Yamaha Musik Bantu Anak-anak Pengungsi di Hope Learning Center

Yamaha Musik Bantu Anak-anak Pengungsi di Hope Learning Center
Yamaha Musik Indonesia melaksanakan program Music Time untuk pengungsi di Hope Learning Center, Cisarua Jawa Barat, Kamis (23/1/2020). ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Kamis, 23 Januari 2020 | 21:19 WIB

Cisarua, Beritasatu.com - Berdasarkan data UNHCR, terdapat lebih dari 14.000 pengungsi dan pencari suaka di Indonesia yang menunggu kepastian untuk mendapatkan tempat tinggal permanen.

Yamaha Musik Turut Donasi Korban Gempa Sulteng

Sebagian dari anak-anak pengungsi tersebut, mendapatkan program pendidikan dari Hope Learning Center (HCL), yang berlokasi di Cisarua Jawa Barat.

HCL memberikan pelajaran bermusik kepada sekitar 120 pengungsi anak-anak yang berasal dari Afghanistan, Pakistan, Iran, Iraq, Yaman, dan Ethiopia.

Melalui program Music Time, Yamaha Musik Indonesia Distributor (YMID) dan Hope Learning Center (HLC) memberikan bantuan kepada sekitar 120 anak-anak pengungsi, untuk belajar bermain musik.

Dwiki Dharmawan Jadikan Alquran Sumber Inspirasi

Presiden Direktur Yamaha Musik Indonesia Distributor, Shinichi Takenaga, mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk sedikit meringankan beban para pengungsi.

“Istri Duta Besar AS di Indonesia, Mei Chou Donovan, yang memberi tahu saya tentang kesempatan ini. Saya bersyukur dapat membantu karena yakin melalui musik, anak−anak di pengungsian ini paling tidak dapat merasa gembira dan bahagia,” ujar Shinichi Takenaga dalam keterangan persnya kepada Beritasatu.com, Kamis (23/1/2020).

Takenaga menambahkan, berkat lebih dari 45 tahun pengalaman pada pendidikan musik di Indonesia, Yamaha telah membuat program serupa di banyak sekolah negeri maupun swasta di Indonesia, dan mampu meningkatkan Hope Learning Center dalam menyediakan lingkungan belajar yang lebih baik.

Pertama di Dunia, Yamaha Luncurkan Seri PSR Terbaru

"Mengajar musik merupakan hal baru bagi kebanyakan guru di Hope Learning Center. Bahkan bagi anak-anak di sana, banyak dari mereka yang belum pernah melihat alat musik sebelumnya. Jadi kami menyusun kurikulum yang sederhana tapi mampu membuat para guru bisa mengajar musik," kata Takenaga.

Direktur Hope Learning Center, Naweed Aieen, mengatakan, program Music Time mencakup seminar untuk para guru dan donasi instrumen seperti pianika, gitar, dan alat perekam atau recorder.

"Karena musik penting bagi hidup kita dan merupakan makanan bagi jiwa, kami berencana memasukkan musik dalam kurikulum sekolah kami pada tahun 2020. Selain itu, kami juga berencana membuat departemen khusus musik. Sehingga, langkah ini membutuhkan guru musik profesional yang harus lulus workshop dan seminar. Kami berharap dapat berkolaborasi dengan Yamaha untuk jangka waktu lama," kata Naweed Aieen.



Sumber: BeritaSatu.com