Bongkar Pabrik Rumahan, Polisi Sita 10 Kilogram Tembakau Gorila

Bongkar Pabrik Rumahan, Polisi Sita 10 Kilogram Tembakau Gorila
Tembakau Gorila. ( Foto: ist )
Bayu Marhaenjati / CAH Jumat, 3 April 2020 | 18:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim Subdit I Ditresnarkoba Polda Metro Jaya membongkar pabrik rumahan yang memproduksi tembakau gorila jaringan Jakarta, Tangerang Selatan, Bandung, dan Cirebon. Polisi menangkap 12 tersangka, dan menyita 7 kilogram bibit atau biang canabinoid serta 10 kilogram tembakau gorila.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus mengatakan, tim penyidik melakukan penyelidikan dan pengungkapan kasus narkotika tembakau gorila ini mulai dari tanggal 17 hingga 31 Maret 2020.

"Tim berhasil mengungkap kasus tembakau gorila atau ganja sintetis. Ini home industri lintas provinsi Jakarta, Tangerang Selatan, Cirebon, Bandung. Ada 12 tersangka, dengan barang bukti 7 kilogram canabinoid, ini biangnya tembakau gorila. Ini bahan sintetis dicampur ke tembakau dan dikeringkan, itulah (jadi) tembakau gorila. Ini sudah diproduksi sekitar 10 kilogram lebih, total sekitar Rp 4,5 miliar kalau dijual ke pasaran," ujar Yusri, Jumat (3/4/2020).

Dikatakan Yusri, tim penyidik awalnya menggerebak salah satu kamar apartemen di Tangerang Selatan, dan menangkap lima tersangka berinisial DS, RA, AS, MI dan R, pada Sabtu (28/3/2020) lalu.

Baca Juga: Polisi Bongkar Pabrik Rumahan Tembakau Gorila

Pada penggerebekan itu, polisi menyita bibit canabinoid 50 gram, tembakau gorila 10 gram, hologram warna emas bulat, hologram warna hijau berbentuk kotak, tempat packing warna putih, tempat packing warna emas, semprotan nyamuk, satu bungkus tembakau gorila 10 gram, tembakau gorila 5 gram sebanyak lima bungkus, tembakau gorila 2,5 gram berjumlah delapan bungkus, sejumlah sarung tangan, alkohol, gelas takar plastik, kompor, stiker, dan alat timbangan.

Menurut Yusri, pada hari yang sama, tim penyidik juga menggerebek rumah indekos di Cirebon, Jawa Barat, dan menangkap satu tersangka berinisial SP. Barang bukti yang disita enam plastik bibit canabinoid seberat 150 gram warna coklat, satu plasik klip ukuran sedang berisi 25 gram bibit canabinoid warna putih, dan dua botol alkohol 96 persen.

Yusri menyampaikan, kemudian tim penyidik juga menangkap tersangka berinisial R, di kediamannya di kawasan Bandung Barat. Polisi menyita barang bukti satu kardus coklat berisi satu bungkus plastik klip bibit canabinoid dengan berat 30 gram, empat plastik klip masing-masing berisi bibit canabinoid seberat 28 gram, dan dua plastik klip canabinoid seberat 31 gram.

"Selanjutnya dikembangkan ke kos-kosan di Kabupaten Bandung, ditemukan 15 plastik klip berisi tembakau gorila seberat 822 gram, 990 gram, 821 gram, 889 gram, 999 gram, 997 gram, 999 gram, 994 gram, 501 gram, 315 gram, 326 gram, 420 gram, 114 gram, 280 gram, dan 49 gram. Kemudian, satu timbangan warna silver dan karton pembungkus," ungkapnya.

Baca JugaPenjualan Narkoba Daring Marak, Ditresnarkoba Polda Metro Akan Blokir dan Lacak Pemilik Akun

Yusri menambahkan, tim penyidik kembali melakukan pengembangan dan menangkap tersangka SP, SD, DS, di Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dari mereka diamankan barang bukti satu paket bibit canabinoid seberat 25 gram, satu kaleng kemasan tembakau gorila, satu pack stiker.

Selanjutnya, penyidik melakukan penangkapan terhadap tersangka AH, di Baleendah, Kabupaten Bandung. Barang bukti yang disita, empat plastik klip bibit canabinoid seberat 100 gram, satu toples berisi sisa tembakau gorila, satu kotak sarung tangan, satu jerigen sisa alkohol, beberapa kaleng pomade, tas travel, sejumlah plastik klip, alat timbangan digital, dan satu plastik berisi kertas alamat pengiriman pesanan.

"Modus mereka berkomunikasi lewat medsos, melalui chatting instagram. Kemudian juga memesan biang bibit ini menggunakan bitcoin. Bibit canabinoid itu dikemas dalam bentuk kotak kardus yang dikamuflasekan dengan makanan ringan, dan dikirim ke alamat tersangka di daerah Jakarta, Tangerang Selatan, Bandung, Cirebon," katanya.

Menurut Yusri, para pelaku belajar mencampurkan bibit canabinoid itu dengan tembakau untuk dijadikan tembakau gorila dari internet. Sehingga tidak perlu ahli kimia untuk membuat tembakau berbahaya ini. Setelah jadi, barang haram itu dijual melalui media sosial dan dikirim lewat jasa pengirim barang atau paket. "Semuanya pesan melalui sosmed, lalu dikirim lewat paket," ucapnya.

Yusri menuturkan, efek samping penggunaan tembakau gorila sangat berbahaya bagi tubuh, karena menggunakan banyak bahan kimia.

"Efek ke penggunanya beda dengan ganja karena ini bahan kimia yang digunakan. Kalau ganja murni tanaman, kalau ini tembakau khusus yang dipakai, dicampur bahan kimia, makanya efeknya beda. Akibat dari mengkonsumsi ini sangat tinggi risikonya karena mereka pakai bahan kimia, bahkan sampai meninggal dunia," terangnya.

Menyoal para tersangka mendapatkan bahan canabinoid dari mana, Yusri mengungkapkan, mereka memesannya dari luar negeri melalui media sosial.

"Asalnya masih kami dalami, diduga lintas negara, namun belum bisa kami sampaikan negara asalnya. Ini dugaan kami dari negara luar masuk ke Indonesia. Mereka pesan menggunakan media sosial dan dikirim, disamarkan dengan barang-barang lain seperti makanan ringan," tandasnya.

Akibat perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 114 ayat (2) subsider Pasal 112 ayat (2) Juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 1 miliar dan paling banyak Rp 10 miliar.

Sebelumnya, Ditresnarkoba Polda Metro Jaya juga pernah menggerebek pabrik rumahan yang meracik dan mengemas tembakau gorila, di salah satu apartemen, di Surabaya, Jawa Timur, akhir Januari 2020 lalu.

Sebanyak, 13 tersangka berinisial RS, MT, FB, PRY, MA, IL, RD, AR, MN, RT, ARN, NH, dan RTF berhasil ditangkap dan satu orang L masih dalam pencarian alias buron. Ketika itu, polisi menyita barang bukti tembakau gorila sebanyak 28.432 gram atau sekitar 28 kilogram.

Para tersangka meracik, membungkus dan menjual tembakau gorila itu dengan berbagai macam warna dan ukuran. Semisal, bungkus warna hitam seberat 100 gram dijual Rp 2 juta, kemudian plastik coklat 50 gram seharga Rp 600 ribu, dan ukuran 25 gram seharga Rp 400 ribu. Ada dua macam barang yang dijual, berbentuk liquid dan tembakau sintetis. Kalau liquid biasanya dipakai menggunakan vape, sementara tembakau sintetis dihisap seperti rokok.

Sindikat ini, memasak narkotika tembakau gorila di daerah Nganjuk dan Malang, kemudian dipackaging di Surabaya. Selanjutnya, dijual melalui media sosial dan diantar menggunakan ojek online. Jaringan ini dikendalikan seseorang berinisial DSP yang berada di balik terali besi Lembaga Pemasyarakatan Sleman, Jawa Tengah.



Sumber: BeritaSatu.com