Menristek Tegaskan Radioaktif di Batan Indah Bukan Akibat Kebocoran Reaktor

Menristek Tegaskan Radioaktif di Batan Indah Bukan Akibat Kebocoran Reaktor
Konferensi pers Menristek, Bambang Soemantri Brodjonegoro, terkait paparan radioaktif di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Selasa, 18 Februari 2020. ( Foto: Beritasatu Photo / Ari Supriyanti Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / JAS Selasa, 18 Februari 2020 | 17:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Riset Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Soemantri Brodjonegoro menegaskan, kontaminasi zat radioaktif di tanah kosong Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan bukan kebocoran fasilitas reaktor nuklir yang ada di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, Tangerang Selatan.

Ia memastikan, fasilitas reaktor riset GA Siwabessy yang berdiri sejak tahun 1987 itu berjalan baik. Pengawasan terhadap aktivitas reaktor dan pekerja di tempat tersebut juga dilakukan dan berjalan baik.

"Ditegaskan sekali lagi kontaminasi itu bukan akibat kebocoran fasilitas reaktor nuklir," katanya dalam konferensi pers terkait radiasi Batan Indah, di Jakarta, Selasa (18/2/2020).

Dalam kesempatan itu hadir pula Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Anhar Riza Antariksawan, Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Jazi Eko Istiyanto, dan Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany.

Kepala Bapeten Jazi Eko Istiyanto juga memastikan kontaminasi tersebut bukan dari kebocoran reaktor. Pihaknya sudah lama memasang sembilan detektor pemantau radiasi di komplek Puspiptek Serpong dan tidak ada notifikasi atau pemberitahuan adanya kebocoran.

Kemudian, ketika tim monitoring memeriksa kawasan lain dengan  mobile detector menemukan tingkat radiasi tinggi di tanah kosong di Perumahan Batan Indah. Untuk diketahui jarak komplek Batan Indah dengan reaktor di Serpong sangat jauh sekitar 3 kilometer.

Jazi menegaskan, peristiwa ini tidak diklasifikasikan kecelakaan nuklir. Namun tergolong pencemaran limbah radioaktif ke lingkungan.

"Kondisi ini bukan kecelakaan atau kedaruratan nuklir. Jauh sekali dari skala kecelakaan nuklir di Chernobyl dan Fukushima," kata Jazi.

Ia menambahkan, proses clean up atau pembersihan tanah dan vegetasi yang terkontaminasi serpihan Cesium (Cs-137) pun terus dilakukan. Limbah radioaktif hasil pembersihan dan dekontaminasi ini dikirim ke Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) Batan di Puspiptek Serpong.

"Dalam beberapa hari kita akan sampaikan kalau memang sudah bersih," ucapnya.

Pemanfaatan nuklir di Indonesia baik di bidang kesehatan maupun industri diawasi ketat oleh Bapeten. Jazi menyebut ada sekitar 14.000 pemegang izin pemanfaatan nuklir di Indonesia. Monitoring rutin dilakukan yang meliputi asal muasal nuklir apakah dari impor, saat dimanfaatkan, hingga menjadi limbah dan dilimpahkan ke PTLR Batan. Bahkan dalam transportasinya ketika nuklir dipindahkan ke tempat lain.

Saat ini kata Jazi, Bapeten bekerja sama dengan kepolisian untuk melakukan investigasi guna mengetahui mengapa, siapa pihak yang terkait dengan adanya Cs-137 di Batan Indah tersebut.

"Sanksinya bisa berupa pidana. Kita serahkan ke kepolisian nanti, karena kita tidak punya inspektur atau penyidik pegawai negeri sipil untuk menangkapnya," ucapnya.

Selain itu, Bapeten juga saat ini sedang menelusuri dan mengecek pemegang izin Cs-137. Dengan begitu bisa diketahui berapa yang dimiliki dan berapa yang dihibahkan (menjadi limbah). Jika ditemukan hasil tidak balance akan didalami lebih lanjut.

Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan mengungkapkan, Batan terus membantu Bapeten melakukan pembersihan  di lokasi. Menurutnya, dari temuan awal hingga pembersihan saat ini, Selasa (18/2) tingkat radiasi di tanah kosong Batan Indah sudah menurun.

Ketika ditemukan, radiasi di hotspot mencapai 140 mikroSievert per jam dan setelah pembersihan tingkat radiasi menjadi 28 mikroSievert per jam.

"Daerah sekitar tentu sudah bisa digunakan warga setempat untuk beraktivitas," kata Anhar.

Saat ini hanya sekitar 33 meter persegi areal tanah kosong yang masih dibatasi. Hingga Selasa (17/2) jumlah drum yang terisi tanah kerukan dan vegetasi terkontaminasi radioaktif mencapai 172 drum.

Sementara itu hasil uji terhadap 9 warga Batan Indah juga masih diteliti Pusat Teknologi Keselamatan dan Meteorologi Radiasi (PTKMR) Batan dan akan rampung 2-3 hari lagi.

Menurutnya pada dasarnya di alam dan di dalam tubuh manusia mengandung radioaktif. Di dalam tubuh manusia radioaktifnya berupa Kalium 40. Dari hasil pemeriksaan nanti akan dilihat seberapa besar radiasi yang ada di dalam tubuh 9 warga yang diuji dan akan dikonsultasikan dengan kedokteran nuklir.

Pengalaman Berharga

Dalam perjalanan pengembangan teknologi tenaga nuklir di Indonesia, selain telah memiliki tiga reaktor riset di Serpong, Bandung, dan Yogyakarta, pemerintah juga menginisiasi rencana pembangunan reaktor daya eksperimental yang bisa menghasilkan tenaga listrik berskala kecil berkapasitas sekitar 10 megawatt.

Ditanya apakah peristiwa paparan radioaktif di lingkungan ini memperbesar penolakan masyarakat, Anhar berpandangan, hal ini tentu membuat Batan meningkatkan kompetensi dan membuktikan bahwa pengelolaan reaktor yang ada selama ini sudah berjalan baik.

"Kita (Batan) akan mengkaji terus teknologi terkini dan terus mendesiminasikan pembangkit teknologi tenaga nuklir (PLTN) dengan teknologi terkini dan aman," kata Anhar.

Menanggapi hal itu, Menristek juga menegaskan, pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia saat ini sudah dilakukan di banyak bidang seperti kesehatan, industri bahkan membantu usaha kecil menengah agar produknya tahan lama dan tidak busuk dengan layanan fasilitas iradiator gamma.

Senada dengan itu, Bapeten juga memastikan bahwa pengawasan nuklir dilakukan sesuai dengan prosedur yang disepakati internasional. Di sejumlah pelabuhan besar juga sudah dipasang radio portal monitor untuk mengawasi nuklir ilegal yang masuk atau keluar dari Indonesia.

"Kalau ada PLTN nanti, kami siap mengawasi dan dipastikan aman karena ada kami (Bapeten)," tandas Jazi. 



Sumber: BeritaSatu.com