Riset 6 PTN soal Mobil Listrik, Hybrid Paling Siap

Riset 6 PTN soal Mobil Listrik, Hybrid Paling Siap
Enam PTN saat memaparkan laporan akhir fase 2 riset komprehensif electrified vehicle di Denpasar, Bali, Selasa (23/4/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 24 April 2019 | 19:43 WIB

Denpasar, Beritasatu.com - Enam universitas negeri yaitu Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Institut Teknologi 10 November (ITS), dan Universitas Udaya (Unud) telah menyelesaikan riset dan penelitian komprehensif kendaraan bertenaga listrik (Electrified Vehicle Comprehensive Research and Study) fase 2 yang mendapat dukungan dari Kementerian Perindustrian (Kemperin) dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

Ketua Tim Mobil Listrik Nasional Agus Purwadi mengatakan, berdasarkan hasil riset diketahui jika mobil listrik jenis hybrid paling siap dikembangkan di Indonesia. Hal ini disesuaikan dengan kesiapan infrastruktur. “Kalau untuk electrical vehicle masih terkendala dengan infrastruktur. Infrastrukturnya harus disiapkan,” ujar Agus Purwadi saat memaparkan laporan akhir fase 2 riset komprehensif electrified vehicle di Denpasar, Bali, Selasa (23/4/2019).

Selain itu, kata dia, agar hybrid atau listrik diminati konsumen, harganya harus murah. Harga idealnya Rp 250 jutaan. Paling tidak sama dengan Avanza.

Dalam riset itu, para peneliti dari enam kampus membedah 18 unit mobil listrik dan konvensional yang disediakan Toyota Indonesia sebagai bahan penyusunan peta jalan industri otomotif Indonesia. Mobil yang diuji coba Toyota Prius, Toyota Prius Plug-in Hybrid, dan Corolla Altis.

Lima kategori penelitian yang dilakukan meliputi Lima kategori penelitian yang dilakukan meliputi karakteristik teknik, kenyamanan pengguna, keekonomian, peraturan dan kebijakan, serta tahap pengembangan teknologi.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) Kemperin Harjanto mengapresiasi, rampungnya pondasi awal penyusunan peta jalan industri otomotif Indonesia. Hasil riset tersebut akan menjadi masukan yang sangat berharga dalam penyusunan cost benefit analysis program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) maupun harmonisasi Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) yang kini sedang di finalisasi bersama Kementerian Keuangan.

Haryanto menuturkan, pada 2030 mendatang pemerintah menargetkan Indonesia dapat menjadi pusat produksi mobil bertenaga Internal Combustion Engine (ICE) maupun listrik untuk pasar domestik sampai ekspor. Agar bisa menjual produk tersebut ke luar negeri, tentu saja diharapkan industri nasional dapat memproduksi bahan baku dan komponen utamanya secara mandiri.



Sumber: BeritaSatu.com