Terpengaruh Pandemi Covid-19, Pemulung di Jakut Belum Dapatkan Bansos

Terpengaruh Pandemi Covid-19, Pemulung di Jakut Belum Dapatkan Bansos
Tempat Penampungan Sementara (TPS) di Jalan Inspeksi Kali Sunter, Koja, Jakarta Utara. (Foto: BeritaSatu Photo / Carlos Roy Fajarta)
Carlos Roy Fajarta / YUD Senin, 22 Juni 2020 | 17:24 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Selain sejumlah pusat perbelanjaan yang masih tampak sepi mudah ditemui di Pandemi Virus Corona (Covid-19), kehidupan para pemulung sampah juga terpengaruh akibat pandemi virus corona (Covid-19). 

Hal tersebut diungkapkan sejumlah pemulung yang ditemui saat sedang melaksanakan aktivitas memilah sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) di Jalan Inspeksi Kali Sunter, Koja, Jakarta Utara.

"Pendapatan kami juga tergerus pak, biasanya untuk botol plastik air mineral yang dihargai Rp 1.500 per kilogram sekarang hanya dihargai Rp 1.000 saja," ujar Yana (30) salah satu pemulung ketika sedang beristirahat di pinggir tanggul kali Sunter, Senin (22/6/2020).

Ia menyebutkan ada 3 bos pengepul yang ada di TPS tersebut dan biasanya seluruh hasil pemilihan ditimbang dan kemudian dikirimkan ke tukang pabrik daur ulang yang ada di Bekasi.

Sayangnya kendati terpukul akibat pandemi Covid-19, para pemulung itu justru belum mendapatkan bantuan sosial (Bansos) baik dari pemerintah pusat atau dari pemerintah provinsi DKI Jakarta. 

"Kita hidup begini-begini saja, yang penting bisa memilah sampah dan bisa makan hari ini. Sampai sekarang belum pernah mendapatkan bansos baik dari Kementerian Sosial maupun Pemprov DKI Jakarta," ungkap Yana yang mengaku sudah 10 tahun terakhir berprofesi sebagai pemulung.

Pemulung lainnya, Anto (26) menyebutkan ada sebanyak 50 pemulung yang bekerja memilah di TPS Jalan Inspeksi Kali Sunter Koja itu. Kebanyakan dari mereka tidak menggunakan masker.

"Kalau masker memang dari dulu jarang ada yang pakai, kita sudah terbiasa hidup di tempat yang bau dan kotor seperti ini. Corona buat kita yang gak tahu ya, biasa-biasa saja," kata Anto.

Kebanyakan para pemulung tersebut bekerja dari pagi hingga sore hari. Namun ada pula yang masih memilah hingga malam hari, bergantung dari kedatangan gerobak sampah dari permukiman warga.

Sementara itu, Iwan (35) dan Rasini (32) pasangan suami istri yang berprofesi sebagai pemulung di TPS tersebut menyebutkan akibat Pandemi Covid-19 dirinya mengalami penurunan pendapatan.

"Biasanya sehari bisa bawa Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu berdua, sekarang paling hanya setengahnya saja," ujar Iwan.

Tak jarang ia juga meminta anaknya yang sudah menginjak usia 15 tahun untuk turut membantu memilah sampah apabila sudah selesai belajar di rumah kontrakan yang sudah disiapkan oleh bos pengepul.

"Harapan kami supaya Corona ini bisa cepat selesai karena tanpa virus itu saja kami sudah sulit untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari," tambah Iwan.

Rasini menceritakan ia sudah hidup sebagai pemulung selama 5 tahun terakhir. Ia dan puluhan pemulung lainnya kebanyakan berasal dari Indramayu.

"Dulu disini pernah ada bank sampah tapi tidak jalan, makanya sekarang kita yang melakukan pemilahan sampah dan menjadi mata pencaharian kami daripada di kampung menjadi kuli sawah," kata Rasini.



Sumber: BeritaSatu.com