Orang Tua Murid Keluhkan Kelas Bilingual SMPN 3 Tangsel

Orang Tua Murid Keluhkan Kelas Bilingual SMPN 3 Tangsel
Ilustrasi siswa SMP. (Foto: Antara)
Chairul Fikri / AB Selasa, 30 Juni 2020 | 23:29 WIB

Tangerang Selatan, Beritasatu.com – Sejumlah orang tua murid mengeluhkan keberadaan kelas bilingual di SMPN 3 Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. Kehadiran kelas bilingual telah membuat sebagian guru menyampingkan kelas reguler.

Beberapa orang tua siswa kepada Beritasatu.com, Selasa (30/6/2020), menyatakan ketika proses belajar mengajar berlangsung secara tatap muka sebelum pandemi Covid-19, sering kali terjadi kelas kosong. Guru yang bertugas mengajar di kelas reguler lebih memilih mendampingi siswa di kelas bilingual. Pasalnya, guru yang mengajar atau mendampingi siswa di kelas bilingual mendapat insentif yang diperoleh dari biaya pendaftaran dan uang sekolah yang dibayar siswa setiap bulan.

Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, seorang siswa yang ingin masuk ke kelas bilingual harus membayar antara Rp 5 juta sampai Rp 17 juta. Kemudian, uang sekolah yang harus dibayar setiap bulan mencapai Rp 500.000. Kelas bilingual di SMPN 3 Tangsel telah ada sejak 2009. Setiap tahun, sekolah ini membuka 9-10 kelas, termasuk satu kelas bilingual. Jumlah siswa setiap kelas maksimal 36 orang.

Saat dikonfirmasi, Kepala SMPN 3 Tangsel, Maryono, mengakui adanya kelas pengayaan (kelas bilingual) di sekolah yang dipimpinnya. Penyelenggaraan kelas pengayaan telah mendapat izin dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten.

"Kelas pengayaan program bilingual sesuai dengan pendidikan khusus layanan khusus (PKLK). Izinnya melalui Dinas Pendidikan di provinsi, bukan Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan,” katanya ketika dihubungi melalui telepon.

Siswa yang diterima di kelas pengayaan tetap melewati proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) sesuai ketentuan pemerintah. Setelah itu, siswa ditawari dan diseleksi untuk bisa masuk kelas pengayaan.

“Uang pangkalnya (masuk program tersebut, Red), enggak sama. Ada yang Rp 2 juta, ada juga yang nol. Kita tidak pernah mematok harga. Program ini sudah lama dan legal," katanya.

Maryono tak menampik bahwa kelas pengayaan dilengkapi fasilitas pendingin udara dan televisi, karena siswa membayar uang pangkal dan uang bulanan.

“Gurunya mengajar di sana kita seleksi dan didik. Mereka sudah menguasai dua bahasa. Metodenya sama dengan kelas reguler, tetapi diperkaya dengan pendidikan bahasa yang lebih bagus. Ijazahnya sama dengan kelas reguler, tetapi ada sertifikat kemampuan berbahasa," tegasnya.



Sumber: BeritaSatu.com