Virus Korona, Target Pertumbuhan Ekonomi Tidak Akan Direvisi
INDEX

BISNIS-27 426.538 (11.39)   |   COMPOSITE 4842.76 (103.04)   |   DBX 923.5 (7.76)   |   I-GRADE 127.867 (3.45)   |   IDX30 404.318 (11.17)   |   IDX80 105.647 (2.92)   |   IDXBUMN20 263.312 (10.37)   |   IDXG30 113.239 (2.36)   |   IDXHIDIV20 361.834 (9.72)   |   IDXQ30 118.461 (3.18)   |   IDXSMC-COM 206.934 (3.31)   |   IDXSMC-LIQ 229.9 (5.97)   |   IDXV30 99.778 (3.02)   |   INFOBANK15 760.318 (27.06)   |   Investor33 353.585 (10.19)   |   ISSI 142.238 (2.46)   |   JII 514.346 (9.5)   |   JII70 174.038 (3.75)   |   KOMPAS100 945.162 (25.96)   |   LQ45 740.002 (20.32)   |   MBX 1338.07 (31.05)   |   MNC36 264.409 (7.18)   |   PEFINDO25 251.635 (8.18)   |   SMInfra18 228.656 (4.87)   |   SRI-KEHATI 297.818 (8.93)   |  

Virus Korona, Target Pertumbuhan Ekonomi Tidak Akan Direvisi

Kamis, 13 Februari 2020 | 15:52 WIB
Oleh : Herman / MPA

Jakarta, Beritasatu.Com - Meskipun banyak pakar yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa terkoreksi hingga 0,3% apabila ekonomi Tiongkok tergerus 1% akibat wabah virus korona, pemerintah Indonesia hingga saat ini tidak mengkoreksi target pertumbuhan ekonomi di 2020 yang ditetapkan sebesar 5,3%.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir menyampaikan, potensi penurunan pertumbuhan ekonomi hingga 0,3% ini hanya akan terjadi apabila pemerintah Indonesia tidak melakukan langkah antisipasi apapun.

Saat ini, pemerintah terus berupaya meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan terhadap perekonomian akibat wabah korona, termasuk juga melihat peluang yang bisa diambil dari terhambatnya impor Tiongkok ke berbagai negara di seluruh dunia.

"Pemerintah tetap pada target pertumbuhan ekonomi yang sudah ditetapkan. Kita kan belum tahu dampak (wabah korona) ini akan sampai kapan, tapi juga katanya tidak akan lama. Tetapi dalam periode ini, kita tetap melakukan berbagai upaya untuk menjaga ekonomi kita tetap baik, salah satunya dengan mempertahankan daya beli. Apalagi konsumsi memberi sumbangan sampai 56% terhadap PDB kita," kata Iskandar Simorangkir, di gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (13/2/2020).

Iskandar menyampaikan, berbagai upaya yang dilakukan antara lain dengan menggenjot belanja K/L melalui skema front loading, di mana sejumlah besar porsi belanja akan digenjot pada Semester I 2020, termasuk juga penyaluran Dana Desa yang sudah dimulai sejak Januari 2020 dengan porsi 40%.

"Konsumsi harus terus kita jaga. Bank juga terus kita dorong untuk mempercepat penyaluran KUR bagi para UMKM. Kemudian Rakornas yang biasanya di Jakarta kita dorong untuk dialihkan ke daerah-daerah terdampak yang mengalami penurunan kunjungan wisatawan. Kita juga sedang melihat peluang untuk mengambil pasar cerukan Tiongkok yang biasanya ekspor ke negara lain dan punya kesamaan produk dengan kita," kata Iskandar.

Masih rendahnya kontribusi Indonesia dalam global value chain menurutnya juga memberi keuntungan tersendiri, sehingga Iskandar meyakini dampak wabah korona tidak akan terlalu besar bagi perekonomian Indonesia. Dari sisi inflasi menurutnya juga tidak akan banyak terpengaruh. Iskandar mengatakan inflasi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor cuaca, khususnya untuk inflasi pangan.

Hal senada disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo. BI menurutnya tetap memproyeksikan inflasi di 2020 akan berada di kisaran 3 plus minus 1%.

"Pada saat kita memproyeksikan inflasi tersebut, kita juga sudah memperhitungkan semua risiko yang bisa memengaruhi inflasi, termasuk risiko global seperti harga komoditas atau wabah virus. Kemudian risiko domestik apabila ada penyesuaian harga yang diatur pemerintah," kata Dody.

Omnibus Law

Sementara itu di kesempatan sebelumnya, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono juga meyakini dampak negatif wabah korona bagi perekonomian Indonesia bisa digantikan oleh dampak positif dari omnibus law Cipta Kerja dan juga omnibus law Perpajakan.

Bila omnibus law berjalan ideal sesuai dengan yang direncanakan, Susiwijono yakin regulasi baru ini bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia antara 0,2% sampai 0,3% di 2020.

Dikatakan Susiwijono, selama ini yang berkontribusi paling besar terhadap PDB Indonesia adalah konsumsi dan investasi. Tujuan omnibus law salah satunya juga adalah untuk mendorong peningkatan investasi dan menciptakan lebih banyak lagi lapangan pekerjaan.

"Investasi ini ujung-ujungnya juga akan mendorong konsumsi. Kalau investasi meningkat, lapangan pekerjaan baru akan tercipta, kesejahteraan meningkat. Pada akhirnya ini akan meningkatkan income per kapita. Begitu income naik, daya beli atau konsumsi pasti naik. Jadi pengaruh omnibus law ini juga bisa ke konsumsi," papar Susiwijono.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Dampak Korona, Arus Penerbangan Turun 30%

Guna menutupi potensi kerugian akibat penurunan lalu lintas itu, maka pemerintah menyiapkan skema insentif bagi maskapai.

EKONOMI | 13 Februari 2020

Gapki Berharap Omnibus Law Sederhanakan Regulasi

Omnibus law yang digagas pemerintah diharapkan bisa sederhanakan regulasi,sehingga diharapkan berdampak positif terhadap industri sawit.

EKONOMI | 13 Februari 2020

Sesi I, IHSG Berbalik Melemah

Investor asing mencatat aksi jual sebesar Rp 167,74 miliar.

EKONOMI | 13 Februari 2020

Siang Ini, Rupiah Terdepresiasi ke Kisaran Rp 13.680

Rupiah berada di level Rp 13.687,5 per dolar AS atau terdepresiasi 13,5 poin (0,1 persen).

EKONOMI | 13 Februari 2020

Peduli Sampah Plastik, Oasis Blu Luncurkan Kemasan Botol

Kemasan botol kaca Oasis Blu ini juga untuk memberikan air minum dengan kualitas terbaik untuk konsumen Indonesia.

EKONOMI | 13 Februari 2020

Bank DKI Dukung Program Pangan Murah Jakarta

Program ini menyasar kelompok masyarakat tertentu

EKONOMI | 13 Februari 2020

Harga Minyak Mentah Dunia Naik 3% Setelah Penyebaran Korona Mereda

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April naik 1,78 dolar AS atau 3,3 persen menjadi menetap di 55,79 dolar per barel.

EKONOMI | 13 Februari 2020

Rupiah Stabil di Kisaran Rp 13.670

Rupiah berada di level Rp 13.673 per dolar AS atau terapresiasi 1 poin (0,01 persen).

EKONOMI | 13 Februari 2020

IHSG Berpotensi Menguat, Ini Rekomendasi Saham Valbury Hari Ini

Valbury merekomendasikan saham BBRI, ADRO, KLBF, WIKA, LSIP, AALI.

EKONOMI | 13 Februari 2020

IHSG Dibuka Positif, Bursa Asia Mixed

IHSG dibuka menguat 0,18 persen ke kisaran 5.923,61.

EKONOMI | 13 Februari 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS