Ketua Komisi II DPR Akui Pelaksanaan Pileg 2014 Buruk

Ketua Komisi II DPR Akui Pelaksanaan Pileg 2014 Buruk
Ketua Komisi II DPR Agun Gunandjar Sudarsa ( Foto: ANTARA FOTO / Widodo S Jusuf )
Markus Junianto Sihaloho Rabu, 25 Juni 2014 | 13:19 WIB

Jakarta - Ketua Komisi II DPR, Agun Gunandjar Sudarsa, mengakui bahwa pemilu legislatif 2014, di dalam pelaksanaannya, adalah yang terburuk sepanjang pelaksanaan pemilu di Indonesia.

Agun mengatakan bahwa komisinya merupakan alat kelengkapan dewan yang paling bertanggung jawab dari sisi parlemen terkait mekanisme pemilu.

"Pileg lalu, kami berkesimpulan adalah pemilu terburuk sepanjang tahun. Praktik-praktik yang kami rancang di mana penyelenggaranya itu bebas dari parpol agar menjamin independensinya. Dalam praktiknya, proses pemungutan suara tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ini fakta-fakta yang tidak rasional," kata Agun saat dialog Pimpinan DPR, Dewan Pers, dan pimpinan redaksi sejumlah media massa, di Jakarta, Rabu (25/6).

Karena itu, ke depan, Agun berjanji pihaknya tidak akan berpangku tangan. Dia juga mengharapkan dukungan semua pihak agar bisa menjamin kelangsungan demokrasi Indonesia untuk lima tahun mendatang.

"Media massa menjadi sangat menentukan. Kami berharap ada langkah-langkah yang tidak hanya dibebankan kepada parlemen tapi juga media massa," kata Agun.

"Jadi mohon pengawasan terhadap penghitungan suara."

Walau demikian, dia juga mendesak agar para lembaga negara yang terkait pemilu juga bisa bergerak cepat, khususnya dalam menuntaskan kasus-kasus terkait kampanye hitam.

Pemerintah, katanya, seharusnya juga langsung menugaskan polisi dan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk mencari otak di balik kampanye hitam.

Pimpinan DPR RI hari ini mengundang sejumlah pimpinan media massa dan Dewan Pers untuk membicarakan cara untuk melaksanakan pemilu damai, bebas, rahasia, jujur, dan adil sesuai amanat Konstitusi.

Hadir dalam pertemuan ini yakni Ketua Dewan Pers Bagir Manan, bersama sejumlah pimpinan redaksi media massa. Di antaranya Primus Dorimulu dari BeritaSatu Media Holdings, Nurjaman Mochtar dari SCTV/Indosiar, Sudirman Bonaparte dari RRI, Eddy Suprapto dari RCTI dan juga perwakilan dari Universitas Indonesia.