Logo BeritaSatu

Jadi Terdakwa, Korban Penganiayaan Duga Ada Motif Pemerasan

Rabu, 1 Desember 2021 | 19:02 WIB
Oleh : Chairul Fikri / FFS

Tangerang, Beritasatu.com - Wisnu, seorang korban penganiayaan yang justru menjadi terdakwa di Tangerang menduga kasus yang menjeratnya memiliki motif pemerasan senilai Rp 20 miliar. Hal itu terungkap dalam persidangan perkara yang menjerat Wisnu di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang dengan agenda pemeriksaan saksi, Rabu (1/12/2021).

Diketahui, Wisnu harus duduk di kursi terdakwa PN Tangerang dalam perkara dugaan pengeroyokan dan penganiayaan atas laporan suami istri berinisial L dan AO. Padahal, Wisnu mengeklaim sebagai korban penganiayaan yang dilakukan L dan AO.

"Jadi dalam sidang ini, kita menunjukan kepada majelis hakim bersama rekan-rekan yang hadir di ruang sidang video lengkap yang berdurasi 14 menit terkait kasus ini. Beda dengan yang mereka punya hanya video berdurasi 5 detik. Dalam video tersebut pasangan suami istri L dan AO yang melaporkan klien kami yang seharusnya menjadi korban malah ini jadi tersangka dan dipidana, bahkan anaknya yang tidak tahu menahu ikut dituduh jadi tersangka pengeroyokan dan ikut jadi terpidana," ungkap kuasa hukum Wisnu dan Alix, Arifin Umaternate saat ditemui usai sidang di PN Tangerang.

"Selain memutar video lengkap kejadian yang terjadi pada 20 Oktober 2020 silam, kita juga menghadirkan saksi dari pihak kami yang mengetahui kejadian tersebut yakni karyawan pak Wisnu, Meliana dan sekuriti dilokasi tersebut bernama Khairun yang mengetahui dan sempau melerai kejadian tersebut," kata Arifin menambahkan.

Wisnu mengaku tindakan kekerasan yang dilakukan pasangan tersebut dipicu tuduhan perselingkuhan yang dilakukan dirinya dengan L yang merupakan istri AO. Wisnu menegaskan tak melakukan yang ditudurhkan kepadanya tersebut.

"Jadi dalam kasus ini saya dituduh berselingkuh dengan L. Padahal saya sendiri sudah lama tidak bertemu bahkan dalam rentang waktu sekitar 4 tahun lebih tidak bertemu. Sejauh ini juga enggak pernah macam-macam. Tapi dia fitnah saya bahkan mengaku sempat tidur sama dia. Itu yang bikin suaminya marah, mendatangi kantor saya dan melakukan penganiayaan. Tapi bukan mereka yang dipidana malah saya dan anak saya yang sekarang jadi tersangka dan terpidana. Ini kan aneh," tutur Wisnu.

Wisnu mengaku tak mengetahui modus pasangan tersebut mendatangi dan marah-marah serta menganiaya dirinya. Namun, Wisnu menduga ada motif lain dari mereka, salah satunya pemerasan. Dugaan ini mencuat saat kasus yang menjerat Wisnu bergulir di tingkat penyidikan. Saat itu, L dan AO sempat meminta uang sebesar Rp 20 miliar untuk mencabut laporannya.

"Jadi saat kasus yang dilaporkannya disidik penyidik, sementara laporan kita belum, kan kita menjalani mediasi. Di situ dia bilang kalau mau laporannya dicabut maka saya harus kasih mereka Rp 20 miliar, kalau enggak ini akan dilanjutkan ke pengadilan. Ini kan sama saja ada dugaan pemerasan kepada saya. Atas kejadian ini saya mohon majelis hakim bisa memutus perkara ini dengan seadil-adilnya," ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, Wisnu dan anaknya Alix didatangi pasangan suami istri L dan AO di kantornya pada 20 Oktober 2020 lalu. Kedatangan mereka untuk meminta pertanggungjawaban atas tuduhan perselingkuhan yang dilakukan Wisnu dengan L. Lantaran tuduhan itu tak ditanggapi, pasangan suami istri itu menganiaya Wisnu dan sempat ingin menganiaya Alix. Namun upaya itu dicegah oleh Wisnu. Hal itu yang dianggap L dan AO sebagai tindakan pengeroyokan dan penganiayaan.

Wisnu telah melaporkan L dan AO ke Polsek Kelapa Dua Kabupaten Tangerang dengan dugaan tindakan pidana penganiayaan dan tercantum dalam nomor LP/505/K/X/RES.1.6/2020 Sek.Klp Dua pada hari kejadian dengan tuduhan penganiayaan. Namun L dan AO melaporkan balik Wisnu dan Alix ke Polresta Tangerang Selatan pada 3 Desember 2020.

Pihak kepolisian melanjutkan kasus yang dilaporkan L dan AO dengan menetapkan Wisnu dan Alix sebagai tersangka pengeroyokan dan penganiayaan dengan menerapkan Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan dengan ancaman pidana maksimal 2 tahun 8 bulan, dan Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan dengan ancaman maksimal 5 tahun 6 bulan. Saat ini ayah dan anak itu menjalani persidangan sebagai terdakwa.

"Yang pasti kami berharap Kejaksaan Agung bisa menelaah kasus ini. Kenapa yang seharusnya jadi korban malah sekarang jadi tersangka dan dipidana. Ini merupakan preseden buruk pengungkapan kasus di Indonesia. Orang yang dianiaya tidak boleh membela diri karena akan menjadi terpidana dan terancam dihukum. Atas kejadian ini kami harap majelis hakim bisa memutuskan perkara ini dengan seadil-adilnya dan membebaskan mereka dari dakwaan," kata Arifin.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# Deddy Corbuzier


# UAS


# Timnas Indonesia


# Minyak Goreng


# Lin Che Wei


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Demo 21 Mei, La Nyalla Minta Masyarakat Waspadai Provokator

Demo 21 Mei, La Nyalla Minta Masyarakat Waspadai Provokator

NEWS | 3 jam yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings