Budidaya Maggot, Pemkot Tangerang Jaga Kelestarian Lingkungan

Budidaya Maggot, Pemkot Tangerang Jaga Kelestarian Lingkungan
Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang membudidayakan maggot untuk mengurai sampah rumah tangga menjadi sampah organik. (Foto: Ist)
Chairul Fikri. / HS Rabu, 8 Juli 2020 | 13:15 WIB

Tangerang, Beritasatu.com - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang terus mengupayakan perbaikan lingkungan di wilayah Kota Tangerang dengan mengontrol sampah rumah tangga atau sampah organik dari masyarakat. Salah satunya mengembangkan teknologi belatung black soldier fly (BFS) atau biasa dikenal dengan budidaya maggot.

Kepala Seksi Pengurangan Sampah, DLH Kota Tangerang, Dika Agus H, Selasa (7/7), menjelaskan bahwa teknik budidaya maggot ini dikembangkan di Intermediate Treatment Facility (ITF) Jatiuwung, Kota Tangerang tersebut sebagai upaya menjaga pelestarian lingkungan.

"Budidaya maggot yang dikembangkan DLH Kota Tangerang ini dilakukan untuk menjaga pelestarian lingkungan. Setiap hari 1 ton sampah rumah tangga atau sampah organik yang berasal dari Kota Tangerang diolah di ITF Jatiuwung ini menjadi pakan ikan. Dimana 40 kg maggot (belatung) mampu mengurai 800 kg - 1 ton sampah organik tanpa sisa," ungkap Dika.

Dia menjelaskan dalam prosesnya sampah akan diolah dalam budidaya maggot dengan pencacahan dan fermentasi. Kemudian, sampah dimasukan ke wadah atau kotak berisi maggot, dibiarkan hingga sampah organik habis dimakan maggot.

"Sampah fermentasi tersebut, hanya perlu dua hari untuk habis dimakan maggot. Hingga nantinya, maggot mengeluarkan kotoran, dan kotoran tersebutlah yang menjadi kompos untuk media tanam. Dan dari 800 kg - 1 ton sampah organik itu akan memproduksi 375 kg kompos, atau sekitar 15 karung kompos setiap hari," lanjutnya.

Selain Tangerang, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan juga membudidayakan maggot sebagai salah satu upaya menangani permasalahan sampah di wilayahnya.

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup M Amin belum lama ini mengatakan pengelolaan sampah organik menggunakan maggot dilakukan di Kompleks Asrama Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Kelurahan Pesanggrahan.
Dia menjelaskan, di lokasi tersebut menampung sejumlah sampah dan limbah rumah tangga dari sejumlah wilayah Jakarta Selatan.

Menurut Amin, maggot selain bermanfaat untuk mereduksi sampah organik, juga mempunyai nilai ekonomis, yaitu bisa menjadi sumber pakan ternak dan juga bisa menjadi pupuk.

Selain itu, maggot atau larva BSF bukan merupakan vektor penyakit dan relatif aman untuk kesehatan manusia.
Wali Kota Jakarta Selatan Marullah Matali berharap budidaya ulat maggot untuk pengelolaan sampah rumah tangga bisa dikembangkan lebih luas lagi di masyarakat.



Sumber: BeritaSatu.com