Mampukan Sekolah Ibu Tekan Angka Perceraian di Kota Bogor?

Mampukan Sekolah Ibu Tekan Angka Perceraian di Kota Bogor?
Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Bogor, Yane Ardian. ( Foto: Beritasatu.com / Vento Saudale )
Vento Saudale / FMB Sabtu, 15 Februari 2020 | 13:34 WIB

Bogor, Beritasatu.com – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Bogor, Yane Ardian menegaskan manfaat Program Sekolah Ibu bukan untuk meningkatkan ekonomi keluarga, melainkan guna ketahanan keluarga.

“Kami masih berasumsi program Sekolah Ibu berhasil. Jadi, kalau perceraian masih terjadi perlu ditanyakan peran suami sebagai pemimpin dalam rumah tangga,” kata Yane, Jumat (14/2/2020).

Pendirian Sekolah Ibu juga berangkat dari fenomena sosial yang terjadi di masyarakat saat ini, di mana angka perceraian, kenakalan remaja, narkoba, dan pergaulan bebas sangat memprihatinkan.

“Kondisi itu tidak hanya terjadi di Bogor, tetapi sudah menjadi masalah sosial yang terjadi secara nasional. Hal itu yang mendorong PKK Kota Bogor bergerak membantu pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Salah satunya melalui Sekolah Ibu,” kata Yane.

Penggagas program Sekolah Ibu ini menilai, perceraian bukan hasil sesaat, tetapi proses yang panjang. Parameter keberhasilan Sekolah Ibu sudah terukur melalui penelitian yang signifikan.

Bahkan, program Sekolah Ibu 2019 lalu berhasil menyabet penghargaan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik 2019 dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kempan RB).

Kasus perceraian di Kota Bogor terbilang masih cukup tinggi yakni mencapai 1.746 pengajuan sepanjang 2019. Pengadilan Agama Bogor Kelas 1A mencatat sebanyak 1.354 istri menggugat cerai suami atau cerai gugat.

Sedangkan sebanyak 392 suami menggugat cerai istri atau cerai talak. "Dari sekian gugatan cerai 60 persen karena masalah ekonomi," kata Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Bogor Klas IA, Agus Yuspiain.

Data Pengadilan Agama Kota Bogor juga mencatat sejak 2015 hingga 2018, kasus gugatan perceraian cukup tinggi. Mayoritas didominasi perkara gugat cerai oleh istri.

Pada 2015, data perkara perceraian mencapai 1.555 perkara. Sedangkan, pada 2016, perkara perceraian meningkat sebanyak 1.665 perkara. Berkas pengajuan perceraian tertinggi terjadi pada 2017. Ada sebanyak 1.885 perkara perceraian yang tercatat Pengadilan Negeri Agama Kota Bogor.



Sumber: BeritaSatu.com