Ini Sikap Megawati soal Dinasti Politik

Ini Sikap Megawati soal Dinasti Politik
Ketua Umum PDI Perjuanagn Megawati Soekarnoputri ( Foto: Istimewa )
Markus Junianto Sihaloho Senin, 21 Oktober 2013 | 16:02 WIB

Jakarta - Wacana politik dinasti belakangan mengemuka secara masif pasca ditangkapkan Tubagus Chaeri Wardana, anggota keluarga Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah.

Semakin panas lagi karena Pemerintah, melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri), mendorong pembatasan politik dinasti melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Bagi Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri, masalah dinasti politik merupakan hal sensitif bagi dirinya. Karena sering kali isu itu dimanfaatkan pihak tertentu untuk memanas-manasi hubungan anak-anaknya yang terjun ke dunia politik.

Yang dia maksud tentunya Puan Maharani dan Prananda Prabowo, dua tokoh muda yang kini aktif di PDIP.

"Di politik ini sekarang semua dimainkan. Di antara dua anak saya. Itu nanti dibilang dinasti pula," kata Megawati di Jakarta, Senin (21/10).

Dia lalu mengingatkan bahwa sebaiknya soal dinasti politik itu sendiri, tak langsung ditanggapi secara negatif. Karena terbukti banyak dinasti politik di dunia yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dia mengambil contoh klan politik keluarga Kennedy di AS.

Anak pertama keluarga itu, Patrick Kennedy, disiapkan untuk menjadi calon presiden AS. Namun, ketika perang dunia berkecamuk, keluarga melepasnya ke medan pertempuran dan akhirnya meninggal di sana.

Akhirnya, diajukan lah John F.Kennedy, adik dari Patrick, yang akhirnya terpilih sebagai Presiden AS.

"Dan dia jadi presiden AS yang begitu bagus. Karena pada zamannya, perbedaan ras yang muncul dia lawan. Akhirnya dia ditembak mati, karena banyak orang Amerika yang saat itu belum bisa menerima perbedaan ras," jelas Megawati.

"Tapi jelas, Obama takkan jadi presiden saat ini kalau tak ada Kennedy dengan kebijakan antiperbedaan ras," katanya lagi.

Dari situ, Megawati menekankan, bahwa yang bermasalah adalah bukan politik dinastinya, namun kapasitas dan elektabilitas dari si tokoh.

"Seharusnya yang dilihat bukan dinastinya, tapi orang-orang di keluarga itu, apa benar mumpuni berpolitik? Kita lihat Gandhi. Bayangkan Nehru masuk keluar penjara, diteruskan oleh Indira Gandhi yang ditembak mati. Lalu ada Sanjay dan Rajiv yang juga dihabisi," jelasnya.

Hanya saja, Megawati juga mengakui, praktik dinasti politik di Indonesia memang masih ada penyimpangan. Karena orang-orang yang terlibat di dalam dinasti itu memang belum kapabel dan cenderung rakus.

"Kalau keluarga itu hanya berpikir soal proyek, dan proyeknya itu mencapai berapa banyak, saya tak setuju sekali. Masalahnya, kan cuma saya yang kritik itu. Ayo sekarang, siapa yang berani juga," jelasnya.