Diganti Merek Palsu, Sepatu $20 Terjual $640

Diganti Merek Palsu, Sepatu $20 Terjual $640
Toko sepatu Payless. ( Foto: Richmond BizSense )
Heru Andriyanto / HA Senin, 3 Desember 2018 | 04:12 WIB

Perilaku kosumen memang aneh. Kadang-kadang mereka justru memilih harga yang jauh lebih mahal ketika sebuah produk dipoles dengan promosi berkelas dan diberi nama baru yang lebih mentereng dan terkesan eksklusif.

Hal ini sudah dibuktikan oleh Payless, produsen sepatu harga terjangkau yang kemudian melakukan penjajakan konsumen sekaligus promosi dengan cara yang sangat unik.

Payless, yang makna harfiahnya adalah "bayar murah", membuka sebuah toko palsu dengan nama "Palessi" di sebuah mal Los Angeles, California, dan mengundang sejumlah sosialita pada acara grand opening.

Toko palsu ini dipenuhi sepatu-sepatu Payless, tetapi mereknya disembunyikan.

"Saya bersedia membayar US$ 400 atau US$ 500," kata seorang wanita dalam iklan televisi toko itu, sambil memegang sepasang sepatu sneaker yang harga aslinya US$ 19,99. Seorang pengunjung lain mengatakan sepatu-sepatu Payless itu "elegan dan canggih."

Dalam melakukan trik tersebut, Payless juga membuat situs baru dan tak lupa akun Instagram.

Sekitar 80 sosialita hadir selama dua malam, menurut klaim Payless. Mereka mampu menjaring pembelian senilai total US$ 3.000. Salah satu pembeli membayar US$ 640 untuk sepasang sepatu boot, atau terjadi markup 1.800% dari harga asli.

Namun, Payless kemudian mengembalikan semua uang pembelian dan memberikan sepatu itu gratis. Payless mengatakan para sosialita dibayar murah untuk hadir di toko "Palessi" itu.

Eksperimen ini bertujuan mengingatkan para konsumen bahwa Payless memiliki sepatu-sepatu yang terjangkau sekaligus modis atau fashionable, kata CEO Sarah Couch.

Sebuah penelitian pada 2008 mengungkap bahwa harga bisa mempengaruhi persepsi tentang kualitas. Subjek penelitian diberi anggur murah dan mereka yang diberitahu bahwa anggur yang diminum harganya lebih mahal, mereka mengatakan rasanya lebih enak dan lebih nikmat diminum.

Cara marketing seperti ini, yang membuat konsumen kaget atau tak menyangka agar terjadi efek viral, sudah banyak diterapkan.

Payless sendiri sedang keusulitan akibat persaingan sengit melawan produsen yang menjual secara online, seperti Zappos milik Amazon, dan Allbirds. Pada 2017, perusahaan mengajukan gugatan pailit, tetapi empat bulan kemudian bangkit lagi setelah menutup sekitar 700 toko.



Sumber: CNN
CLOSE