Ini Kronologi Pembunuhan Babinsa oleh Oknum TNI AL

Ini Kronologi Pembunuhan Babinsa oleh Oknum TNI AL
Komandan Puspom TNI, Mayjen TNI Eddy Rate Muis menjelaskan kasus pembunuhan anggota TNI di Markas Puspomal Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis 2 Juli 2020. (Foto: SP/Carlos Roy Fajarta Barus)
Carlos Roy Fajarta / AB Kamis, 2 Juli 2020 | 12:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -  Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) TNI, Mayjen TNI Eddy Rate Muis menjelaskan kronologi kasus pembunuhan seorang Babinsa Pekojan Kodim 0503/JB dengan inisial Sersan ASP pada Senin (22/6/2020) sekitar pukul 01.50 WIB di Hotel Mercure, Tambora Jakarta Barat.

"Awal kejadian pada 22 Juni yang lalu sekitar pukul 01.50 WIB telah terjadi tindakan pidana penganiayaan serta perusakan yang dilakukan Letnan Dua RW (TNI AL) yang memakan korban jiwa, yakni Sersan ASP (TNI AD)," ujar Eddy Rate di Jakarta, Kamis (2/7/2020).

Kasus tersebut berawal saat tersangka datang ke Hotel Mercure dalam kondisi setengah mabuk setelah mengonsumsi minuman keras. Tersangka datang ke hotel itu karena ingin bertemu rekan perempuan yang dikenalnya lewat media sosial untuk pertama kali. 

Saat ingin masuk ke hotel, dia dihalangi petugas. Tidak terima dengan perlakuan tersebut, tersangka melakukan perusakan dan penembakan dua kali. "Pintu hotel itu terkunci. Dia menembak dua kali ke gagang pintu dan ke atas, kemudian masuk melalui pintu belakang," kata Eddy Rate.

Petugas hotel kemudian menelpon petugas dari Polsek dan Koramil. Salah petugas, yakni Sersan ASP Babinsa menemui tersangka di lantai satu hotel. Tersangka lalu ditegur petugas, tetapi tidak terima. Tersangka kemudian mengejar korban dengan badik dan menusuknya dari belakang. Korban yang masih sempat berlari akhirnya jatuh, lalu ditusuk lagi hingga meninggal.

"Kami sudah memeriksa 20 saksi, terdiri dari 17 orang sipil, 2 orang militer, dan 1 polisi. Kemudian Pomal sudah mengumpulkan barang bukti, mulai dari senjata api, proyektil, badik, pakaian korban, dan properti hotel yang dirusak tersangka, serta rekaman CCTV hotel," tambah Eddy.

Dari kasus tersebut, ada dua oknum TNI AD, yakni Sertu A dan Koptu S, yang telah diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka. Mereka meminjamkan senjata api kepada tersangka.

"Tersangka Letnan RW sudah terbukti dan sudah mengakui perbuatannya. Tersangka melakukan pembunuhan dengan sajam, penyalahgunaan senjata api, dan merusak fasilitas umum. Letnan Dua RW sudah beberapa kali melakukan pelanggaran dan beberapa kali menjalani proses peradilan," ungkap Eddy.

Letnan Dua RW dijerat pasal pembunuhan dengan ancaman 15 tahun penjara, pasal perusakan, serta penyalahgunaan senjata api dengan ancaman 20 tahun penjara.



Sumber: BeritaSatu.com