Gesits Raih Karya Startup Paling Inspiratif di ISS 2019

Gesits Raih Karya Startup Paling Inspiratif di ISS 2019
Pengunjung mengamati motor listrik karya anak bangsa Gesits di ISS 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Ari Supriyati Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / FER Rabu, 10 April 2019 | 20:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Motor listrik Gesits digadang-gadang menjadi motor listrik pertama buatan anak bangsa. Inovasi yang dilahirkan lewat startup yang didanai Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) ini bahkan akan mengaspal pada bulan Mei 2019.

Bahkan dalam temu akbar startup Indonesia di Indonesia Startup Summit (ISS) 2019 di JI Expo, Kemayoran Jakarta, Gesits menjadi satu dari lima karya paling inspiratif.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, sempat mencoba mengendarai dan menjajal kehandalan Gesits. Nasir mengatakan, dalam event motor show 2019, Gesits akan ditampilkan. Motor listrik ini menjadi motor buatan asli anak bangsa.

"Dari sisi harga pun kompetitif. April 2019 produksi massal dan Mei 2019 pemasarannya," kata Menristekdikti di sela-sela temu akbar startup di ISS, Jakarta, Rabu (10/4/2019).

Diperkirakan, dalam sebulan pabrikan Gesits mampu memproduksi 5.000 unit motor listrik atau 60.000 unit per tahun. Untuk sementara fokus pemasaran di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi karena dinilai paling siap dalam penyiapan stasiun pengisian bahan bakarnya.

"Waktu pengisian baterai bisa mencapai 3 jam, kita bekerja sama dengan Pertamina dan PLN. Listrik yang dihasilkan pun diharapkan dari bahan renewable energi," ucap Nasir.

Gesits adalah motor karya Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang diproduksi massal oleh PT Wijaya Karya (Wika). Gesits juga mampu melaju 60-100 km per jam.

Selain Gesits, empat karya startup paling inspiratif lainnya adalah Compac Motorcycle, Aruna Indonesia, Katalis Merah Putih dan Kapal Pelat Datar.

Sejak tahun 2015, Kemristekdikti masif mendorong startup anak bangsa berkembang dengan baik dan keluar dari lembah kematian alias ditolak atau tak laku di pasar.

Bahkan di tahun 2019 ini jumlah startup yang didampingi Kemristekdikti mencapai 1.307. Jumlah ini meningkat tajam, dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di tahun 2015, startup atau perusahaan pemula berbasis teknologi (PPBT) asuhan Kemristekdikti ada 54, tahun 2016 ada 207, tahun 2017 ada 665 dan tahun 2018 ada 926. Pendanaannya pun mencapai Rp 400 miliar di 2019. Satu startup yang lolos seleksi akan didanai Rp 250-500 juta dan diberi pendampingan untuk dihubungkan ke industri serta pengguna.

"Dalam pendampingan mulai dari produksi, izin sampai dengan pasarnya kita dorong," ucap Nasir.

Dari jumlah 1.307 startup di 2019 sebanyak 558 merupakan PPBT dan sisanya masih calon PPBT. "Ini lompatan luar biasa. Daya saingnya akan kita tingkatkan dalam riset dan teknologi," tandas NASIR.

Menristekdikti menjelaskan, dengan kemajuan inovasi teknologi maka suatu bangsa dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang dimilikinya secara efektif dan efisien serta memberikan nilai tambah pada produk teknologi. Selain itu juga berkontribusi signifikan terhadap perekonomian.



Sumber: Suara Pembaruan