Gagal "Nyalon" Ketum PPP, Ini Alasan Epyardi Asda

Gagal
Suryadharma Ali tak kuasa membendung air mata setelah membacakan laporan pertanggungjawaban di Muktamar PPP, Jumat (31/10) ( Foto: Suara Pembaruan/HIZ )
Hiz Jumat, 31 Oktober 2014 | 23:17 WIB

Jakarta - Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Epyardi Asda tiba-tiba tidak jadi mengikuti pencalonan ketua umum (ketum) PPP periode 2014-2019.

Alasannya, kata Epyardi, disebabkan oleh situasi PPP saat ini yang masing-masing kubu tetap ngotot terhadap posisi masing-masing.

"Saya awalnya mau maju, tapi lihat situasi ini tak akan maju. Alasannya, melihat partai yang seperti ini. Silahkan yang nafsu ambil. Saya enggak tega ambil," katanya di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (31/10).

Siapa pun yang nantinya memimpin PPP, anggota DPR itu, mengharapkan, tidak menampilkan egonya sehingga islah antara dua kubu mencapai titik temu.

"Lihatlah teman-teman di daerah. Setelah muktamar, duduk keduanya (kubu). Asal mereka mau membuka diri," imbuhnya.

Sebenarnya, sebelum ada muktamar masing-masing kubu, dia berharap ada islah terlebih dahulu. Namun, kubu Romahurmuziy pun telah mengantongi Surat Keputusan dari Menteri Hukum dan HAM (Menkumham). Dia khawatir PPP tidak juga mencapai islah.

"Tapi kita sadar juga mereka sudah disahkan Menkumham. Akhirnya dualisme kepemimpinan dan akan ribut terus kita," imbuhnya.

Seperti yang diketahui, sebelumnya Epyardi berencana mencalonkan dirinya sebagai ketua umum PPP periode 2014-2019. Keinginannya ini mendapat hadangan ancaman Pergantian Antar Waktu (PAW) dari DPP yang dipimpin Romi.

Sumber: Suara Pembaruan