3 Pelaku Pariwisata Seks Anak Via "Webcam" Tinggal di Indonesia

3 Pelaku Pariwisata Seks Anak Via
Contoh percakapan "predator" atau pelaku Pariwisata Seks Anak Melalui Webcam dengan sosok virtual Sweetie. (Foto: istimewa)
Herman Kamis, 7 November 2013 | 16:45 WIB

Jakarta - Terre des Hommes Netherlands, organisasi berbasis hak anak berhasil mengidentifikasi beberapa  "predator" atau pelaku praktik Pariwisata Seks Anak Melalui Webcam (Webcam Child Sex Tourism/WCST).

Hasil penelitian dari empat peneliti mereka dalam waktu dua bulan telah berhasil mengidentifikasi lebih dari 1000 pelaku dari lebih dari 65 negara.

"Praktik kekerasan seksual anak melalui webcam ini telah melibatkan puluhan ribu anak-anak sebagai korban. Khusus di Asia Tenggara, anak-anak Filipina adalah yang paling sering menjadi korban," kata Hanneke Oudkerk, Regional Programme Adviser Terre des Hommes Netherlands - Southeast Asia saat ditemui di kantornya di Jakarta, Kamis (7/11).

Dari seribuan pelaku yang berhasil diidentifikasi masing-masing berasal dari: USA 224 pelaku, Inggris 110 pelaku, India 103 pelaku, Canada 54 pelaku, Australia 46 pelaku, Indonesia 3 pelaku, dan dari beberapa negara lainnya.

Sudaryanto, Country Manager Indonesia, Terre des Hommes Netherlands-Southeast Asia mengaku prihatin dengan masuknya Indonesia sebagai salah satu negara asal predator WCST. "Fakta ini cukup mencengangkan, dan ini sebetulnya fenomena gunung es. Yang dipaparkan sekarang baru pucuk dari gunung es. Permasalahan sebenarnya biasa jadi lebih memprihatinkan lagi," kata dia.

Sudaryanto menambahkan, apa yang terjadi di Filipina sebetulnya sedikit berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Di negara kita, praktik kekerasan seksual lebih banyak terjadi lewat media sosial online, seperti Facebook atau penggunaan smartphones dengan fitur Blackberry Messenger.

"Anak-anak sangat rentan mengalami eksploitasi seksual saat mereka menggunakan media sosial. Menurut data Komnas Perlindungan Anak, ada 31 kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi sepanjang Januari sampai Februari 2013 lewat media online, atau 37,3% dari total kasus kekerasan seksual terhadap anak," papar Sudaryanto.

Dalam penelitian tentang Pariwisata Seks Anak Melalui Webcam (Webcam Child Sex Tourism/WCST), empat peneliti dari Terre des Hommes Netherlands menggunakan pendekatan novel approach, yaitu sebuah metode yang menggunakan animasi 3D (tiga dimensi) dengan menciptakan tokoh animasi anak Filipina, yang disebut “Sweetie”.

Karakter virtual "Sweetie" dikendalikan oleh para peneliti Terre des Hommes Netherlands saat beroperasi di public chat rooms (ruang bincang publik melalui internet). Dalam kurun waktu yang relatif singkat, lebih dari 20.000 predator dari seluruh dunia mendekati karakter virtual "Sweetie" dan memintanya untuk melakukan aksi seksual melalui webcam. Padahal mereka tahu kalau usia Sweetie masih 10 tahun.

Pada saat "predator" atau pelaku berinteraksi dengan Sweetie, para peneliti mengumpulkan informasi melalui media sosial untuk membuka samaran para predator tersebut dengan mencari identitas mereka. "Para pelaku dengan suka rela membuka identitas mereka saat diminta oleh Sweetie," papar Hanneke.

Hasil penelitian ini juga sudah diserahterimakan kepada pihak Interpol pada tanggal 4 November 2013, pukul 15.00 CET (Central European Time) untuk mengambil tindakan lebih lanjut.