40 Persen Kasus Covid-19 di Jakarta OTG

40 Persen Kasus Covid-19 di Jakarta OTG
Kepala Dinas Kesehatan DKI, Widyastuti (kerudung putih) memberikan keterangan tentang Jakarta Waspada DBD di kantor Dinkes DKI, Jakarta Pusat, Senin (28/1). (Foto: Beritasatu Photo / Lenny Tristia Tambun)
Hotman Siregar / DAS Sabtu, 11 Juli 2020 | 12:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta Widyastuti menyebut sebanyak 40 persen pasien positif Covid-19 adalah orang tanpa gejala (OTG). Karena itu saat ini hanya 2,5 sampai 5 persen kasus Covid-19 di Ibu Kota yang harus menjalani rawat inap di rumah sakit.

"Hanya 2,5 sampai 5 persen kasus yang harus dirawat di rumah sakit sedangkan sisanya isolasi mandiri," ujar Widyastuti, Sabtu (11/7).

Temuan OTG itu tidak lepas dari testing masif. Widya menjelaskan, Dinkes DKI terus melakukan testing Covid-19 di wilayah-wilayah rawan penyebaran virus Covid-19, seperti permukiman padat penduduk, pasar tradisional dan lainnya.

"Kita terus lakukan testing, dan hasilnya 40 persen kasus Covid-19 didapat dari OTG. Selama ini mereka-mereka itu tidak terdeteksi, sekarang kelihatan setelah kita cari terus," katanya.

Terkait penanganan pasien di RS, Widya mengatakan, tingkat okupansi RS yang merawat  pasien Covid-19 hanya 30 persen. Sementara saat ini jumlah bed yang siap menampung pasien Covid-19 mencapai lebih dari 4.000 bed tersebar di 67 RS rujukan. Jumlah RS rujukan Covid-19 itu masih bisa bertambah sesuai situasi dan kondisi. "Kita harap jangan sampai terisi (semua)," katanya.

Widya mengakui ada kenaikan jumlah kasus Covid di Jakarta pada sepekan terakhir. Kenaikan jumlah kasus itu, karena banyak Warga Negara Indonesia yang baru kembali dari luar negeri. Mereka berasal dari berbagai provinsi, namun untuk sementara transit dan menjalani isolasi di Jakarta.

Selain itu, banyaknya penambahan kasus karena adanya laporan akumulasi dalam satu bulan terakhir yang baru dilaporkan dari salah satu laboratorium sebuah rumah sakit. Penemuan kasus baru dari rumah sakit dan puskesmas, baik dari pasien, hasil contact tracing maupun active case finding.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah epidemiolog menyatakan bahwa penghimpunan data kasus Covid-19 masih belum bisa real time sehingga meyulitkan proyeksi dan menghambat langkah-langkah penanggulangan yang diambil. salah satu kekusutan dalam pegumpulan data adalah ketidaklengkapan pengisian data pasien sejak dari faskes tingkat bawah hingga penumpukan data. Data tidak langsung dilaporkan melainkan menumpuk beberapa hari.  

Dinas Kesehatan, demikian Widya, terus menyosialisasikan pentingnya masyarakat menjaga protokol kesehatan. Protokol kesehatan yang dimaksud yakni selalu memakai masker, selalu mencuci tangan, dan menjaga jarak.

"Kita ingin semua masyarakat mematuhi protokol kesehatan. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali," katanya.



Sumber: BeritaSatu.com