah curah hujan ekstrem dan fenomena meteorologis. Terdapat beberapa faktor lain, seperti besarnya limpasan air dari daerah hulu, berkurangnya waduk dan danau tempat penyimpanan air banjir, permasalahan menyempit dan mendangkalnya sungai akibat sedimentasi dan penuhnya sampah, rendaman rob akibat permukaan laut pasang, serta faktor penurunan tanah atau ground subsidence yang meningkatkan risiko genangan air. Namun, curah hujan ekstrem paling dominan sebagai penyebab banjir di Jakarta,” katanya.

Beberapa kejadian banjir besar di Jakarta yang terjadi pada 1918, 1979, 1996, 2002, 2007, 2013, 2014, dan 2015, selalu terkait curah hujan ekstrem selama satu sampai dua hari dan fenomena meteorologis yang membentuknya. Besaran dampak banjir yang ditimbulkan juga dapat dikaitkan dengan wilayah di mana curah hujan tinggi terkonsentrasi. "Intensitas curah hujan ekstrem berkontribusi 30 persen dari total curah hujan pada bulan tersebut," terangnya.

Siaga
Pada hari kedua banjir, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta seluruh jajarannya tetap siaga, karena banjir belum usai melanda Jakarta.

“Saya, Anies Baswedan menyampaikan pesan ini untuk seluruh jajaran Pemprov DKI Jakarta. Pertama, alhamdulillah kita sudah merasakan bahwa hujan sudah mulai mereda. air mulai surut, tetapi tantangan kita belum selesai. Mari kita terus siaga, tanggap dan galang. Tiga ini yang selalu saya sampaikan kepada seluruh jajaran saat kita memasuki musim penghujan,” kata Anies Baswedan dalam pesan suaranya, Kamis (2/1/2020).

Yang kedua, Anies menyampaikan terima kasih kepada seluruh petugas yang bekerja nonstop 24 jam. “Saudara-saudara memilih untuk berada di lapangan bekerja all out atas nama kita semua, saya sampaikan terima kasih dan apresiasi dan saya titip pesan dan sampaikan salam kepada organisasi-organisasi kemanusiaan kepada lembaga swadaya, masyarakat tokoh-tokoh, relawan yang Anda temui di lapangan yang membantu masyarakat, sampaikan kepada mereka terima kasih dan apresiasi dari kita semua,” ujar Anies Baswedan.

Yang ketiga, sambung Anies Baswedan, khusus untuk para lurah dan camat, pastikan bahwa warga di daerahnya, baik di kawasan yang masih terkena maupun yang sudah surut, kebutuhan dasar mereka sudah terpenuhi.

“Datangi semua. Jangan pasif, harus aktif. Tanyakan kebutuhan-kebutuhan mereka dan pastikan bahwa apa yang menjadi masalah terselesaikan sesegera mungkin. Hal-hal yang tampak sederhana harus segera diantisipasi mulai dari minuman, makanan obat-obatan, selimut umum itu semua harus dipastikan ada. Dan yang sudah surut dipastikan kebersihan segera terjaga. Pastikan semua petugas kita hadir. Kepada lurah dan camat harus ada koordinasi dengan tokoh masyarakat terutama di tempat pengungsian mandiri dan dapur umum mandiri,” ujarnya.

Ia juga meminta seluruh jajarannya merespons seluruh kebutuhan masyarakat dengan sikap dan tanggung jawab, meski bukan wilayah pekerjaan mereka. Sikap bertanggung jawab dibutuhkan sekali, karena jajaran Pemprov DKI merupakan wakil negara yang ada di depan masyarakat.

Terakhir, ungkap Anies Baswedan, pekerjaan masih banyak menanti. “Tanggung jawab dalam penanganan bencana ini baru dibilang tuntas, apabila semua banjir dan genangan sudah surut, serta semua jalan dan fasilitas publik sudah berfungsi. Apabila semua yang hari ini mengungsi sudah kembali ke rumah, bisa tidur dengan nyaman. Juga seluruh kegiatan masyarakat kembali seperti semula. Sampai dengan kondisi itu tercapai, kita kerja nonstop, all out, dan harus tuntas,” ucap Anies.

Mobil terseret banjir. (Foto: Joanito de Saojoao)

Semua Pihak
Secara terpisah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan penanganan bencana banjir bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat atau pemerintah daerah saja, tetapi harus melibatkan semua pihak, termasuk masyarakat.
“Ini harus dikerjakan bersama-sama. Pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, semuanya harus bekerja sama dalam menangani ini,” kata Jokowi seusai membuka perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/1/2020).

Menurutnya, musibah banjir tidak hanya disebabkan kerusakan ekosistem, juga ulah manusia yang tidak menjaga kebersihan. “Banjir ini ada yang disebabkan oleh kerusakan ekosistem, kerusakan ekologi yang ada, tetapi juga ada yang memang karena kesalahan kita yang membuang sampah ke mana-mana. Kita ingin kerja sama itu dibangun mulai dari pusat, provinsi, dan kabupaten/kota, sehingga semuanya bisa tertangani dengan baik,” kata Jokowi.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, melalui keterangan tertulis yang diterima SP, Kamis (2/1/2020), menyatakan untuk mengurangi air masuk ke Jakarta, pihaknya bersama Pemerintah Kabupaten Bogor akan menuntaskan pembangunan Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi. Pembebasan tanah untuk kedua waduk tersebut mencapai 90% dan pembangunan fisik mencapai 45%. “Kedua bendungan tersebut direncanakan selesai pada akhir 2020,” katanya.

Basuki mengatakan banjir yang melanda Jakarta akibat belum optimalnya pembangunan prasarana pengendalian banjir. Program pengendalian banjir Sungai Ciliwung baru ditangani sepanjang 16 km dari rencana keseluruhan 33 km. Dari pengamatannya pada Rabu (1/1/2020) pukul 15.00 – 16.30 WIB, area sekitar sungai yang telah dinormalisasi relatif aman dari banjir. Area sekitar sungai yang belum dinormalisasi dalam kondisi tergenang banjir, seperti di Bidaracina, serta area di sekitar Sungai Cipinang yang juga belum dinormalisasi.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Jakarta, Nirwono Joga mengatakan Pemprov DKI Jakarta bersama kementerian terkait harus segera bekerja sama untuk melakukan penataan aliran kali agar banjir tidak terulang kembali. Pembenahan daerah permukiman di bantaran kali mutlak dilakukan dan tidak sekadar bergelut mempertahankan konsep naturalisasi atau normalisasi.

“Prinsip dasarnya harus dipahami bahwa kondisi sungai saat ini lebarnya hanya 15-20 meter. Jauh sekali dari misalnya saat tahun 1950-an yang mencapai 50 meter. Sebenarnya bisa disepakati titik antara 35 meter ini sudah cukup ideal, jika 50 meter tidak dapat terealisasi," ujar Nirwono di Jakarta, Kamis (2/1/2020).

Sejalan dengan itu, lanjutnya, perlu dilakukan pelebaran area di sekitar bantaran sungai minimal 7,5 meter. “Banjir kali ini seharusnya membuka mata semua pihak bahwa penataan bantaran kali harus dilanjutkan. Seharusnya dari rentang waktu 2007 hingga saat ini sudah selesai normalisasi empat sungai, yakni Sungai Ciliwung, Angke, Pesanggrahan, dan Sunter,” katanya.

Banjir yang terjadi awal tahun, kata Nirwono, juga menandakan buruknya sistem drainase di Jakarta. Drainase di Jakarta baru berfungsi sekitar 33 persen. Banyak drainase yang dibangun oleh pengembang perumahan baru tidak terhubung dengan drainase primer, sekunder, dan tersier.

Pengamat tata kota Yayat Supriatna menyatakan Pemprov DKI Jakarta Jakarta perlu segera membenahi sistem drainase tata air, termasuk memetakan lokasi yang berpotensi menimbulkan genangan air tinggi, hingga mengevakuasi warga yang terdampak bencana banjir.

Jakarta, lanjutnya, tergolong lambat melakukan pembaruan drainase dalam kota. Saat ini banyak jalan raya dan bangunan tinggi dibangun, tetapi drainasenya cenderung tidak diperbarui secara maksimal. Apalagi, saat ini di beberapa titik ada pembangunan yang diduga menutup jalan air, seperti pembangunan LRT. 

*Berita ini telah dimuat Suara Pembaruan edisi Kamis, 2 Januari 2020.



Sumber: Beritasatu.com, Suara Pembaruan