Anies: Rasio Tes Covid-19 di DKI Lampaui Standar WHO

Anies: Rasio Tes Covid-19 di DKI Lampaui Standar WHO
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (tengah), bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Riza Patria (kanan), saat bersepeda melewati kawasan Bunderan HI, Jakarta, Selasa, 16 Juni 2020. (Foto: Beritasatu Photo / Joanito De Saojoao)
Yustinus Paat / FER Rabu, 1 Juli 2020 | 19:34 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengungkapkan, rasio jumlah tes untuk melacak penyebaran virus corona atau Covid-19 di DKI Jakarta sudah melampaui standar yang ditetapkan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO).

Baca Juag: Perpanjang PSBB Transisi, Anies Minta Warga Disiplin

Menurut Anies, pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, sudah melakukan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) sebanyak 14.258 per 1 juta penduduk.

"WHO mengharuskan sebuah wilayah harus melakukan 1.000 tes per 1 juta penduduk. Jakarta, dengan 11 juta penduduk, maka harus melakukan 11.000 per minggu. DKI, kita, berhasil melakukan paling enggak minggu terakhir, 14.000 testing per 1 juta penduduk," ujar Anies dalam konferensi pers di Balai Kota, Jakarta Rabu (1/7/2020).

Anies mengakui, DKI Jakarta selama masa PSBB sudah melakukan peningkatan jumlah testing dengan metode active case finding. Dengan metode ini, tes PCR tidak hanya dilakukan terhadap pasien di rumah sakit atau yang datang ke rumah sakit karena ada keluhan. Pemprov DKI pro aktif melakukan tes Covid-19 ke komunitas atau orang yang kemungkinan besar punya potensi tertular. Langkah pro-aktif tes ini dilakukan puskesmas-puskesmas yang ada di DKI Jakarta.

Baca Juga: Anies Nilai Masyarakat Taat Jalankan Protokol Kesehatan

"Active case finding Jakarta amat tinggi. Kasus positif yang ditemukan bukan dari pasien di rumah sakit atau datang ke rumah aakit. Mayoritas lewat puskesmas yang aktif mnedatangi komunitas dan orang-orang yang probabilitas tertular," jelas Anies.

Dampak dari active case finding ini, kata Anies, penambahan kasus positif Covid-19 harian di DKI Jakarta juga terus meningkat. Namun, positivity rate-nya masih dalam angka aman. "Maka kita katakan wabahnya masih ada, tetapi positivity rate berkisar 5 persen. Artinya kalau menurut WHO, itu angka aman. Tetapi bukan bukan berati kita bebas," tandasnya.

Lebih lanjut, Anies menegaskan, apa yang dilakukan pihaknya tidak bertujuan semata-mata untuk menurunkan grafik angka kasus positif Covid-19 di Jakarta. Langkah yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta, adalah mengendalikan wabah Covid-19.

Baca Juga: Gugus Tugas Klaim Angka Penularan Covid-19 Melambat

"Kalau mau kurangi garis, maka kurangi testing, pasti garisnya turun itu, tetapi wabah nggak turun. Tujuan kita bukan untuk menurunkan garis, tetapi mengendalikan wabah. Jadi, bagi lebih baik tingkatkan aktivitas testing-nya, menjangkau pribadi-pribadi tanpa gejala tetapi positif daripada kita membiarkan dengan mengurangi testing. Tadi ada istilah yang digunakan tes, lacak dan isolasi atau TLI, itu yang kita kerja dengan active case finding," pungkas Anies.



Sumber: BeritaSatu.com