Hasil Kajian, Moda Trem Cocok untuk Kota Bogor

Hasil Kajian, Moda Trem Cocok untuk Kota Bogor
Trem bergambar Candi Borobudur yang berada di Berlin, Jerman. ( Foto: Istimewa )
Vento Saudale / JAS Jumat, 17 Januari 2020 | 19:30 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Berdasarkan kajian sementara, moda transportasi trem sangat cocok diimplementasikan di Kota Bogor. Ke depan, trem direncanakan sebagai kendaraan penyambung Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodetabek.

Hal itu dikatakan Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim setelah menerima hasil kajian sementara Colas Grup Indonesia terkait studi kelayakan operasional trem di Balai Kota Bogor, Jumat (17/1/2020). Hasilnya, Colas menyatakan jalur trem layak dibangun di Kota Bogor.

Dedie menuturkan, dari hasil kajian berdasarkan parameter elemen mulai dari sudut perkotaan, infrastruktur, elevasi ketinggian jalan, kemiringan sudut jalan juga memenuhi.

Langkah Pemkot Bogor selanjutnya adalah memastikan jenis trem apa yang akan digunakan. Sedangkan usulan dari berdasarkan kajian diharapkan Pemkot Bogor menggunakan trem baru dan tidak menggunakan trem hibah dari Utrecht, Belanda.

“Dari sisi kenyamanan dan keamanan, mereka (Colas) menyarankan menggunakan trem baru, keren trem baru ramah lingkungan dan bisa digunakan secara umum, juga orang distabilitas. Menurut kajian mereka, trem hibah dari Utrecht itu tertinggal secara teknologi dan ketinggian trem mencapai 90 sentimeter, dianggap terlalu tinggi,” kata Dedie.

Menurut Dedie, selain kajian jalur trem, Colas juga memberikan kajian skema bisnis. Sifat kajian tersebut usulan proyek, bukan sebagai proyek strategis nasional. Skema bisnis yang sedang di cari yakni antara membentuk konsorsium atau investasi.

“Ini masih ada waktu sampai empat tahun untuk membangun trem. Nanti pembangunan jalur trem juga dikaitkan dengan pelebaran Jembatan Otista. Dari Colas Rail minta dalam proses pembebasan lahan dikaitkan dengan beban trem yang lewat,” kata Dedie.

Managing Director Asia Pasific Colas Rail, Jerome Bellemin menjelaskan, kajian Colas fokus pada desain transportasi Kota Bogor.
Colas menghitung dan mengkalkulasi penggunaan trem baru dan trem hibah sebagai bahan perbandigan.

“Ada opsi, kita lebih merujuk pada yang baru. Kita juga bahas opsi, dampak positif, dan negatif menggunakan modal transportasi itu,” ujar Jerome.

Menurut Jerome, trem baru dinilai lebih baik dan lebih aman. Penggunaan trem baru dinilai lebih murah dibandingkan menggunakan trem hibah. Jika memang akan menggunakan trem hibah Belanda, ada beberapa
aspek yang perlu dimodifikasi mulai dari pendingin ruangan, hingga material dalam trem yang kurang ramah lingkungan.

Hasil studi kelayakan tersebut, lanjut Jerome, sudah disampaikan kepada Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek terkait rekomendasi penggunaan trem baru. Penggunaan trem baru dinilai lebih efisien untuk penggunaan jangka panjang.

Jalur trem direncanakan bera­wal dari Terminal Baranang­siang, Tugu Kujang, Jalan Paledang menyambung Taman Topi atau Plaza Kapten Muslihat lalu, Dewi Sartika, kembali ke Jalan Padjajaran untuk masuk kembali ke Baranangsiang.

Hal itu juga yang disampaikan Dedie saat bertemu Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Selain jalur trem akan terkoneksi dengan LTR. Akselarasi mobilitas kendaraan juga nantinya akan terbantu dengan pembangunan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) Seksi IIIA yang tengah dikerjakan direncanakan selesai sampai dengan Jalan Semplak.

Di sisi lain, Pemkot Bogor masih menunggu rencana detail terkait operasional LTR fase dua Cibubur-Kota Bogor yang saat ini masih dalam pembahasan pemerintah pusat. Pemkot pun menyebut, masih sulit membuat gambaran atau rancangan karena menunggu rencana detail rampung.

 



Sumber: BeritaSatu.com