Sehari, Polisi Tilang 25 Mobil Pelat Hitam Pasang Sirine

Sehari, Polisi Tilang 25 Mobil Pelat Hitam Pasang Sirine
Ilustrasi polisi melakukan penertiban kendaraan yang memasang lampu isyarat atau rotator. (Foto: Beritasatu Photo / Vento Saudale)
Bayu Marhaenjati / JAS Kamis, 30 Juli 2020 | 13:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, menilang 25 mobil berpelat hitam yang memasang atau menggunakan sirine, dalam Operasi Patuh Jaya, di Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya, setiap hari. Kebanyakan pelanggar mengaku memasang sirine atau rotator karena ingin menghindari macet.

"Untuk penindakan terhadap sirene atau strobo itu kita sudah lakukan tindakan cukup banyak. Kendaraan-kendaraan yang berpelat hitam itu setiap hari kita tindak. Sehari bisa sampai 25 kendaraan kita tilang," ujar Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Sambodo Purnomo, Kamis (30/7/2020).

Dikatakan Sambodo, penindakan tilang kepada pengendara mobil yang memasang sirine untuk memberikan efek jera, sehingga tidak mengulangi lagi.

"Sekali lagi saya ingatkan tidak boleh kendaraan berpelat hitam menggunakan rotator atau sirine. Karena sudah diatur undang-undang kendaraan-kendaraan mana saja yang mendapatkan prioritas jalan, itu sudah diatur. Untuk mempertegas prioritas tersebut, instansi-instasi mana saja yang boleh menggunakan rotator serta warna-warna rotatornya apa, itu sudah diatur di dalam undang-undang," ungkapnya.

Semisal, tambah Sambodo, untuk kendaraan perawatan jalan dan kebersihan itu warna kuning, polisi warna biru, ambulans dan pemadam kebakaran warna merah.

"Jadi kalau kendaraan pelat hitam itu memang tidak boleh, itu akan kita tindak. Semua kendaraan berpelat hitam itu nggak boleh. Hanya kendaraan dinas itu pelatnya terlihat, itu ada kan TNI dan Polri juga itu jelas pelatnya. Selain itu kan tidak boleh," katanya.

Menyoal apa saja alasan pelanggar menggunakan rotator, Sambodo menuturkan, kebanyakan menyampaikan tidak mau terjebak macet.

"Ya tentu karena Jakarta terjadi kemacetan, mereka seolah-olah berusaha terlihat seperti petugas, sehingga mereka membuka jalan dan sebagainya. Tapi kan itu nggak boleh, itu melanggar ketentuan," katanya.

Sementara itu, Sambodo menjelaskan, hasil evaluasi selama tujuh hari Operasi Patuh Jaya, Ditlantas Polda Metro Jaya dan jajaran Satwil Lantas telah menindak 43.888 pelanggar lalu lintas dengan rincian tindakan tilang 15.472 serta teguran 28.416.

"Pelanggaran-pelanggaran yang terbanyak yang kita tindak adalah pelanggaran melawan arus dan pelanggaran di jalur busway," ucapnya.

Menurut Sambodo, Ditlantas tidak membandingkan jumlah penindakan antara Operasi Patuh Jaya tahun 2020 dengan 2019. Sebab, operasi kali ini digelar dalam situasi pandemi Covid-19.

"Kita tidak bisa membandingkan Operasi Patuh Jaya 2019 dan 2020. Kenapa? Karena dilaksanakan dalam situasi yang berbeda. Operasi Patuh Jaya 2020 kita lakukan dengan (situasi) berbeda karena dilakukan di masa pandemi. Target utamanya bukan berapa jumlah tilang, tapi target utamanya bagaimana kita memberikan edukasi dan preemtif kepada masyarakat untuk lebih patuh kepada aturan lalu lintas dan lebih paham sama protokol kesehatan Covid-19. Jadi kalau dilihat dari jumlah tilang ya, pasti turun karena cara tilangnya berbeda, target operasinya berbeda," jelasnya.

Sambodo mengungkapkan, jalur busway dan bahu jalan tol di Jakarta, menjadi wilayah yang paling tinggi terjadi pelanggaran. "Tapi sekali lagi jumlah tilang nggak jadi target, yang penting ada perubahan sikap, perubahan memahami lalu lintas di titik yang rawan pelanggaran," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com