Ratusan Bus Urai Penumpukan Penumpang KRL di Stasiun Bogor

Ratusan Bus Urai Penumpukan Penumpang KRL di Stasiun Bogor
Antrean calon penumpang KRL di Stasiun Besar Bogor, Senin 13 Juli 2020. (Foto: Beritasatu Photo / Vento Saudale)
Vento Saudale / WBP Senin, 13 Juli 2020 | 08:33 WIB

Beritasatu.com - Ratusan bus yang disediakan Pemerintah Provinisi (Pemprov) DKI Jakarta dan Kementerian Perhubungan (Kemhub) pada Senin (13/7/2020) mampu mengurai penumpukkan penumpang KRL di Stasiun Besar Bogor.

Antrean penumpang jauh lebih pendek atau hanya berjarak 100 meter dari mesin tapping. Di area peron KRL commuterline pun tidak tampak ada punumpukan. Sementara rata-rata penumpang mengantre dengan durasi sekitar 30 menit.

Suasana berbeda dibanding Senin pekan lalu, dimana antrean penumpang KRL di Stasiun Bogor mengular hingga satu kilometer dari mesin tapping. Durasi antrean calon penumpang pun satu hingga dua jam. "Beda sekali dengan keadaan Senin kemaren. Hari ini nyaris ga da antrean. Mungkin karena banyak bus bantuan," kata Andhika (37) pekerja asal Bogor yang bekerja di Sudirman, Jakarta.

Baca juga: Antisipasi Antrean Penumpang, Jadwal KRL Ditambah

Antrean relatif panjang justru berada di jalur bus gratis bantuan. Sebelum naik bus, para calon penumpang antre di setiap jurusan yang tersedia yakni Tanah Abang, Tebet, Manggarai, Djuanda, dan Sudirman. "Gambling (dilema) juga sih naik bus takut macet. Tapi lebih baik dan gratis. Berharap penyediaan bus ini bisa permanen," kata Anne salah satu penumpang bus gratis jurusan Manggarai.

Wali Kota Bogor Bima Arya menyebut penumpang KRL para hari ini jauh lebih lenggang atau bisa disebut sepi. Bima menyebut, sejak Senin subuh sekitar pukul 05.00, sebagian penumpang KRL lebih memilih bus. "Kita lihat tadi penumpang di awal subuh lebih memilih naik bus karena di dalam cenderung kosong. Jika antrean di stasiun kosong, kita arahkan ke kereta atau sebaliknya. Jadi sistem buka tutup," katanya.

Ia pun melihat alternatif bus gratis sangat membantu mencairkan penumpukkan penumpang. Bima melihat solusi penyediaan bus tidak akan bisa permanen dan pemkot sendiri kewalahan karena tidak mempunyai lahan khusus untuk parkir bus bantuan.



Sumber: BeritaSatu.com