Rapid Test, 8 Penumpang KRL di Bogor Reaktif Covid-19

Rapid Test, 8 Penumpang KRL di Bogor Reaktif Covid-19
Rapid test kepada penumpang KRL Jakarta-Bogor Rapid Test di Stasiun Besar Bogor, Jumat 26 Juni 2020. (Foto: dok)
Vento Saudale / YUD Jumat, 26 Juni 2020 | 22:04 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Pemprov Jabar melakukan rapid test kepada 500 penumpang kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Besar Bogor. Hasilnya, dari ratusan sampel tes cepat yang diambil, delapan penumpang dinyatakan reaktif Covid-19.

Hal itu dikatakan Wali Kota Bogor Bima Arya, setelah menerima laporan hasil tes acak yang dilakukan Jumat (26/6/2020) sore.

“Dari 500 sampel, ada 8 yang reaktif dan langsung dilakukan swab test. Semoga hasilnya negatif,” Bima mengkonfirmasi, Jumat (26/6/2020) malam.

Pascahasil itu, Bima menilai ke depan Pemkot akan rutinkan test masal di stasiun untuk mengetahui secara lebih akurat tingkat kerentanan penularan Covid-19 bagi penumpang KRL. Ia juga selalu mengimbau agar kepada seluruh calon penumpang KRl selalu waspada. Pakai masker, cuci tangan dan menjaga jarak.

Sebelumnya Gubernur Ridwan Kamil menyebut, untuk pengendalian penyebaran Covid-19 dan pengaturan transportasi KRL masih ada berbagai kendala. Ia menyebut, bila terus kapasitas dikurangi, berdampak pada membludaknya calon penumpang di peron dan luar stasiun.

Dalam beberapa pekan lalu, guna mengakomodasi kereta, pemerintah daerah dibantu Pemprov DKI Jakarta telah menyediakan bus. Pun demikian, Emil menilai hal itu belum maksimal dalam meminimalisir volume penumpang.

“Sehingga solusinya adalah kita akan ngetes warga Bogor yang naik kereta, tidak ada yang positif, kita akan mengusulkan kapasitas gerbongnya ditambah lebih banyak. Tapi kalau banyak ditemukan positif, berarti tetap akan dilakukan seperti ini,” paparnya.

Sementara, Koordinator Sub Divisi Sterilisasi Fasilitas Publik yang juga Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, Hery Antasari menargetkan para pengguna komuter yang datang dari Jakarta ke Stasiun Bogor Kota dan Stasiun Bojong Gede. Pemeriksaan acak difokuskan pada jam-jam kedatangan padat, antara pukul 17:00-20:00 WIB.

Tes acak ini merupakan yang kedua kalinya di kedua stasiun tersebut. Sebelumnya, pengecekan dilakukan di luar jam padat. Hery mengungkapkan, pengetesan dengan alat tes cepat ditargetkan pada 1.000-1.200 pengguna KRL.

Pengetesan ini, sambung Hery, tidak mengejar akumulasi sampel karena dengan target hingga 1.200 sampel belum bisa mewakili populasi pengguna KRL yang pada saat normal jumlahnya sekitar 800 ribu-1 juta orang setiap hari.

“Jumlah 1.000-an (tes cepat) tidak seberapa, tidak mewakili. Namun kita hendak mengetahui efek kejut pada warga masyarakat,” pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com