Pecinta Wastra Asia Tenggara Berkumpul di Yogyakarta

Pecinta Wastra Asia Tenggara Berkumpul di Yogyakarta
Ketua Panitia Penyelenggara, Gusti Kanjeng Ratu Hemas resmi membuka perhelatan akbar Simposium Wastra ASEAN Ke-7 (7th ASEAN Traditional Textile Symposium) di Yogyakarta, Selasa (5/11/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Indah Handayani )
Indah Handayani / FER Selasa, 5 November 2019 | 15:35 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Para pecinta wastra di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam Yayasan Tradisional Textiles Arts Society of South East Asia (TTASSEA) berkumpul dalam ajang simposium dua tahunan bagi pemerhati wastra se-Asia Tenggara dengan tajuk 7th Asean Traditional Textile Symposium (ASEANTTS) 2019 di Yogyakarta, pada 5-8 November 2019.

Baca Juga: Batik Impor Ancam Kelestarian Batik Asli Indonesia

Simposium yang digelar kali kedua di Indonesia ini dan mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengambil tema "Merangkul Perubahan, Menghormati Tradisi". Selain para pecinta wastra dari negara-negara ASEAN, hadir pula berbagai mitra TTASSEA yang berasal dari Amerika Serikat, Australia, India, Kanada, Korea, Rusia, Selandia Baru, Tiongkok, dan Eropa.

 GKR Hemas resmi membuka perhelatan akbar simposium Wastra ASEAN ke-7 di Yogyakarta.

Baca Juga: Eksotis Motif Batik Madura di Wastra Nusantara

Ketua Panitia Penyelenggara ASEANTTS, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, mengatakan, sejak diprakarsai pada 2009 hingga saat ini, TTASSEA atau masyarakat Wastra Asia Tenggara telah mengalami berbagai perkembangan yang signifikan. Perkembangan itu meliputi segi sumber daya manusia, komunikasi internasional, dan hubungan kerjasama internasional.

"Oleh karena itu, ajang ASEANTTS ketujuh ini sangat penting bagi masyarakat, terutama bagi mahasiswa desain dan tekstil, pelaku wastra, peneliti wastra di perguruan tinggi, pecinta wastra AsianTenggara, dan pemerhati budaya, khususnya budaya material," ungkap GKR Hemas di sela pembukaan ASEANTTS di Yogyakarta, Selasa (5/10/2019).

Baca Juga: Semangat Kartini dalam Balutan Wastra Nusantara

Tidak hanya itu, lanjut GKR Hemas, ASEANTTS tidak hanya menyediakan panggung untuk saling berbagi pengetahuan dan mengupayakan jalinan persahabatan wastra. "Kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kolaborasi kalangan akademis, pelaku bisnis, dan pelaku wastra di lapangan," tandas GKR Hemas.

Kepala Sub Direktorat Warisan Budaya TakBenda (WBTB), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Binsar Simanullang, menambahkan, melalui ASEANTTS diharapkan dapat mendorong akademisi, pengrajin, kolektor, dan pelaku industri tekstil tradisional untuk secara aktif mencari solusi bagi isu-isu pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan kain tradisional.

"Serta, menumbuhkan rasa saling menghormati dan membentuk kerjasama yang kuat diantara komunitas wastra di wilayah ASEAN dan dunia," jelas Binsar.

Dalam simposium yang diikuti oleh 200 peserta ini, dihadirkan pula 26 peserta yang terdiri dari pelaku usaha kecil dan menengah telah dipilih dan memamerkan produk tekstil mereka di Pendopo Royal Ambarukmo dan ruang Pendopo Ndalem Ageng di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

 



Sumber: Investor Daily