Menuju Optimalisasi Peran Industri Manufaktur Nasional dalam Rantai Pasok Global

Menuju Optimalisasi Peran Industri Manufaktur Nasional dalam Rantai Pasok Global
Toyota ( Foto: Toyota )
Nurlis E Meuko / NEF Senin, 24 September 2018 | 13:04 WIB

Jakarta - Visi menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia yang dicanangkan pemerintahan Presiden Jokowi-JK pada 2014 lalu telah memberikan angin segar pada arah pembangunan ekonomi. Visi ini bukan sebatas bagaimana pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya kelautan, tapi seperti tertuang dalam salah satu pilarnya, visi ini juga menyangkut peningkatan koneksivitas dan pengembangan sektor logistik.

Di sisi lain, seiring dengan dinamika perekonomian dunia, salah satu isu terpenting saat ini adalah semakin derasnya arus global supply chain atau rantai pasok global. Terkait dengan hal ini, visi Poros Maritim Dunia menjadi sangat strategis. Seperti diketahui, 90% transportasi perdagangan dunia melalui laut, dan 40% diantaranya melewati perairan Indonesia. Dalam posisi strategis ini, Indonesia mempunyai potensi besar untuk mengambil manfaat dari arus rantai pasok global untuk kepentingan pembangunan ekonomi.

Berbagai kebijakan pemerintah untuk mewujudkan visi tersebut sudah melihatkan hasil. Percepatan pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas layanan di pelabuhan telah memberi dampak positif. Kebijakan seperti pemberlakuan single billing, integrasi Inaportnet system ke dalam system Indonesia National Single Window (INSW) berhasil meningkatkan kualitas pelayanan di pelabuhan sehingga konektivitas saat ini terasa jauh lebih lancar.

Membaiknya konektivitas antara lain terlihat pada peningkatan Logistic Performance Index (LPI). Berdasarkan data Bank Dunia, LPI Indonesia mengalami perbaikan yang signifikan, naik ke posisi 46 di antara 160 negara, jauh di atas posisi 2104 lalu yaitu di ranking 53. Peningkatan kinerja sektor logistik ini telah memberi dampak positif dan memberi harapan terhadap peningkatan daya saing pelaku ekonomi, termasuk di sektor manufaktur.

Perbaikan pada LPI juga telah mendorong peningkatan daya saing perekonomian nasional. Berdasarkan World Economic Forum (WEF), Global Competitiveness Index kini berada di posisi 36 di antara 140 negara.

Perbaikan pada LPI juga telah mendorong peningkatan daya saing perekonomian nasional. Berdasarkan World Economic Forum (WEF), Global Competitiveness Index kini berada di posisi 36 di antara 140 negara. Perbaikan LPI juga telah mengurangi disparitas harga di pasar dalam negeri dan memperlancar arus perdagangan luar negeri atau ekspor-impor.

Sebagai pelaku industri otomotif, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) ikut merasakan dampak positif tersebut. Perbaikan pada pelayanan pelabuhan tidak hanya mendukung kelancaran distribusi mobil Toyota ke berbagai pelosok negeri, sekaligus juga memberi peluang untuk meningkatkan kualitas layanan ke pasar global atau pasar ekspor.

“Upaya pemerintah mewujudkan visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia telah memberi dampak posistif terhadap peningkatan efisiensi arus barang dan kegiatan ekspor Toyota,” kata Presiden Direktur TMMIN Warih Andang Tjahjono.

Dalam lima tahun terakhir, TMMIN telah berhasil meningkatkan ekspor secara sangat siginifikan. Sepanjang 2013-2017, total ekspor kendaraan dalam bentuk utuh (completly build up/ CBU) bermerek Toyota mencapai 823.000 unit, sehingga secara akumulatif total ekspor sejak 1987 telah berhasil menembus angka 1 juta unit. Untuk 2018 ini, ekspor CBU ditargetkan bisa mencapai 217.000 unit, yang akan dipasarkan ke 80 negara.

Melalui kinerja tersebut, kendaraan utuh bermerek Toyota tercatat sebagai kontributorr terbesar di sektor industri otomotif dengan kontribusi sekitar 80% terhadap total ekspor otomotif nasional. Atas capaian ini, TMMIN telah memperoleh 8 kali penghargaan tertinggi di bidang ekspor dari pemerintah Indonesia yaitu Primanyarta.

Peningkatan ekspor juga memberi peluang untuk meningkatkan produksi. Sepanjang 2013-2017, produksi mobil Toyota di Indonesia mencapai 2,579 juta unit dengan penggunaan komponen dalam negeri 75% sampai 94%. Sekitar 30% dari produksi ini diekspor. Ada sembilan model kendaraan bermerek Toyota yang diekspor ke mancanegara yaitu Fortuner, Kijang Innova, Vios, Yaris, Sienta, Avanza, Rush, Agya, dan Townace/Townlite, yang diproduksi di fasilitas manufaktur TMMIN serta PT Astra Daihatsu Motor (ADM) sebagai bagian dari Toyota grup di Indonesia.

Rantai Pasok Global

Berbagai potensi yang ada dan didukung lokasi geografis yang strategis, meyakinkan TMMIN bahwa industri manufaktur (otomotif) Indonesia mempunyai peluang besar meraih manfaat dari arus rantai pasok global yang terus berkembang.

Terkait hal tersebut, selain meningkatkan investasi pada fasilitas produksi, TMMIN terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), termasuk di 139 perusahaan mitra atau supplier lapis pertama. Tujuannya, agar kualitas produk dan layanan mampu memenuhi standard global sehingga bisa meraih manafaat yang lebih besar dalam arus rantai pasok industri otomotif dunia. Pada akhirnya ini diharapkan akan meningkatkan kontribusi TMMIN dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai Poros Maritim dunia.

Berbagai kegiatan telah dirancang dan dilaksanakan seperti Toyota Production System (TPS) Jishuken yaitu program alih keahlian dan keterampilan kepada pemasok. Program ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing dalam supply chain industri otomotif. Jishuken berasal dari dua suku kata yaitu Jishu dan Kenkyu yang artinya adalah kemampuan untuk melakukan investigasi permasalahan, serta membuat rencana dan aktivitas secara mandiri.

Pengembangan kualitas dan kompetensi juga dilakukan melalui Toyota Learning Centre dan Toyota Indonesia Academy yang bertujuan meningkatkan daya saing produk dan layanan yang dihasilkan agar memenuhi standard global. Selain itu, pengembangan SDM juga dilakukan melalui beberapa program di antaranya idea suggestion dan gugus kendali mutu atau Quality Control Circle (QCC).

Peningkatan daya saing SDM menjadi salah satu kunci utama menjawab tantangan dan peluang di era pasar global. TMMIN akan terus berupaya mengembangkan berbagai kegiatan agar kualitas SDM dan pemasok selaras dengan standar keterampilan global.

Melihat berbagai kemajuan yang dicapai dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, tidak berlebihan untuk berharap, peluang industri manufaktur nasional untuk meraih manfaat dalam arus rantai pasok global akan semakin terbuka. Ini sekaligus akan meningkatkan kontribusi sektor ini dalam pertumbuhan ekonomi, baik melalui kegiatan investasi dan ekspor dan pembukaan lapangan kerja.



Sumber: BeritaSatu.com