Dinkes dan Dinas LH Beda Persepsi Soal Limbah di Bekasi

Dinkes dan Dinas LH Beda Persepsi Soal Limbah di Bekasi
Limbah medis yang ditemukan di Zona IV TPA Sumurbatu, milik Pemkot Bekasi, merupakan hasil investasi dari KPNas baru-baru ini. (Foto: Suara Pembaruan/Mikael Niman)
Mikael Niman / HS Jumat, 10 Juli 2020 | 09:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dinas Kesehatan Kota Bekasi menyimpulkan tumpukan sampah yang diduga sebagai limbah medis dan diduga masuk kategori bahan berbahaya dan beracun (B3) merupakan sampah domestik. Adapun limbah tersebut dibuang dari rumah tangga warga Kota Bekasi. Penjelasan ini berbeda dengan keterangan dari Dinas Lingkungan sebelumnya yang mengatakan sebagai limbah medis.

“Sampah tersebut masuk kategori sampah domestik karena menggunakan kantong plastik hitam atau karung biasa,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Tanti Rohilawati, Kamis (9/7/2020).

Dia menegaskan sampah tersebut bukan berasal dari limbah medis yang dihasilkan oleh fasilitas kesehatan seperti klinik, Puskesmas maupun rumah sakit (RS) yang dibuang di Zona IV Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi.

Berdasarkan hasil tinjauan di TPA Sumurbatu, rata-rata sampah yang ditemukan berupa masker yang dibuang bersamaan sampah domestik lainnya. Sampah tersebut dimasukkan ke dalam kantong plastik (polybag) warna hitam dan karung biasa, bukan tempat sampah medis yang ditandai dengan warna kuning.

Tanti menjelaskan, walaupun dari temuan sampah tersebut terdapat masker tetapi saat ini penggunaan masker sudah dilakukan semua warga. “Jangan dikira masker tersebut merupakan limbah medis karena digunakan semua orang, sudah menjadi sampah domestik,” imbuhnya.

Hal itu mengingat pemerintah telah mewajibkan masyarakat menggunakan masker selama masa pandemi Covid-19. “Terkait temuan resep, itu bisa dari mana saja. Bahkan, bisa berasal dari rumah tangga, bukan hanya berasal dari rumah sakit atau fasilitas kesehatan,” tuturnya.

Khusus untuk limbah medis, rumah sakit ataupun fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), menandai dengan kantong berwarna kuning. Dengan begitu, tidak ditemukan indikasi tindak pidana sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Yayan Yuliana, mengatakan pelaku dugaan pembuangan limbah medis dan B3 ke Zona IV Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang, telah teridentifikasi. Hal tersebut baru dari hasil temuan struk pembayaran dan beberapa resep obat yang mengatasnamakan salah satu rumah sakit (RS) swasta di Kota Bekasi.

"Dari hasil verifikasi dan inspeksi ke lokasi, terlihat adanya struk pembayaran dan beberapa kertas bekas resep atas nama RS swasta,” ujar Yayan Yuliana, Selasa (8/7).

Meski begitu, kata Yayan, pihaknya tidak menemukan limbah medis bekas penanganan pasien Covid-19 di Zona IV TPA Sumurbatu, maupun di zona-zona lainnya. “Tidak ditemukan limbah medis bekas penanganan pasien Covid-19 sebagaimana yang telah dilaporkan oleh pihak terkait kepada kami,” ungkapnya.

Lebih lanjut, kata dia, pihaknya telah menyerahkan kasus penemuan limbah medis itu kepada pihak berwajib dan tengah ditangani Satkrimsus (Satuan Kriminal Khusus) Polres Metro Bekasi Kota.

Khusus penanganan limbah B3, Pemkot Bekasi melalui Dinas Lingkungan Hidup terus melakukan pengawasan dari hasil laporan per triwulan pengelolaan limbah dan fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan klinik. Saat ini ada sebanyak 46 RS swasta memiliki izin Tempat Penyimpanan Sementara Limbah B3 (TPS-LB3).



Sumber: BeritaSatu.com