Pemkot Jakut Sengaja Buat Tergenang Wilayah Lewat Program Gela

Pemkot Jakut Sengaja Buat Tergenang Wilayah Lewat Program Gela
Genangan di kawasan Sunter, Jakut, Jumat (24/1/2020) (Foto: istimewa)
Carlos Roy Fajarta / WBP Sabtu, 25 Januari 2020 | 09:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara (Jakut) menyebutkan dalam penanganan genangan banjir pada Jumat (24/1/2020) sejumlah lokasi sengaja dibuat tergenang karena tengah menjalankan program Gerakan Lumbung Air (Gela).

"Seperti yang sudah saya jelaskan konsep zero run off tadi. Hal ini merupakan upaya yang dikerjakan pemkot untuk mengoptimalkan serapan air hujan dan manajemen pengaturan air," ujar Wali Kota Jakarta Utara, Sigit Wijatmoko ketika dikonfirmasi Beritasatu.com di Jakarta, Jumat (24/1/2020).

Dikatakannya konsep zero run off merupakan bagian program Gela seperti yang menjadi program Pemprov DKI Jakarta dalam meminimalisir genangan banjir. "Jadi air hujan dikelola sesaat untuk bisa diserap ke dalam tanah dengan tetap dikontrol puncak permukaan airnya baru kemudian dialirkan atau dipompa. Ada dua manfaat yaitu menyimpan air tanah dari air hujan dan mengatur debit air yang masuk ke saluran," tambah Sigit Wijatmoko.

Underpass Kemayoran Banjir, DKI Sebut Tanggung Jawab PPK Kemayoran

Ia menyebutkan Pemkot Jakarta Utara sudah menerapkan program ini di beberapa titik jalur hijau seperti di Jalan Danau Sunter Barat, termasuk di lokasi yang akan dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau Intermediate Treatment Facility (ITF) oleh BUMD DKI Jakarta PT Jakarta Propertindo (Jakpro). "Air hujan tidak langsung dibuang ke saluran ,tapi sementara ditampung dengan tetap dipantau ketinggian muka airnya, untuk kemudian dialirkan perlahan atau dipompa ke saluran," tandas Sigit Wijatmoko.

Kecerdasan Buatan Buat Operasi Modifikasi Cuaca Lebih Akurat

Sementara Kepala Suku Dinas Tata Air Jakarta Utara, Adrian Mata Maulana menyebutkan konsep zero run off dan Gela akan cocok dilaksanakan khususnya di lahan kosong atau lahan hijau. "Banyak lahan kosong khususnya di bawah tol, taman-taman, serta areal kantor wali kota. Jadi konsep program ini adalah air hujan ditangkap di sana dulu. Jadi dibiarkan tergenang dahulu. Jadi taman-taman biar menyerap terlebih dahulu genangan air tersebut," ujar Adrian Mata Maulana.

Ia menyebutkan kawasan Sunter di Jakarta Utara sangat mudah tergenang karena banyak pabrik otomotif di kawasan tersebut kerap menggunakan pompa untuk mengeluarkan genangan di dalam pabrik ke saluran penghubung (PHB). "Seharusnya perusahaan memiliki tempat penampungan sendiri, jadi jangan semua di pompa ke saluran. Kan bisa membuat sejumlah tower penampung dengan kapasitas tertentu agar mengurangi beban genangan di kawasan tersebut. Jangan langsung di pompa keluar, jadinya kawasan Sunter gampang terendam. Kita sudah melakukan sosialisasi kepada mereka agar lebih aware dan tidak mengedepankan ego," tambah Adrian Mata Maulana.

Lebih lanjut ia menyebutkan pihaknya meminta publik untuk tidak hanya menyalahkan Sumber Daya Air (SDA) jika terjadi genangan di satu titik lokasi. "Misalkan dalam satu kawasan kita sudah hitung pergerakan air dan PHB nya dengan menyediakan jenis dan daya hisap pompa yang tepat, namun karena ada pengembangan jalan, keberadaan bangunan baru maka harus hitung ulang agar dapat membuat saluran dan pompa yang optimal," kata Adrian Mata Maulana.

Lebih lanjut pihak SDA Jakarta Utara terus berupaya berkoordinasi dengan camat, lurah, dengan menggerakkan petugas Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) dalam meminimalisir genangan.

Ketika ditanyakan program Gela dan konsep zero run off, peneliti dan dosen Teknik Lingkungan dan Sumber Daya Air Perkotaan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Firdaus Ali menyebutkan konsep tersebut kurang tepat. "Kalau jumlah airnya kecil misalnya hanya satu ember bisa saja, tapi kalau jumlah airnya seperti tanggal 1-4 Januari 2020 dan hari ini maka program itu tidak realistis," kata Firdaus Ali.

Ide menampung air itu bagus. Namun dalam penerapannya harus melihat fakta dan realitas. "Saya lihat Pemprov DKI mau menahan air selama mungkin untuk ada waktu meresap dan mengisi air tanah. Kalau curah hujan tidak tinggi, it's good. Tapi kalau curah hujan tinggi dan tanah sudah jenuh menyerap air, maka air akan mencari tempat lainnya untuk digenangi," kata Firdaus Ali.

Menurut dia, tanah akan mengalami saturasi. Apalagi tinggi muka air di dalam tanah di Jakarta Utara itu sangat tinggi hampir setinggi tanah, berbeda dengan Jakarta Selatan. Apalagi jika tanahnya jenis lempung yang sangat kecil penyerapan airnya. "Ini yang orang sering terjebak dalam konsep menampung air yang disampaikan Pemprov DKI Jakarta. Silakan punya gagasan yang bagus, tapi tetap realistis," kata Firdaus Ali.

Untuk menghadapi genangan banjir, kata dia, harus memiliki sistem drainase yang baik untuk mengalirkan air hujan yang turun ke muara. "Semakin cepat dialirkan ke muara maka akan semakin cepat genangan teratasi," kata Firdaus Ali.

Hal yang sama juga berlaku untuk konsep normalisasi vs naturalisasi. Naturalisasi itu untuk estetika seperti oasis dan sungai yang indah di kota-kota maju, bukan flat control. Masing-masing memiliki fungsi berbeda.

"Padahal hari ini curah hujan di bawah 100 milimeter menurut BMKG, tapi banyak jalan tergenang, artinya sistem drainase kita belum baik," jelas Firdaus Ali.



Sumber: Suara Pembaruan