Kamera ETLE Bidik Pengendara Motor Miliki Efek Pencegahan Tinggi

Kamera ETLE Bidik Pengendara Motor Miliki Efek Pencegahan Tinggi
Kendaraan bermotor melawati kamera pengawas atau 'closed circuit television' (CCTV) yang terpasang di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa, 28 Januari 2020. ( Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao )
Bayu Marhaenjati / CAH Rabu, 29 Januari 2020 | 08:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kebijakan menindak pelanggaran sepeda motor menggunakan sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), dinilai memiliki efek pencegahan yang tinggi.

Pemerhati Masalah Transportasi Budiyanto mengatakan, seiring perkembangan zaman dan fenomena pelanggaran sepeda motor yang cukup memprihatinkan serta masif, memang perlu ada upaya paksa yang dikemas dalam sistem penegakan hukum untuk memberikan efek jera. Kemudian, secara bertahap diharapkan ada proses pasti terbentuknya budaya tertib berlalu lintas.

"Rencana Ditlantas Polda Metro Jaya memberlakukan sistem penegakan hukum ETLE dengan sasaran pengendara sepeda motor merupakan suatu cara yang dinilai cukup efektif dan memiliki deterrent effect (efek pencegahan) yang cukup tinggi," ujar Budiyanto kepada Beritasatu.com, Selasa (28/1/2020).

Dikatakan Budiyanto, efektivitas sistem ETLE dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain, kamera CCTV yang didukung teknologi dapat mendeteksi atau mengcapture pelanggar secara otomatis (tidak pandang bulu atau tebang pilih), dapat bekerja selama full time atau 1x24 jam, dapat merekam pelanggaran secara maksimal dari aspek kuantitas, data pelanggaran tersimpan di back office (TMC Polda Metro Jaya) dalam bentuk video dan foto sehingga langsung terverifikasi dan terjaga validitasnya, serta memiliki nilai efek pencegahan yang tinggi karena pengendara merasa diawasi dengan CCTV.

Polda Metro Jaya Kembali Ingatkan Tilang Elektronik Berlaku Februari

Sementara itu, kata Budiyanto, penegakan hukum dengan cara-cara konvensional sudah usang, tidak efektif dan pemborosan.

"Indikatornya, pelanggaran sepeda motor sudah cukup masif atau tinggi, memerlukan tenaga manusia yang cukup banyak, tidak dapat bekerja full time karena keterbatasan sumber daya manusia, peluang KKN cukup tinggi, sering terjadi perdebatan di lapangan, hasilnya tidak akan maksimal karena bergantung banyak sedikitnya petugas, dan personel tidak akan menjangkau dengan jumlah pelanggaran yang sangat banyak," ungkapnya.

Kendati demikian, tambah Budiyanto, sebelum sistem ETLE dengan fitur yang mampu menindak pelanggaran sepeda motor diberlakukan, tetap harus dilaksanakan pengkajian secara ilmiah sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan baik dari aspek sosial, ekonomi, keamanan, dan hukum.

Kamera ETLE Sepeda Motor Fokuskan Tiga Jenis Pelanggaran

"Pemberlakuannya pun diharapkan melalui pentahapan yang jelas seperti sosialisasi, uji coba, baru pelaksanaan. Tahapan itu juga untuk memberikan ruang yang cukup dalam proses pemahaman baik kepada petugas itu sendiri maupun masyarakat secara luas, khususnya pengendara sepeda motor," katanya.

Sebelumnya diketahui, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, siap menggelar penindakan tilang kepada pengendara sepeda motor yang melakukan pelanggaran lalu lintas, menggunakan kamera sistem ETLE, di Jakarta, 1 Februari 2020 mendatang. Polisi fokus menindak pelanggaran tidak pakai helm, melanggar marka jalan, garis setop, hingga menggunakan telepon selular.

Mekanisme penilangan ETLE kepada pengendara sepeda motor, sama dengan pengemudi mobil yang melakukan pelanggaran lalu lintas, semisal pelanggaran tercapture, konfirmasi kepada pelanggar dan pelanggar harus meresponnya. Kalau tidak, polisi akan memblokir STNK.

Sementara itu, ada 12 kamera ETLE yang sudah terpasang dan 45 kamera tambahan -sedang proses instalasi-, yang akan dilengkapi dengan fitur penindakan sepeda motor.

Berikut rencana titik pemasangan 45 kamera sistem ETLE tambahan:

1. Halim-Cempaka Putih: delapan titik.

2. Jalan Rasuna Said-Jalan Prof. DR. Satrio: 11 titik.

3. Kota Tua-Blok M: 18 titik.

4. Grogol-Pancoran: 8 titik



Sumber: BeritaSatu.com