Ini Klarifikasi Rhoma Terkait Penampilannya di Bogor

Ini Klarifikasi Rhoma Terkait Penampilannya di Bogor
Rhoma Irama. (Foto: Antara)
Chairul Fikri / WBP Selasa, 30 Juni 2020 | 05:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Raja Dangdut Rhoma Irama akhirnya melakukan klarifikasi terkait penampilannya dalam acara khitanan di Desa Cibunian, Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (28/6/2020). Hal itu dilakukan Rhoma terkait kekecewaan Bupati Bogor Ade Yasin yang merasa kecolongan atas konser yang digelar sang raja dangdut itu, meski sebelumnya sang bupati percaya bawah Rhoma akan membatalkan konser lantaran masih ada pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Waduh saya terpaksa harus klarifikasi lagi neh. Sebenarnya begini, saya datang itu atas undangan dari pak Surya. Karena waktu itu kita komit tidak akan ada penampilan Soneta Group. Jadi saya datang sendirian, karena undangan pak Surya itu kita kumpul-kumpul saja. Sampai sana orang ramai dan pada kondangan resmi dan saya juga lihat panggung, ada live music, bahkan penyanyi-penyanyi ibu kota tampil di sana. Saya pikir sudah aman gitu kan. Bahkan informasinya malam minggunya ada wayang golek sampai pagi," ungkap Rhoma dalam klarifikasinya yang dilakukan melalui media sosial pribadinya, Senin (30/6/2020) malam.

Baca juga: Polisi Akan Periksa Tamu dan Panitia yang Mengundang Rhoma Irama

Saat ia berada di sana, Rhoma sendiri mengaku didaulat untuk memberikan tausiyah oleh tuan rumah dan masyarakat yang datang ke acara undangan tersebut. "Saat itu masyarakat yang hadir teriak-teriak saya untuk menyanyi satu atau dua lagu dan menurut saya itu wajar. Dan itu spontanitas karena selama di sana benar-benar dijaga oleh teman aparat. Saya melihat mereka sudah memenuhi protokol kesehatan. Makanya saya nyanyi bukan konser," tambahnya.

Terkait kabar pemeriksaan karena dianggap ingkar janji tidak menaati PSBB Rhoma mengaku aneh. "Jadi tiba-tiba ada berita saya mau diproses hukum. Ini buat saya aneh aja gitu yah. Kalau mau diproses secara hukum, Ibu Bupati yang punya wilayah sejak Sabtu berdirinya panggung itu dilarang kalau memang tidak boleh. Karena malam minggunya ada wayang golek, paginya ada live musik dan banyak penyanyi yang tampil, kenapa gak dilarang. Lalu saya datang sore hari tapi kenapa hanya saya yang jadi sasaran. Kenapa hanya saya yang diminta harus mempertanggungjawabkan ini. Ini saya rasa unfair yah dan aneh. Kenapa saya yang datang ke undangan itu yang diproses hukum, kenapa gak semua yang hadir di sana diproses hukum juga donk," tegasnya.

Dia berharap Bupati bercanda soal itu. Kalau memang serius, seharusnya Ibu Bupati minta tanggung jawab pada pihak yang mengadakan acara. "Saya di situ hanya undangan, jadi kalau saya undangan harus diproses hukum, harusnya seluruh undangan yang datang ke sana juga harus diproses secara hukum. Saya pikir ini sudah clear yah. Jadi di sana bukan mau konser, tapi undangan," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com