PSBB, Naik Mobil Pribadi Wajib Pakai Masker

PSBB, Naik Mobil Pribadi Wajib Pakai Masker
Polisi Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan DKI melaksanakan pengawasan di perbatasan Jakarta dan Banten, di kawasan Pasar Jumat, Jakarta, Jumat (10/4/2020). Pada hari pertama pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk wilayah DKI Jakarta selama 14 hari tersebut, petugas hanya memeriksa kelengkapan masker dan jarak antar penumpang untuk bisa masuk ke wilayah Jakarta. (Foto: BeritaSatu Photo / Mohammad Defrizal)
Bayu Marhaenjati / FMB Jumat, 10 April 2020 | 14:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya, telah merumuskan aturan yang tertuang di dalam Peraturan Gubernur Nomor 33 Tahun 2020, terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona (Covid-19), di Ibu Kota Jakarta. Ada enam poin penting di dalam PSBB, salah satunya soal pembatasan moda transportasi.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Sambodo Purnomo mengatakan, Pasal 18 Pergub Nomor 33 Tahun 2020 menyebutkan, selama PSBB semua kegiatan pergerakan orang dan atau barang dihentikan sementara. Kecuali, pertama adalah untuk pemenuhan kebutuhan pokok dan yang kedua adalah untuk melaksanakan kegiatan yang diperbolehkan selama pemberlakuan PSBB.

"Apa saja kegiatan yang diperbolehkan selama diberlakukan PSBB? Salah satunya mengacu pada Pasal 10 yaitu, tentang kerja apa saja yang masih boleh dilaksanakan atau tempat kerja apa saja yang masih bisa beroperasi, dikecualikan dari penghentian sementara. Pasal 10 menyatakan, tempat-tempat yang masih boleh buka adalah seluruh kantor instansi pemerintah baik pusat maupun daerah, kemudian kantor perwakilan negara asing, kemudian yang ketiga BUMN atau BUMD yang memang bertanggungjawab dalam penanganan Covid-19 maupun dalam memenuhi kebutuhan pokok," ujar Sambodo, di Mapolda Metro Jaya, Jumat (10/4/2020).

Sambodo melanjutkan, kemudian pelaku usaha yang bergerak pada bidang kesehatan, bahan pangan makanan dan minuman, energi, komunikasi, keuangan, logistik, konstruksi, industri strategis, makanan dasar dan yang terakhir kebutuhan sehari-hari.

"Artinya apabila ada pergerakan orang yang menuju ke tempat kerja tersebut, maka tentu itu masih diperbolehkan," ungkapnya.

Kendati demikian, tambah Sambodo, tetap ada pembatasan-pembatasan dalam pengoperasian moda transportasi sebagaimana diatur dalam Pasal 18 Pergub Nomor 33 Tahun 2020.

"Pertama untuk kendaraan mobil pribadi itu dibatasi jumlah maksimalnya sebanyak 50 persen. Artinya untuk mobil pribadi yang tujuh kursi seperti Innova, Avanza, Xenia dan sebagainya, itu 50 persen, karena penumpangnya itu tujuh jadi yang diperbolehkan empat orang. Kemudian untuk mobil yang lima kursi seperti sedan itu diperbolehkan tiga orang. Tambahan untuk mobil penumpang pribadi itu semuanya wajib menggunakan masker di dalam kendaraan. Jadi ketika dia berkendara baik driver maupun penumpang, semuanya wajib menggunakan masker," katanya.

Menurut Sambodo, sepeda motor pribadi diperbolehkan berboncengan dengan catatan pengemudi dan penumpang wajib menggunakan masker dan sarung tangan, serta kelengkapan pengguna kendaraan seperti helm.

"Di dalam ketentuan ini juga, di dalam Pasal 18 ayat 6 disebutkan bahwa angkutan roda dua yang berbasis aplikasi dibatasi penggunaannya hanya untuk angkutan barang," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, untuk angkutan umum juga dibatasi penumpangnya maksimal 50%, termasuk jam operasionalnya.

"Untuk operasional angkutan umum trayek tetap dan teratur apakah itu perkeretaapian atau angkutan kendaraan bermotor ini dikurangi jam 06.00-18.00 WIB. Tentu juga dengan memperiotaskan pembatasan jumlah penumpang di dalamnya," katanya.

Semisal, bus Transjakarta. Pelayanan bus singgel Transjakarta dalam kondisi normal mengangkut 86 penumpang, maka sesuai dengan aturan menjadi 40 penumpang.

"Sementara untuk gerbong kereta api, keseluruhannya untuk pelayanan MRT dan KRL akan disesuaikan kapasitasnya menjadi 60 penumpang per gerbong. Contoh MRT ada enam rangkaian, maka satu kali Ratanggga bergerak kapasitas yang bisa diangkut hanya 360 orang. Demikian dengan KRL Jabodetabek, mulai hari ini disesuikan dengan 60 penumpang. Sehingga jika ada 10 rangkaian berjalan dalam satu kereta, maka total yang bisa diangkut hanya 600 penumpang. LRT juga sudah disesuaikan maksimal hanya 40 penumpang per gerbong. Satu rangkaian dua gerbong hanya 80 penumpang," terangnya.

Menyoal sepeda motor ojek online hanya boleh digunakan untuk mengangkut logistik atau barang. "Sementara untuk roda dua pribadi selain untuk pengendara juga bisa mengangkut penumpang. Tapi dengan catatan bahwa penumpang tersebut satu alamat dengan pemilik kendaraan," katanya.

Sedangkan untuk angkutan tidak dalam trayek, diberikan pengecualian waktu operasionalnya. "Untuk angkutan tidak dalam trayek diberikan pengecualian, operasionalnya tidak dibatasi mulai pukul 06.00 sampai 18. 00 WIB," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com