Jadikan Soeharto Pahlawan, Prabowo Lakukan Dagelan

Jadikan Soeharto Pahlawan, Prabowo Lakukan Dagelan
Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar (kanan) didampingi Kepala Biro Penelitian Chrisbiantoro, memberi keterangan pers terkait mekanisme pemilihan calon Kapolri di Kantor Kontras, Jakarta, Minggu, (13/10). ( Foto: ANTARA FOTO / Reno Esnir )
Erwin C Sihombing Jumat, 6 Juni 2014 | 16:44 WIB

Jakarta - Koordinator Kontras Haris Azhar menuduh Prabowo Subianto lakukan dagelan dengan melontarkan niatnya jika nanti terpilih sebagai Presiden RI ke-7 bakal mengangkat mantan Presiden Soeharto sebagai pahlawan nasional.

“Pernyataan Prabowo bahwa akan menjadikan Soeharto sebagai pahlawan berarti, sikap ini ambigu karena diberbagai pernyataan lain Prabowo menyatakan dia melakukan sejumlah tindakan pada 1998 karena atas perintah Soeharto. Sekarang malah mau menjadikannya sebagai Pahlawan," kata Haris, di Jakarta, Jumat (6/6).

Menurutnya, jika memang Prabowo nanti terpilih sebagai presiden maka, yang bersangkutan sepatutnya melaksanakan amanat TAP MPR untuk memeriksa Soeharto dan kroni-kroninya terkait dugaan korupsi, kolusi, dan nepotissme.

“Ini belum tuntas, salah satunya karena Soeharto keburu meninggal. Tapi yang pasti kroni-kroninya belum diperiksa. Seharusnya upaya pemeriksaan ini yang dilakukan, bukan justru menjadikan pahlawan,” jelasnya.

Dagelan lain yang dipertontonkan Prabowo keberadaan Amien Rais yang menyokong pasangan Prabowo-Hatta Rajasa. Sikap Amien justru dipertanyakan karena yang bersangkutan menyandang predikat tokoh reformasi yang menumbangkan rezim Soeharto.

“Sekarang berkoalisi dengan Prabowo yang mau menjadikan Soeharto sebagai pahlawan. Buat saya picik sekali kalau menjadikan orde baru sebagai rujukan kenyamanan bangsa karena ukurannya bukan sekedar harga-harga stabil tapi ada banyak aspek lainnya, misalnya soal kemanusiaan. dahulu banyak kejahatan kemanusiaan. Bagi yang rindu orde baru mereka tidak mengamalkan sila kedua Pancasila,” katanya.

Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos mengatakan, janji Prabowo Subianto untuk memperjuangkan Soeharto menjadi pahlawan nasional, hanya untuk meneguhkan capres yang diusung enam partai itu. Artinya, Prabowo mempertegas dirinya merupakan bagian dari orde baru.

Dirinya meyakini, retorika dan janji yang diucapkan Prabowo sebagai janji politiknya hanya kedok. Sebab, Bonar yakin, jika nantinya Prabowo terpilih justru mantan Danjen Kopassus itu bakal menghidupkan kembali keuatan orde baru.

Bonar juga sepakat dengan pernyataan mantan Kepala BIN AM Hendropriyono yang menilai Prabowo sosok yang labil.

“Hendropriyono yang mengatakan Prabowo adalah sosok yang labil, tentu didasarkan pada pengalaman dia di ketentaraan melihat temperamen Prabowo ketika mengambil keputusan. Jadi wajar kalau, Hendropriyono menganalisa perilaku Prabowo seperti itu,” ujarnya.

Sumber: Suara Pembaruan