PPDB 2020, Alasan Pemprov DKI Potong Kuota Jadi 40 Persen

PPDB 2020, Alasan Pemprov DKI Potong Kuota Jadi 40 Persen
Calon pelajar Sekolah Dasar (SD) memperlihatkan formulir PPDB sesuai zona saat mendaftar ulang di SD Negeri 1 Banda Aceh, Aceh, Selasa, 9 Juni 2020. (Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)
Yustinus Paat / HS Kamis, 25 Juni 2020 | 11:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Dinas Pendidikan Nahdiana menyampaikan alasan Pemprov DKI memotong kuota jalur zonasi untuk penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2020/2021 menjadi 40 persen. Padahal, Peraturan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 44 Tahun 2019 (Pasal 11 ayat (2) mengamanatkan kuota jalur zonasi paling sedikit berjumlah 50 persen dari kapasitas sekolah.
Menurut Nahdiana, pihaknya memotong kuota jalur zonasi sebesar 10 persen untuk menambah kuota seleksi PPDB melalui jalur prestasi.

“Bukan kami korup 10 persen dari angka zonasi, tetapi agar anak-anak DKI Jakarta yang saat ini mempunyai prestasi diberikan presantase yang lebih besar (di jalur prestasi),” ujar Nahdiana saat rapat dengan Komisi E DPRD DKI dan perwakilan orang tua murid di Gedung DPRD, Jakarta, Rabu (23/6/2020).

Jadi, kata Nahdiana, kuota jalur prestasi untuk seleksi PPDB 2020 DKI menjadi 20 persen. Jumlah tersebut bisa memberikan ruang lebih banyak kepada calon peserta didik berprestasi untuk ikut seleksi melalui jalur prestasi.
"Kami enggak buang anak bapak ibu yang secara nilai itu mampu bersaing. Itu ada di jalur prestasi. Kalau ibu bilang kuota sedikit 20 persen, kalau tadi jalur zonasi kita 50 persen-kan, maka kuota jalur prestasi ini akan semakin berkurang,” ungkap dia.

Untuk itu, Nahdiana mengimbau para orang tua murid mengikuti terlebih dahulu jalur-jalur seleksi yang telah disediakan. Jika merasa anaknya berprestasi, tidak ada salah memanfaatkan jalur prestasi, meskipun terbuka juga mengikuti seleksi di jalur zonasi yang salah satu kriteria seleksinya adalah umur.

“Kalau diseleksi dengan nilai pasti ada yang tidak lolos seleksi, yaitu anak yang nilainya di bawah atau rendah. Kalau pakai usia ada yang tidak lolos seleksi yang usianya yang muda. Kalau diseleksi dengan nilai, yang pertama nilai ini dia tidak bisa ikut di jalur prestasi karena sudah tersingkir yang nilainya rendah, kalau usia yang muda ini masih bisa bertanding di jalur prestasi,” pungkas dia.

Diketahui, jalur zonasi adalah jalur yang disediakan bagi calon peserta didik yang telah tinggal dalam suatu zona sekurang-kurangnya mulai tanggal 1 Juni 2019 dibuktikan dengan kartu keluarga. Di DKI Jakarta, zona ditetapkan berdasarkan kelurahan atau irisan kelurahan.

Jalur prestasi adalah jalur yang disediakan bagi calon peserta didik yang memiliki prestasi akademik dan nonakademik. Prestasi akademik berdasarkan nilai rapor dan akreditasi sekolah. Sementara prestasi nonakademik berdasarkan prestasi kejuaraan yang diraih oleh peserta didik.

Pada Pasal 16 Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019, telah diatur ketentuan tentang penentuan zonasi. Pertama, penetapan wilayah zonasi dilakukan pada setiap jenjang oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya,dengan prinsip mendekatkan domisili peserta didik dengan Sekolah.

Kedua, penetapan wilayah zonasi oleh Pemerintah Daerah pada setiap jenjang wajib memperhatikan jumlah ketersediaan daya tampung satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh PemerintahPusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat termasuk satuan pendidikan keagamaan, yang disesuaikan dengan ketersediaan jumlah anak, usia Sekolah pada setiap jenjang di daerah tersebut.

Ketiga, Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya wajib memastikan semua wilayah administrasi masuk dalam penetapan wilayah zonasi sesuai dengan jenjang pendidikan.

Kriteria seleksi melalui jalur zonasi diatur dalam Pasal 25 Permendikbud 44 Tahun 2019. Pada ayat (1) menyatakan seleksi calon peserta didik baru kelas 7 (tujuh) SMP dan kelas 10 (sepuluh) SMA dilakukan dengan memprioritaskan jarak tempat tinggal terdekat ke sekolah dalam wilayah zonasi yang ditetapkan. Kemudian, pata ayat (2), menyebutkan jika jarak tempat tinggal calon peserta didik dengan Sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka seleksi untuk pemenuhan kuota/daya tampung terakhir menggunakan usia peserta didik yang lebih tua berdasarkan surat keterangan lahir atau akta kelahiran.



Sumber: BeritaSatu.com