Pesona Tenun Ikat Dayak Iban Terancam Punahnya Tanaman Pewarna

Pesona Tenun Ikat Dayak Iban Terancam Punahnya Tanaman Pewarna
Perancang busana Yurita Puji (tengah) mengenalkan koleksi busana tenun ikat Dayak Iban koleksi (Foto: ist / ist)
Mardiana Makmun / MAR Minggu, 1 Desember 2019 | 13:57 WIB

JAKARTA, Beritasatu.com - Memperkenalkan keindahan tenun ikat Dayak Iban, Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASSPUK) dan perancang busana Yurita Puji menggelar fashion show pada acara Perhutanan Sosial Nusantara (Pesona), yang diselenggarakan di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, pekan lalu.

Koleksi Yurita Puji menggunakan kain-kain tenun ikat Dayak Iban. Tenun Ikat Dayak Iban merupakan salah satu identitas seni budaya Suku Dayak Iban. Suku Iban merupakan salah satu dari dua Suku Dayak yang masih mempertahankan tradisi membuat tenun. Sebagian besar aktivitas menenun di Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat dilakukan oleh perempuan Dayak Iban.

Penenun Perempuan Dayak Iban percaya bahwa tenun bukan hanya sekedar bernilai ekonomi tinggi tetapi juga syarat dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyang mereka terdahulu. Hal ini terwujud melalui tata cara mereka bertenun dengan menghormati alam yang terdapat pada motif-motif unik yang menggambarkan kepercayaan dan penghormatan kepada kehidupan.

Umumnya tenun ikat Suku Dayak bermotif dasar naga, tanaman, manusia (orang-orangan), sungai, atau perpaduan beberapa motif tersebut dalam selembar kain tenun. Dan mereka mengetahui juga bahwa nenek moyang mereka menggunakan tanaman yang ada di sekitar rumah dan hutan untuk mewarnai benang, kain, dan produk kerajinan lainnya.

"Tanaman pewarna yang termasuk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) merupakan salah satu hasil alam yang dimanfaatkan oleh penenun Perempuan Dayak IBan di Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat menjadi pewarna alami tenun,” kata perancang busana Yurita Puji.

Yurita mengungkapkan, beberapa jenis tanaman pewarna HHBK yang biasa dimanfaatkan adalah “tarum padi/rengat (Indigofera arrecta), tarum daun lebar/rengat (Indigofera marsdeniatinctoria), Marek/Jangau (Symplocos cerasifolia), Engkerebai (Psychotria viridiflora), Engkerbai Laut (Un Indent), Empait (Un indent), Mengkudu Kayu (Morinda citrifolia)," papar Yurita.

Sayangnya, produksi tenun dengan pewarna alam terancam berkurang. Ini karena meluasnya perambahan dan alih fungsi hutan saat ini, membuat semakin sempitnya ketersediaan tanaman-tanaman penghasil warna alami yang sangat diperlukan oleh perempuan penenun. Selain itu, persoalan lainnya adalah masuknya industri benang sintetis menjadi alasan kuat perempuan penenun beralih dari praktek menenun dengan pewarna alam yang lebih ramah lingkungan ke pola menenun yang menggunakan bahan pewarna sintetis yang potensial merusak kesehatan dan lingkungan.

Oleh sebab itu, Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK) bersama Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan Yayasan Kehati melalui Program Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bertekad agar kelompok perempuan penenun dapat melakukan konservasi tanaman HHBK sebagai bahan pewarna alami tenun Dayak Iban untuk melestarikan dan menjamin keberlanjutan produksi tenun dengan bahan pewarna alami. Program ini dilaksanakan di kawasan Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan di lima desa yaitu Desa Mensiau, Lanjak Deras, Labian, Sungai Abau, dan Manua Sadap.

ASPPUK dan TFCA Kalimantan Yayasan Kehati juga membantu mempromosikan hasil karya tenun ikat kelompok penenun perempuan Dayak Iban dengan membuka pasar lokal, nasional, regional di tingkat ASEAN dan internasional mendukung melalui pameran-pameran, workshop, dan fashion show.

Selain fashion show di acara Pesona tersebut, ASPPUK yang bekerja sama dengan Desainer Yurita Puji dengan mengikuti fashion show New York Fashion Week (NYFW) 2017 dan Jakarta Fashion Week (JFW) 2017.



Sumber: Investor Daily