Jadi 'Gubernur Syariah', Foke Dinilai Lempar Bumerang Sendiri

Jadi 'Gubernur Syariah', Foke Dinilai Lempar Bumerang Sendiri
Budayawan Betawi, Ridwan Saidi (tengah) ( Foto: Antara )
Selasa, 14 Agustus 2012 | 14:07 WIB
Islam ideologis cuma 16 persen dan cenderung merosot.

Budayawan Ridwan Saidi menilai kampanye SARA yang diusung oleh pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) terhadap Jokowi-Basuki akan kontraproduktif dan justru menjadi bumerang bagi pasangan itu sendiri.
 
Menurutnya, mengusung isu SARA hanya akan memperburuk risiko politik yang akan didapat kubu Foke-Nara, yang dikhawatirkan nantinya menjadi 'gubernur syariah'.

"Nanti warga ujungnya takut Foke jadi gubernur syariah. Itu otomatis dari sejak awal saya melihat demikian. Kita tak bisa salahkan warga karena hal demikian akan otomatis muncul di pikiran warga," kata Ridwan kepada  wartawan di Jakarta, hari ini.
 
Ridwan melanjutkan, hanya 16 persen dari warga Indonesia yang merupakan pemilih Islam Ideologis dan bahkan diprediksi turun hingga 10 persen di Pemilu 2014.

"Saya yakin di putaran II, 63,5 persen pemilih akan ke Jokowi-Basuki, sekitar 36,5 persen ke Foke. Kenapa? karena dia gunakan isu SARA yang mempersempit hitungan untuk dirinya sendiri. Islam ideologis itu cuma 16 persen di Indonesia dan cenderung merosot. Orang takut ada gubernur syariah," tegas Ridwan.

Dia  menambahkan 4 persen tambahan suara ke Foke-Nara adalah bonus dari  penggemar gubernur syariah. Ridwan menilai, ada beberapa faktor lainnya, di luar SARA, yang mendukung prediksinya tersebut.

Terkait aksi Foke-Nara yang mengakuisisi elit partai-partai besar, menurutnya juga takkan berpengaruh bagi perolehan suara pasangan itu.
Sebab mesin Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Golkar yang mengusung Alex-Nono di putaran I  tidak berjalan dengan baik sehingga perolehan suara pasangan itu sangat rendah. Bahkan pasangan itu hanya sanggup menempatkan saksi di 6.000 TPS  saja.
 
Sementara Partai Demokrat, seperti diakui tokoh-tokohnya, memiliki  elektabilitas yang merosot tajam karena kasus korupsi yang melibatkan  kadernya.

Sementara Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ridwan mengibaratkan, memiliki 'bulan  madu yang sudah berakhir' dengan masyarakat Jakarta yang sudah  berpengetahuan luas terhadap kinerja partai itu.
 
Dari perolehan suara Hidayat-Didik yang diusung PKS di putaran I, yang memperoleh sekitar 500.000 suara, Ridwan meyakini hanya sekitar 100.000 suara yang akan mampu dibawa mendukung Foke-Nara. Pasalnya, menurut dia, dari 500.000 suara ke Hidayat-Didik, kebanyakan adalah warga Partai Amanat Nasional (PAN) yang menyukai sosok Didik Rachbini, yang merupakan kader partai itu.
 
“Jadi PKS itu tak besar memberi sumbangan suara di putaran I. Paling dari 500.000 pemilih mereka di putaran I, mereka cuma bisa menggiring 100.000 pemilihnya ke Foke," kata Ridwan.

Yang selanjutnya harus diperhatikan adalah parpol di kubu Foke sangat jelas mengeroyok, dan malah akan menimbulkan simpati pada yang dikeroyok yakni Jokowi-Basuki.
 
Tapi bukankah di Pemilukada sebelumnya, yakni pada 2007, Foke sukses mengeroyok Adang-Dani yang diusung PKS? Menjawab itu, Ridwan menjelaskan bahwa konteksnya sudah berbeda. Pada 2007, semua parpol berkumpul di Foke sejak awal, tidak di tengah jalan seperti saat ini.
 
Kedua, kendati dikeroyok, Adang masih mendapatkan 42 persen suara padahal sosoknya sangat lemah. "Saat itu dihitung PKS mendapat suara 15 persen di Jakarta. Jadi 27 persen yang memilih Adang-Dani saat itu ya karena warga yang tak suka keroyokan partai-partai itu. keroyokan takkan sukses di Indonesia," tandasnya.