Kontraktor Revitalisasi Monas Tak Jelas, PSI Lapor KPK

Kontraktor Revitalisasi Monas Tak Jelas, PSI Lapor KPK
Rencana Revitalisasi Kawasan Monas. ( Foto: Beritasatu Photo / Lenny Tristia Tambun )
Lenny Tristia Tambun / BW Kamis, 23 Januari 2020 | 13:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kawasan Monas yang asri ternoda oleh pekerjaan yang disebut sebagai revitalisasi. Alih-alih menjadi sejuk dan ramah lingkungan, area Monas malah berubah gersang sehingga mendapat protes keras berbagai kalangan.

Ditambah lagi, kejelasan pelaksana proyek ini masih menjadi tanda tanya. Anggota Tim Advokasi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Jakarta menduga bahwa asal-usul kontraktor proyek besar tersebut tidak jelas dan meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menelusuri proyek tersebut.

Dari website lpse.jakarta.go.id, bisa ditemukan data terkait nama kontraktor pemenang lelang yakni PT Bahana Prima Nusantara, harga negosiasi senilai Rp 64,4 miliar, dan alamat kantor di Jalan Nusa Indah No. 33, Ciracas, Jakarta Timur.

Tim Advokasi PSI telah menelusuri alamat tersebut yang ternyata berlokasi di sebuah gang di kawasan permukiman. Terkuak bahwa PT Bahana Prima Nusantara menyewa “kantor virtual” di lokasi tersebut. Beredar kabar bahwa kantor asli PT Bahana Prima Nusantara beralamat di Jalan Letjend Suprapto No 60, Jakarta Pusat. Namun, setelah ditelusuri berbagai pihak dan media, tidak juga ditemukan lokasi sebenarnya perusahaan tersebut.

“Persoalan alamat kantor PT Bahana Prima Nusantara ini masih simpang siur. Di mana alamat yang sebenarnya? Jika kontraktor tidak memberikan informasi yang benar saat proses lelang, maka itu masuk pelanggaran,” kata Patriot Muslim, anggota Tim Advokasi PSI, Kamis (23/1).

Karena alamat yang tidak jelas, Patriot menilai bahwa patut diduga PT Bahana Prima Nusantara adalah “perusahaan bendera”.

Menurut Patriot, jika benar kontraktor adalah perusahaan bendera atau bahkan perusahaan kertas maka perlu dilakukan pemeriksaan untuk memperjelas pelaksanaan kontrak proyek tersebut.

“Apakah sudah sesuai hukum atau berpotensi merugikan negara. Bisa jadi PT Bahana Prima Nusantara adalah semacam perusahaan kertas yang tidak memiliki aset dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan. Jika dia mengalihkan pekerjaan ke pihak lain atau melakukan praktek subkontrak, maka ini juga pelanggaran berat,” jelasnya.

Patriot mendatangi gedung KPK untuk mengadvokasi isu yang berkembang luas di publik, dengan harapan KPK dapat menjernihkan dan memperjelas isu ini.

“Sejak awal PSI menyatakan siap kawal uang rakyat. Sekarang di depan mata, lagi-lagi akrobat anggaran dipertunjukkan. PSI mendesak KPK segera bertindak. Uang rakyat jangan seenaknya dipermainkan seperti ini,” tutup Patriot.



Sumber: Suara Pembaruan