BPPT Siapkan Ekosistem Pendukung Kendaraan Listrik

BPPT Siapkan Ekosistem Pendukung Kendaraan Listrik
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B Pandjaitan dan Menteri Riset Teknologi Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, saat pembukaan IEMS 2019 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (4/9/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Ari Supriyanti Rikin / FER Rabu, 4 September 2019 | 20:34 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Untuk menekan tingkat polusi dan mendapatkan lingkungan yang lebih sehat, Indonesia perlu menekan penggunaan kendaraan berbasis fosil dan menggantinya ke kendaraan berbasis listrik (KBL). Lompatan teknologi pun diperlukan untuk menghadirkan mobil dan motor listrik ramah lingkungan yang memiliki tingkat kandungan dalam negeri cukup besar.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan, era KBL merupakan bagian dari disrupsi teknologi. Oleh karena itu, BPPT siap diberi mandat untuk menyiapkan ekosistem pendukung pengembangan KBL yang melibatkan banyak pemangku kepentingan (stakeholder).

"Kita harus lihat dari hulu ke hilir kebutuhan Indonesia (untuk KBL) seperti apa," kata Hammam Riza di sela-sela
Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019 bertajuk Electric Vehicle for Smart Transportation di Jakarta, Rabu (4/9).

IEMS 2019 merupakan inisiasi BPPT. Gelaran ini juga menjadi ajang sosialisasi KBL yang punya manfaat positif pada lingkungan. Turut hadir dalam pembukaan IEMS di Balai Kartini, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B Pandjaitan dan Menteri Riset Teknologi Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir.

Melalui IEMS 2019, lanjut Hammam, masyarakat diharapkan mau memberikan kesempatan untuk menerima inovasi baru dalam kehidupannya agar mulai terbiasa menggunakan kendaraan ramah lingkungan. Dalam IEMS ini selain KBL buatan lembaga penelitian dan universitas, sejumlah produsen otomotif juga memamerkan KBLnya.

Dalam Pameran IEMS tersebut, lembaga yang bergerak di bidang kaji-terap teknologi ini akan turut memperkenalkan produk kendaraan listrik, khususnya hasil karya anak bangsa.

IEMS 2019 ini digelar 4-5 September di Balai Kartini Jakarta. Nanti pada 7 September 2019 dilakukan konvoi kendaraan listrik dari kantor BPPT Thamrin menuju Puspiptek Serpong.

Hammam menambahkan, jika ekosistem KBL disiapkan akan terjadi rantai pasok dan bisa saja KBL nanti harganya murah. Ekosistem pengembangan KBL lanjutnya terdiri dari baterai, motor penggerak, penyediaan listrik untuk fast charging, bengkel dan suku cadang jika ada kerusakan kendaraan listrik. Selain itu juga perlu dipikirkan recycle  baterai yang tidak lagi digunakan.

"Kita harus bisa membangun ekosistem industri rancang bangun produksi mobil listrik Indonesia," ucap Hammam.

Pengembangan KBL merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 Tentang Percepatan Program KBL Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan. Pengembangan teknologi KBL di dalam negeri diyakini tidak lagi menjadikan Indonesia sekadar pasar KBL tetapi juga produsen.

Saat ini, BPPT juga telah membuat dua stasiun pengisian kendaraan listrik atau electric vehicle charging station (EVCS). Fast charging station berkapasitas 50 kW itu ditempatkan di dua kantor BPPT yang berada di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat dan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten.



Sumber: Suara Pembaruan