2.800 Koleksi Daur Ulang Meriahkan JFW 2020

2.800 Koleksi Daur Ulang Meriahkan JFW 2020
Puluhan desainer lokal yang akan meramaikan pekan mode terbesar di Asia Tenggara, Jakarta Fashion Week 2020, berfoto bersama usai jumpa pers di Senayan City, Jakarta, Rabu 2 Oktober 2010. ( Foto: SP/Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Kamis, 3 Oktober 2019 | 15:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pekan mode terbesar di Asia Tenggara, Jakarta Fashion Week (JFW) 2020 siap dihelat, 19-25 Oktober 2019. Sampai detik ini, komite JFW 2020 akan menampilkan 76 show dari 240 label dan desainer, baik nasional maupun internasional.

Direktur JFW di Jakarta, Lenni Tedja mengatakan, tahun ini JFW menjanjikan lebih dari 2.800 koleksi terbaru dengan berbagai tema yang beragam. Menurutnya, jumlah desainer dan koleksi yang akan ditampilkan mendatang meningkat 16% dibandingkan JFW tahun lalu.

"Beberapa desainer yang akan berpartisipasi adalah desainer dari program Indonesia Fashion Forward. Tiap desainer nantinya menampilkan koleksi yang segar dan sesuai dengan visi misi yang mengedepankan Indonesia. Salah satunya dengan memperkenalkan kekayaan Nusantara dan kepedulian terhadap sustainable fashion," kata Lenni saat jumpa pers di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (2/10/2019).

Tema sustainable fashion atau fashion ramah lingkungan memang tengah digalakkan di dunia. Hal ini pun direspons dengan baik oleh para desainer lokal yang akan berlaga di panggung JFW, salah satunya label Sejauh Mata Memandang.

Pendiri Sejauh Mata Memandang Chitra Subiyakto mengatakan, dalam perhelatan JFW nanti mereka akan memberikan persembahan terbaik kepada bumi, dengan tema "Daur". Tema ini terinspirasi dari kampanye "Sejauh Mana Kamu Peduli" yang telah dimulai dari awal 2019.

Tema "Daur" terefleksi melalui pemilihan material yang digunakan, mengutamakan kesejahteraan para perajin, hingga upaya mengurangi limbah. Harapannya, label ini bisa menjadi penggerak bagi sekitarnya, untuk lebih sadar dan peduli kepada lingkungan.

"Bisa dibilang saya ini tukang kain sekaligus tukang sampah. Saya mengumpulkan setiap potongan kain sisa produksi, dan kembali dimanfaatkan untuk menjadi sebuah koleksi baru,” ungkap Chitra Subiyakto.

Chitra menjelaskan, hal ini ia lakukan mengingat industri fashion telah menjadi salah satu penyumbang limbah tekstil terbesar di dunia. Untuk itu, diperlukan solusi untuk mengurangi limbah tekstil yang menyebabkan pencemaran lingkungan.

"Bahan kain yang kami gunakan bisa hancur terurai jika sudah tidak dipakai dalam waktu yang lama. Kami mencoba mengurangi penumpukkan sampah pakaian,” jelas Chitra Subiyakto.

Hewan Liar

Semangat menjaga kelestarian lingkungan juga siap ditularkan oleh desainer muda, Albert Yanuar. Melalui koleksi dengan tema Spring Bird, dirinya menaruh perhatian penuh terhadap terganggunya habitat hewan liar di Indonesia, akibat kebakaran hutan yang sedang marak.

"Aku tidak akan menggunakan bulu hewan asli. Namun, aku akan membuat sebuah bordiran yang nantinya akan terlihat seperti bulu burung asli,” jelas Albert Yanuar.

Tidak hanya pakaian, label sepatu dan sendal PVRA juga turun tangan dalam menyuarakan isu lingkungan. Salah satu penggagas PVRA, Putri Katianda mengatakan, dalam ajang JFW nanti mereka akan memanfaatkan limbah menjadi barang indah.

"Kami mengangkat tema Change atau perubahan, di mana kami akan me-recyle limbah gelas kaca, botol minuman, botol parfum, dan juga pecahan bohlam. Kami akan daur ulang dan bentuk kembali menjadi hiasan menarik untuk koleksi nanti,” ungkap Albert Yanuar.

Selain isu lingkungan, beberapa desainer juga berusaha mengangkat isu sosial yang terjadi di dunia internasional. Salah satunya adalah, desainer muda Yosafat Dwi Kurniawan. Bekerja sama dengan brand Make Over, dirinya akan membuat koleksi kontroversi.

"Koleksi nanti saya mengambil sedikit topik kontroversi yang sedang hangat di dunia Barat tentang Cultural Appropriation. Jadi saya ingin membahas dari sudut pandang saya, orang Indonesia yang memiliki keturunan darah Tionghoa,” tutur Yosafat Dwi Kurniawan.

Dirinya bercerita, untuk mempersiapkan koleksi ini ia telah melakukan riset mendalam. Bahkan ia menelusuri sejarah saat Marco Polo menjejakkan kaki di negeri tirai bambu, hingga hingar-bingar kehidupan di panggung Hollywood.

"Saya baca sejarah, tetapi terlihat penggambarannya selalu berlebihan. Mereka (orang barat) selalu menggambarkan orang Tionghoa sebagai sosok industrialis yang berlebihan. Keresahan ini saya kemas dalam satu koleksi dengan detail-detail yang akan menyampaikan pesan ini,” jelas Yosafat Dwi Kurniawan .

Selain beberapa nama di atas, terdapat pula deretan desainer yang patut dinanti. Mereka adalah Toton, Peggy Hartanto, BYO, Major Minor, Sean Sheila, Reves Studio, Danjyo Hiyoji, Rani Hatta, Novita Yunus, Frieden'ch Herman, Bateeq, Jenahara, dan masih banyak lagi. Beberapa desainer nasional lainnya adalah Oscar Lawalata, Natalia Kiantoro, Rama Dauhan, Diniira, dan seterusnya.



Sumber: Suara Pembaruan