Hanya Ada 4 Kebun Binatang Layak di Indonesia

Hanya Ada 4 Kebun Binatang Layak di Indonesia
Direkrur Gunma Safari Park, Kunihiko (kanan) melakukan penanaman pohon dalam acara penghijauan di Kawasan Afrika, Taman Safari Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (7/2). ( Foto: Beritasatu.com/Vento Saudale )
Vento Saudale / CAH Minggu, 8 Februari 2015 | 00:22 WIB

Pasuruan - Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Kementerian Kehutanan, Bambang Dahono Adji menilai hanya ada empat dari 58 kebun binatang di Indonesia yang dalam kondisi layak. Pemerintah bisa mencabut izin kebun binatang bila terakreditasi buruk.

Bambang mengatakan, dari 58 kebun binatang yang berada di Indonesia baru 29 yang terakreditasi.

"Dari 29 baru ada 4 Kebun binatang yang mendapat peringkat A atau dalam kategori layak, selebihnya peringkat B (kurang layak) dan C (buruk)," kata Bambang  saat acara penanaman pohon di Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (7/2).

Disebutnya keempat kebun binatang yang mempunyai peringkat A yakni Taman Safari Cisarua di Jawa Barat, Taman Safari Pasuruan - Jawa Timur, Taman Safari di Gianyar- Bali, dan Sea Wold Ancol di Jakarta. Akreditasi akan diberikan setiap lima tahun sekali oleh perwakilan pemerintah, dokter hewan dan pemerhati hewan.

"Kita terus evaluasi, apakah akreditasi tersebut naik atau turun. Bisa saja, dulu mendapat peringat bagus, namun tahun berikutnya turun. Dan bagi peringat C lalu tidak ada perubahan maka Kemhut akan merekomendasikan pencabutan izin operasional," lanjutnya.

Bambang mengakui, bila hampir semua kebun binatang yang dikelola pemerintah tidak ada yang peringkat layak. Ia pun mengatakan, sejauh ini pemerintah pusat terus melakukan pelatihan terhadap sumber daya manusianya, serta memberikan intensif bagi kebun binatang yang memang memerlukan tambahan anggaran dan yang terpenting pada 2016 seluruh kebun bintang di Indonesia bisa terakreditasi.

Sementara, Sekjen Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia Tony Sumampau menambahkan, bila indikator penilaian akreditasi meliputi diantaranya terkait kesejahteraan satwa (kesehatan, kandang, makanan), ketersediaan sumber daya manusia (dokter, pelatih), sarana dan prasarana (klinik hewan).

"Bila di kebun binatang ada peristiwa satwa yang mati maka akreditasi kebun binatang tersebut buruk," tambahnya.