Petani Lombok Utara Terbelit Sistem Ijon
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Petani Lombok Utara Terbelit Sistem Ijon

Kamis, 11 September 2014 | 22:29 WIB
Oleh : YUD

Mataram - Para petani di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, hingga saat ini masih terbelit sistem ijon demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

"Petani terpaksa menjual hasil usahanya sebelum masa panen kepada para tengkulak karena butuh dana untuk kebutuhan sehari-hari," kata Syafruddin, salah seorang petani asal Desa Mumbul Sari, Kabupaten Lombok Utara, di Mataram, Kamis (11/9).

Menurut peternak lebah madu ini para petani di desanya sulit keluar dari cengkeraman para tengkulak yang menawarkan dana tunai dengan bunga relatif tinggi karena tidak ada lembaga lain yang bisa membantu mereka.

"Sistem ijon ini sepertinya sudah menjadi tradisi yang sulit untuk dihilangkan, meski petani rugi karena harus menjual hasil panennya kepada tengkulak dengan setengah harga dari yang seharusnya," kata Syafrudin saat ditemui di sela-sela acara pasar lelang komoditas agro yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB.

Hal senada juga diutarakan Awan, petani sekaligus pengelola hutan kemasyarakatan di Kabupaten Lombok Utara, yang mengatakan sistem ijon masih merajalela sehingga membuat kesejahteraan petani sulit terangkat.

Keuntungan besar hanya diperoleh para tengkulak yang memberikan pinjaman modal dengan syarat pengembalian yang tidak adil.

"Lihat saja para tengkulak kaya-kaya. Tapi mau bagaimana lagi, petani seakan terbiasa dengan hal itu demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari," ujarnya.

Ia mengatakan, para petani memang sudah membentuk semacam kelembagaan berupa kelompok tani. Bahkan ada yang sudah membuat koperasi, namun tidak mempan menjadi benteng dari pengaruh tengkulak yang menawarkan ijon.

Kelompok tani yang dibentuk menghimpun dana iuran wajib setiap bulan, namun nilainya terbatas untuk diputar kepada anggota dalam rangka memenuhi biaya usaha tani dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Demikian juga halnya juga dengan lembaga koperasi. Para anggota dan pengurus tidak begitu saling percaya dalam mengelola dana, sehingga asas koperasi tidak begitu berjalan efektif.

"Pengurus koperasi terkadang berat mengucurkan pinjaman karena jika petani diberi pinjam uang, sulit kembalinya. Tapi kalau petani pakai ijon mereka mau," kata Awan.

Upaya untuk mengakses kredit usaha rakyat (KUR), kata dia, juga terkendala pada minimnya pengetahuan petani.

"Kalau mengakses KUR atas nama kelompok tidak bisa. Harus atas nama individu. Jadi kami berharap pemerintah, terutama Bank Indonesia berperan memecahkan masalah ini," ujar Awan.

Koordinator World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Regional Nusa Tenggara Ridha Hakim juga mengakui bahwa para petani, khususnya di pinggir kawasan hutan, masih terbelit dengan sistem ijon.

Menurutnya, kelompok-kelompok masyarakat pengelola HKm di NTB, belum mampu membentuk semacam kelembagaan yang kuat dari sisi penghimpunan modal sehingga tidak lagi terjerat dengan tengkulak.

"Perlu semacam gerakan untuk membentuk skema kelembagaan kelompok yang kuat untuk mengatasi masalah permodalan," ujar Ridha.

Sumber: Antara


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Kelebihan Muatan, Polisi dan Jasa Marga Tilang 320 Kendaraan

Sebagian besar dari kendaraan yang dikenai sanksi tilang adalah kendaraan yang termasuk dalam golongan 4, yakni truk dengan empat gandar dan sejenisnya.

NASIONAL | 11 September 2014

Anas Dituntut Bayar Uang Pengganti Rp 94 Miliar dan US$ 5 Juta

Jika harta yang disita dan dilelang tidak mencukupi uang pengganti, Anas akan dikenakan pidana penjara empat tahun.

NASIONAL | 11 September 2014

Kejagung Sisakan Satu Tersangka Kemag

Sebab satu orang tersangka yakni, Direktur CV Pudak Zainal Arief statusnya tidak jelas.

NASIONAL | 11 September 2014

Diduga TPPU, Jaksa Minta Aset dan Harta Anas Dirampas

Salah satu harta yang diminta dirampas tersebut adalah rumah Anas di Duren Sawit, Jakarta Timur.

NASIONAL | 11 September 2014

Jokowi Berguru Soal Pemerintahan ke Tony Blair

"Dia cerita banyak, mulai menyiapkan proses pemerintahan hingga empat strategi dalam menjalankan pemerintahan baru."

NASIONAL | 11 September 2014

Tersangka Transjakarta Kembalikan Uang Rp 6 M

Uang tersebut diserahkan tersangka Budi Susanto kepada Kejaksaan Agung.

NASIONAL | 11 September 2014

Golkar Setuju Pemilihan melalui DPRD Kurangi Politik Uang

Anggota DPRD lebih mudah dipantau dan mudahkan pengawasan praktek politik uang.

NASIONAL | 11 September 2014

SBY Perintahkan Menteri KIB II Kembalikan Seluruh Fasilitas Negara

Menteri KIB II wajib meninggalkan rumah dinasnya, paling lambat tanggal 20 Oktober.

NASIONAL | 11 September 2014

PDI-P Tolak Pembahasan Tatib DPR

Sebelum ada keputusan dari MK mengenai UU MD3, Fraksi PDI-P menolak rancangan tatib DPR dibahas ke tingkat paripurna.

NASIONAL | 11 September 2014

Jaksa KPK Tuntut Cabut Hak Politik Anas

Hak dipilih dalam jabatan publik Anas Urbaningrum pun dituntut untuk dicabut.

NASIONAL | 11 September 2014


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS