Gebyar Pernikahan Indonesia 2019 Bidik Transaksi Rp 70 Miliar

Gebyar Pernikahan Indonesia 2019 Bidik Transaksi Rp 70 Miliar
Pameran Gebyar Pernikahan Indonesia (GPI) 2019 kembali digelar selama tiga hari, pada 8-10 Februari 2019 di Kartika Expo, Balai Kartini, Jakarta Selatan. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Chairul Fikri / FER Kamis, 31 Januari 2019 | 21:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pameran pernikahan Gebyar Pernikahan Indonesia (GPI) 2019 kembali digelar selama tiga hari, pada 8-10 Februari 2019 di Kartika Expo, Balai Kartini, Jakarta Selatan. Pameran yang digelar kesepuluh kalinya ini, menargetkan 16.000 pengunjung dan transaksi sebesar Rp 70 miliar.

"Kami optimistis target pengunjung sebanyak 16.000 dan target transaksi sebesar Rp 70 miliar dapat tercapai selama tiga hari penyelenggaraan," kata Marketing Director Parakrama Organizer, Arief Rachman, kepada Beritasatu.com, di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (31/1).

Tahun ini, kata Arief, Parakrama Organizer yang telah sukses menghadirkan sembilan kali eksibisi pernikahan tradisional sejak tahun 2005, mengangkat tema Asmaradana Pengantin Jawa. Eksibisi akan terbuka untuk umum, sehingga seluruh masyarakat dapat menikmati dan menyaksikan rangkaian acara yang kaya akan budaya adat Jawa dan seluruh Indonesia.

"Parakrama Organizer memahami bahwa masyarakat Jawa memiliki tradisi yang demikian beragam dalam perhelatan hari besar, salah satunya pernikahan. Sebagai momen yang dianggap sakral, menyatunya dua insan dirayakan masyarakat Jawa melalui sebuah seremoni dengan tata cara spesifik, runut, kaya makna di setiap langkah, gerakan serta sarat estetika," jelas Arief.

Arief menyampaikan, GPI 2019 menghadirkan lebih dari 150 vendor pernikahan mulai dari venue, katering, dekorasi, busana, aksesoris, tata rias adat, undangan, paket bulan madu atau honeymoon, hingga entertainment. "Seluruhnya menghadirkan berbagai informasi pernikahan yang membantu calon pengantin adakan pernikahan impian," tambah Arif.

Marketing SISS The Wedding, Rostantri, mengatakan, Paes Ageng Kanigaran Yogyakarta menjadikan pengantin laksana raja dan ratu dalam prosesi pernikahan. Begitu indah, unik dan rinci serta harus dijalani penuh kekuatan dan kesabaran.

"Riasan dan busana pengantin menjadi ciri khas utama adat ini, dimana terdapat rangkaian pakem atau aturan yang harus dipatuhi dan tidak boleh dilakukan secara sembarangan," kata Rostantri.

Menurut Rostantri, karena setiap daerah di Pulau Jawa memiliki pakem masing-masing, maka sangat penting untuk memperhatikan detail perbedaan karena makna yang hadir akan berbeda.

"Seperti paes pengantin putri, busana kain jawa dan aksesoris yang dikenakan kedua pengantin, beberapa diantaranya bermakna kesucian, kehormatan, persatuan, dan harapan kebahagiaan. Keseluruhan pernikahan Paes Ageng Kanigaran menampilkan pernikahan yang berkesan mewah, gagah, bijaksana dan agung," kata Rostantri.



Sumber: BeritaSatu.com