Pasar Stagnan, Honda Tak Pasang Target Penjualan

Pasar Stagnan, Honda Tak Pasang Target Penjualan
Tampilan baru New Honda BR-V. ( Foto: Berita Satu Photo / Herman )
Harso Kurniawan / HK Minggu, 5 Mei 2019 | 21:43 WIB

Jepara, Beritasatu.com – PT Honda Prospect Motor (HPM) tidak memasang target penjualan tahun ini, menyusul stagnannya pasar mobil domestik dalam beberapa tahun terakhir di level 1-1,1 juta unit. Agen pemegang merek (APM) mobil Honda itu fokus menjaga kinerja operasional dealer dan masa tunggu mobil.

Direktur Pemasaran dan Purnajual PT HPM Jonfis Fandy mengatakan, pihaknya biasanya menetapkan target ketika pasar mobil sedang naik dan hanya memantau perkembangan ketika pasar stagnan. “Prinsipnya, kalau memang Brio yang lebih banyak permintaanya, kita akan produksi Brio. Kalau New BR-V bagus, ya kita tambah produksi BR-V. Jadi, semua tergantung permintaan,” ujar Jonfis di Jepara, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

Jonfis mengaku hingga saat ini belum ada penurunan produksi domestik akibat ekspor Brio yang dimulai awal April 2019. Agar produksi stabil, HPM memberlakukan lembur. Jonfis menjelaskan, saat ini, produksi mobil masih berjalan dengan metode satu shift. Andai permintaan pasar domestik dan ekspor sama-sama tinggi dalam waktu bersamaan, jumlah shift bisa saja ditambah.

“Kalkulasinya harus jelas, tidak bisa naikkan bulan ini, lalu turun bulan depan. Saat ini, kapasitas maksimal pabrik Honda Karawang mencapai 200 ribu setahun,” ujar dia.

Jonfis menambahkan, HPM juga berusaha agar inden suatu model tidak lebih dari empat bulan. Caranya dengan mengalihkan kelebihan stok di satu dealer ke dealer lain yang permintaannya tinggi. Hal ini akan memicu efisiensi dan menambah kenyamanan konsumen dalam hal pengiriman unit. “Ini baru kita lakukan di daerah Jabodetabek. Kalau di luar pulau sulit," ucap dia.

Jonfis juga enggan menyebutkan target penjualan New BR-V yang dilepas di Telkomsel Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019. Namun, dia berharap penjualan low SUV ini bisa sama seperti model terdahulu, sekitar 500 unit per bulan.

Jonfis menjelaskan, di awal kehadirannya, BR-V masih bisa menggaet para trend seeker, sehingga pernah mencapai penjualan 10 ribu unit dalam sebulan. Namun, dia mengakui, selepas itu, penjualan BR-V turun.

Jonfis menilai, naik-turunnya permintaan dalam bisnis adalah hal biasa. BR-V terbantu karena satu sasis dengan Brio, yang laris di Indonesia. Di sisi lain, kehadiran pemain Tiongkok, Wuling dan DFSK, dengan fitur yang beragam tidak membuat Honda terusik. Jonfis mengatakan, saat kali pertama BR-V, Mobilio, dan HR-V meluncur, fiturnya sudah jauh di atas kompetitor.



Sumber: Investor Daily