Pemkab Sleman Dorong Petani Salak Lakukan Inovasi

Pemkab Sleman Dorong Petani Salak Lakukan Inovasi
Ilustrasi petani salak. ( Foto: yogyakarta.panduanwisata )
Jumat, 3 April 2015 | 13:56 WIB

Sleman - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong kalangan petani salak di daerah ini untuk berinovasi dengan meningkatkan nilai jual dari komoditi itu.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman Edi Sriharmanto mengatakan luas lahan salak di Sleman mencapai 2.500 hektare dan tidak akan ada lagi perluasan lahan.

"Kami berupaya mendorong perbaikan kualitas produksi dibandingkan menambah luas untuk meningkatkan hasilnya. Jika pohon-pohon itu sudah tua dan perlu diregenerasi, ya harus dipotong dan dirobohkan. Biar nanti tumbuh yang baru," katanya di Sleman, Jumat (3/4).

Menurut dia, tidak adanya perluasan lahan perkebunan salak pondoh salah satu alasannya untuk menjaga kestabilan lingkungan.

"Lahan di wilayah Sleman bagian timur, seperti Depok, Kalasan, dan Prambanan dikhususkan untuk tanaman padi. Kemudian, di tengah, seperti Turi dan Tempel untuk salak. Kalau salak tidak bisa untuk resapan air, sehingga agar air tetap bisa terjaga, maka luas lahan salak tidak ditambah," katanya.

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Tanaman Pangan dan Hortikultura DPPK Kabupaten Sleman Ananta mengatakan inovasi pembuatan salak jenis baru sudah berlangsung dari sebelumnya Kabupaten Sleman hanya dikenal dengan salak lokal, salak pondoh, dan salak pondoh super saat ini sudah muncul jenis lain.

"Seperti salak madu probo yang sudah didaftarkan di Kementerian Pertanian untuk mendapatkan label hak paten. Kemudian, ada jenis salak gading dan salak manggala. Untuk salak gading dan manggala belum didaftarkan hak patennya," katanya.

Ananta mengatakan pembuatan salak jenis baru ini salah satunya dengan cara penyilangan perkawinan. "Penyerbukannya disilang," ujarnya.

Ia mengatakan dengan adanya inovasi seperti ini, maka salak di Sleman diharapkan mempunyai nilai tambah yang lebih dibanding daerah-daerah lain, apalagi untuk jumlah produksi selama ini dirasa sudah mencukupi. Baik untuk memenuhi pasar lokal maupun diekspor.

"Setiap tahunnya hasil produksi petani dalam satu rumpun yang berisi dua hingga tiga pohon salak, menghasilkan enam kilogram, bahkan beberapa tahun terakhir ini ada peningkatan bisa sampai delapan hingga sembilan kilogram," katanya.

Sumber: Antara