Industri Kreatif, Kunci Sukses Indonesia Hadapi MEA 2015

Industri Kreatif, Kunci Sukses Indonesia Hadapi MEA 2015
Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Foto: Beritasatu.com/Kharina Triananda )
Ridho Syukro Selasa, 18 Maret 2014 | 17:23 WIB

Jakarta - Salah satu strategi yang harus diterapkan agar Indonesia bisa unggul dalam Masyarakat Ekonomi Asean pada 2015 adalah meningkatkan standar dan kompetensi pekerja yang bergerak di sektor industri kreatif.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu mengatakan, ada banyak contoh sektor yang merupakan bagian dari industri kreatif seperti desain grafis dan fashion. Menurutnya, industri kreatif tidak akan berkembang apabila pekerjanya tidak berkompetensi. Maka itu, target utama yang harus dicapai pemerintah sebelum MEA adalah meningkatkan kompetensi para pekerja di industri kreatif.

Jika pekerja di industri kreatif sudah mempunyai kompetensi, maka secara tidak langsung industri manufaktur di dalam negeri mempunyai daya saing tidak hanya dari segi harga tetapi juga nilai tambah.

"Kami targetkan industri kreatif menjadi kekuatan utama Indonesia di MEA," ujar Mari dalam acara "Seminar Asian Development Bank (ADB) mengenai MEA" di Auditorium CSIS, Jakarta, Selasa (18/3).

Mari mengatakan, strategi lain yang harus diterapkan agar Indonesia bisa unggul di MEA adalah meningkatkan kinerja sektor pariwisata. Menurut dia, sepanjang periode 2005-2012 sektor pariwisata tumbuh rata rata 8,3% per tahun bahkan pada 2013 arus kunjungan wisata sudah mencapai 92,7 juta atau meningkat 12% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam beberapa tahun terakhir kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional semakin besar, ketika penerimaan ekspor turun tajam akibat kondisi global yang tidak menentu, sektor pariwisata justru menunjukkan tanda tanda positif.

Menurut dia pada 2013, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB mencapai 9%, penyerapan tenaga kerja juga mencapai 10,18 juta orang atau 8,9% dari total jumlah pekerja.

"Sektor pariwisata merupakan sektor pencipta tenaga kerja terbesar di Indonesia," ujar dia

Marie mengatakan sektor pariwisata juga menjadi penyumbang devisa terbesar kepada negara dengan total devisa mencapai US$ 100 miliar pada 2013.

Dia menuturkan agar sektor pariwisata bisa unggul dan berdaya saing maka Kemparekraf telah meningkatkan aspek kualitas SDM-nya.

Sepanjang tahun 2013 Kemparekraf melakukan sertifikasi 58.627 tenaga kerja pariwisata, juga membentuk standarisasi untuk pelaku industri seperti hotel, ada sembilan standar usaha yang diberlakukan yaitu aspek pengelolaan lingkungan, efisiensi penggunaan energi dan air, dampak terhadap komunitas di lokasi hotel, dan penggunaan bahan baku dan suplai dalam negeri.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Lingkungan Hidup dan perubahan Iklim Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Shinta Kamdhani mengatakan, kesiapan Indonesia dalam menghadapi MEA masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara Asean lainnya.

Menurut dia berdasarkan hasil survei yang dilakukan kalangan pengusaha, kesiapan Indonesia dalam menghadapi MEA masih 20%.

Shinta mengatakan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Indonesia agar bisa berdaya saing dalam MEA, pekerjaan rumah tersebut adalah memberikan sosialisasi secara mendalam dan meningkatkan kualitas SDM dan pembangunan.

Dia mengatakan, sosialisasi mengenai MEA hanya diterima perusahaan perusahaan besar saja, banyak perusahaan kecil yang belum mendapatkan sosialisasi mengenai apa itu MEA, hal inilah yang harus didorong pemerintah.

Ia juga berharap kualitas SDM juga terus ditingkatkan agar Indonesia bisa menjadi basis produksi bukan hanya sekedar menjadi market basis.

Dalam kesempatan yang sama, Senior Economist Asian Development Bank (ADB) Edimon Ginting mengatakan potensi Indonesia dalam menguasai MEA cukup besar karena penduduk Indonesia paling banyak, namun satu hal yang harus dibereskan adalah menurunkan biaya logistik.

Menurut dia biaya logistik di Indonesia cukup tinggi sehingga bisa menghambat pertumbuhan iklim investasi.

Cara menurunkan biaya logistik adalah dengan meningkatkan pembangunan infrastruktur baik itu Bandara maupun pelabuhan. Dia mengatakan pemerintah bisa memperkuat kerjasama dengan swasta untuk membangun infrastruktur.

Dia menjelaskan pembangunan infrastruktur tidak hanya dari sisi visualnya saja tetapi juga dari soft sidenya seperti financing dan planning yang jelas.

Edimon mengatakan selain meningkatkan pembangunan infrastruktur, Indonesia juga harus meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan untuk menciptakan kualitas SDM yang andal.

Sumber: Investor Daily