Miliki Indikasi Geografis, MPIG Harap Perajin Tenun Ikat Sikka Lebih Sejahtera

Miliki Indikasi Geografis, MPIG Harap Perajin Tenun Ikat Sikka Lebih Sejahtera
kika: Fajar Sulaeman T selaku Kasubdit Indikasi Geografis, Fathlurachman selaku Direktur Merek dan Indikasi Geografis, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM dan Waty Suhadi selaku Direktur Eksekutif Sahabat Cipta saat konfrensi pers “Tenun Ikat Sikka Auction & Marketplace 2019” di Jakarta, Kamis, (7/2). ( Foto: istimewa / - )
Mashud Toarik / MT Kamis, 7 Februari 2019 | 14:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com –Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Tenun Ikat Sikka bersama dengan Yayasan Sahabat Cipta akan menggelar eksibisi, lelang, dan penjualan Tenun Ikat Sikka, pada tanggal 15-17 Februari 2019.

Kegiatan ini merupakan upaya dalam melestarikan dan mempromosikan Tenun Ikat Sikka, yang merupakan karya seni budaya kain tradisional Indonesia bernilai tinggi yang berasal dari wilayah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Acara yang digelar di Hotel Atlet Century, Jakarta tersebut didukung oleh Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Pemerintah Provinsi NTT, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pariwisata, Pemerintah Swiss melalui Proyek Indonesian-Swiss Intellectual Property (ISIP), dan Ford Foundation.

“Acara ini juga merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan World Intellectual Property Day yang diadakan setiap tahun pada tanggal 26 April,” ujar Direktur Eksekutif Sahabat Cipta, Dollaris Riauaty (Waty) Suhadi di Jakarta, Kamis, (7/2).

Untuk diketahui, Tenun Ikat Sikka telah dilindungi kekayaan intelektualnya melalui Indikasi Geografis dengan sertifikat ID G 000000056 yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM pada tanggal 8 Maret 2017, dan menjadi tenun ikat yang pertama di Indonesia yang memperoleh perlindungan hukum kekayaan intelektual.

“Pemerintah Indonesia mendorong pendaftaran kekayaan intelektual untuk produk-produk asli Indonesia yang memiliki kekhasan dan keunikan karena kondisi geografisnya,” ujar Fathlurachman, Direktur Merek dan Indikasi Geografis, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM.

Tujuannya imbuh Fathul, adalah untuk meningkatkan daya saing produk yang bersertifikat Indikasi Geografis sedemikian rupa sehingga memberi dampak pada peningkatan harga jual produk yang akhirnya akan meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan masyarakat penenun dan pelaku kreatif Tenun Ikat Sikka, serta untuk pelestarian lingkungan, dengan memproduksi Tenun Ikat Sikka yang menggunakan bahan alam.

Hingga kini, terdapat 74 produk Indikasi Geografis Indonesia yang telah mendapat perlindungan melalui sertifikat Indikasi Geografis termasuk Tenun Ikat Sikka.

Sementara Ketua MPIG Tenun Ikat Sikka, Oscar Mandalangi Pareira mengatakan dengan penggunaan label Indikasi Geografis, para pembeli atau pemilik produk Tenun Ikat Sikka memperoleh jaminan kualitas, keaslian, dan ketelusuran produk. Ini merupakan nilai tambah bagi dunia usaha kain tradisional Indonesia.

“Selain untuk promosi, acara yang bertajuk “Tenun Ikat Sikka Auction & Marketplace 2019” ini bertujuan untuk menghimpun dana guna menguatkan MPIG Tenun Ikat Sikka agar dapat memberikan pelayanan kepada para penenun dan pelaku kreatif Tenun Ikat Sikka, sehingga bisa memastikan keberlanjutan usaha, pelestarian, dan regenerasi penenun,” paparnya.

Regenerasi dalam melestarikan Tenun Ikat Sikka dinilai mengkhawatirkan lantaran para pemuda tampaknya kurang tertarik jadi perajin, lantaran penghasilan penenun dianggap minim. Karena itu dengan gencar mempromosikan Tenun Ikat Sikka diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan penenun yang pada akhirnya mengundang minat pemuda.

“Saat ini pemintal benang kebanyakan berusia di atas 60 tahun, sementara penenunnya banyak di atas 50 tahun. Sementara pemuda-pemudinya lebih tertarik bekerja formal karena menjadi perajin dinilai kurang menjanjikan,” ujar Waty Suhadi.

Adapun rangkaian acara “Tenun Ikat Sikka Auction & Marketplace 2019” akan diisi dengan lelang kain Tenun Ikat Sikka bernilai tinggi, demo pembuatan tenun, pameran kain berusia tua, flashmob Goyang Maumere, penjualan kain dan selendang Tenun Ikat Sikka dengan motif yang dilindungi yang sebagian besar menggunakan pewarna alam, serta pameran dan penjualan produk fashion (baju, tas, dan asesories lainnya) yang terbuat dari bahan Tenun Ikat Sikka.

“Selama 3 hari, pencinta, kolektor, dan penggiat wastra tenun Indonesia serta masyarakat luas berkesempatan untuk mendapatkan kain dan produk fashion Tenun Ikat Sikka dengan beragam motif yang cantik dengan cerita dan filosofi yang terkandung didalamnya,” pungkas Waty Suhadi.



CLOSE