Korban Penculikan-Perkosaan Diusir dari Sekolah

Korban Penculikan-Perkosaan Diusir dari Sekolah
Ilustrasi penculikan. ( Foto: freedigitalphotos/worradmu )
Senin, 8 Oktober 2012 | 16:43 WIB
Pihak sekolah tak manusiawi karena pengumuman disampaikan saat upacara bendera.

ASS, korban penculikan dan perkosaan, dikeluarkan dari sekolah karena  dianggap mempermalukan sekolah dan merusak citra sekolah. Pengumuman dia  dikeluarkan dilakukan di tengah upacara bendera pagi tadi.
 
“Tindakan sekolah tindakan sekolah itu berlebihan dan tidak manusiawi karena itu dilakukan pengumumannya itu pada saat upacara bendera dan di depan semua siswa-siswi sekalipun tidak menyebut nama,” kata Arist Merdeka Sirait pada Beritasatu.com, hari ini.

Arist mengatakan, pada waktu masuk ruang kelas, wali kelas meminta korban meninggalkan sekolah tanpa memberikan alasan-alasan yang jelas. Pada 23 September, ASS pamit pada orangtuanya untuk pergi ke gereja. Sejak itu dia menghilang.

Orangtuanya melaporkan kehilangan ASS ke polisi pada 26 September. Menurut ASS, dia diculik dan diperkosa oleh seseorang yang dikenalnya melalui Facebook bernama Catur Sugianto.

Pada 23 September, dia dan Catur bertemu di depan SMP 3 Depok. Catur yang adalah supir angkutan umum itu membawanya ke Parung dan Ciseeng. Catur bahkan merencanakan untuk menjual ASS, siswi kelas IX SMP Budi Utomo, untuk menjadi pekerja seks di Batam.
 
Orangtua ASS akhirnya melaporkan kehilangan anak mereka ke polisi. Pada 30 September, Catur melepaskan ASS di stasiun Depok karena mengetahui bahwa polisi mulai mencari dia.

Arist mengatakan bahwa ASS trauma untuk kembali ke sekolah setelah kejadian  penculikan dan pemerkosaan itu. Namun orangtua, teman, dan tetangga terus memberikan dukungan agar dia kembali ke sekolah.
 
Namun pada hari pertama bersekolah, pihak sekolah justru mengumumkan di tengah upacara bendera bahwa seorang siswi dikeluarkan karena mempermalukan sekolah dan merusak nama baik sekolah. “Sebenarnya fungsi sekolah harus melindungi anak korban,” ujar Arist.

Menurutnya, kasus korban bisa dipakai alat kampanye agar peserta didik lainnya tidak jadi korban seperti dia. "Anak ini punya hak atas pendidikan meski dia pelaku dan korban. Apalagi sebagai korban, ASS punya hak untuk melanjutkan sekolah. Fungsi sekolah melindungi bukan mengeluarkan," pungkasnya.
 
Arist mengatakan, dia sudah melayangkan surat protes keras ke sekolah meminta mereka untuk membatalkan. “Kemungkinan kita akan merekomendasikan ke Kemendiknas untuk tinjau ulang izin dari sekolah, karena melanggar administrasi UU Perlindungan Anak. Dia bisa kena sanksi administrasi.”
 
Ketika dihubungi Beritasatu, baik kepala sekolah maupun guru tidak ada di tempat. Seorang staf tata usaha bernama Ratna membantah berita media. Menurut dia yang terjadi hanyalah kesalahpahaman.

“Sebenarnya dia belum dikeluarkan,” kata Ratna pada beritasatu.com. “Itu berita yang di media salah. Itu salah paham saja.”
 
Ketika dikonfrontasi bahwa berita tersebut datang dari orangtua ASS, Ratna mengatakan “Orangtuanya saja suruh ke sini, daripada bicara ke media.”